Wali Kota Bandung Muhammad Farhan membeberkan temuan saat sidak ke wilayah Saritem, Kecamatan Andir, Kota Bandung. Di lokasi itu, Farhan menemukan 19 rumah yang masih digunakan sebagai tempat prostitusi.
Meskipun kemudian, rumah tersebut sudah ditutup setelah Farhan sidak ke lokasi. DPRD Kota Bandung pun turut menyoroti temuan itu supaya jadi pembenahan pihak terkait ke depannya.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Bandung Iman Lestariyono mengatakan, masalah di Saritem selama ini kerap dipandang sebagai fenomena kucing-kucingan. Menurutnya, kondisi ini harus jadi evaluasi untuk dibenahi Pemkot Bandung secara serius.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah ini satu sisi pukulan evaluasi bagi kita ya, dengan visi Bandung Utama ini kan salah satunya agamis ya gitu. Secara agama melanggar, secara kesehatan juga berisiko dan secara aturan Perda juga jelas," katanya kepada detikJabar, Selasa (13/10/2026).
Iman mendorong supaya penegakan hukum tak hanya menyasar mucikari hingga pelanggan semata. Wanita tuna susila juga dia dorong bisa mendapat sanksi agar menimbulkan efek jera.
"Yang masih lemah itu dalam tanda kutip ya, seolah-olah si PSK-nya itu masih dianggap sebagai korban. Nah kalau saya kan harus dilihat dulu gitu, karena bagaimanapun juga kalau anak-anak, ya mereka perlakuannya khusus ya. Kalau dewasa ya secara agama mereka sudah dewasa, sudah bisa menentukan nasibnya," ungkapnya.
"Jadi tidak bisa orang dewasa itu ketika melakukan kesalahan lalu dilakukan pembiaran. Karena istilahnya juga mereka sudah punya akal, sudah punya pikiran, mengetahui batasan-batasan hukum baik secara agama, moral, kesehatan. Ya saya pikir juga harus dibuat efek jera gitu ya apalagi penyedianya, fasilitatornya," tambahnya.
Iman pun mendorong supaya pengawasan sosial harus diperketat. Pemerintah semata kata dia, tidak bakal mampu untuk menuntaskan pengawasan tersebut secara keseluruhan.
"Intinya sih memang harus dibangun rasa kepedulian dulu dari semua lapisan masyarakat. Jangan sampai kejadian-kejadian ini ya ada tanpa disadari di sekitar kita. Contohnya kasus Taufik Hidayat kan, kalau masyarakat kita yang cenderung egois, cenderung tidak peduli, itu juga menjadi salah satu penyebab kemaksiatan, kejahatan terjadi di sekitar kita. Nah yang harus dibangun kebersamaan itu. Makanya tadi saya bilang multidimensi ini penanganannya," ujarnya.
Menutup perbincangannya, Iman mendorong agar pengawasan kejadian itu harus dimulai dari tingkat RT di kewilayahan. Setelah itu, edukasi untuk warga harus digencarkan supaya semuanya punya rasa kepedulian yang sama.
"Kalau sama tenaga Pak Wali enggak akan kuat, Pak Wali kan punya staf ya, punya bawahan yang menyentuh kepada lingkup sampai ke terkecil ya unit RT atau RW. Kemudian edukasinya tadi gitu ya edukasinya tentang bahaya secara kesehatan, dosa secara agama gitu kan tidak berkah," katanya.
"Kemudian dinas yang lain melihat apa sebab dan akibatnya gitu. Apakah mungkin mereka itu faktor kemiskinan yang menyebabkan itu, berarti urusan lapangan pekerjaan, urusan pendidikan yang memang terputus dan harus dijahit kembali. Nah dinas-dinas yang lain melihat sebab akibatnya juga apa secara eh holistik, dan ini yang bisa yang bisa memikirkan itu ini semua ya leading top leader-nya Pak Wali ya nanti dengan bawahan dan masyarakat sebagai salah satu unsur pentahelik kolaborasi pasti juga punya peran yang signifikan," pungkasnya.
(ral/sud)
