Astanaanyar merupakan salah satu kawasan di Kota Bandung. Selain kawasan padat penduduk hingga sentra bisnis lokal, kawasan ini juga menawarkan 'surga' barang bekas.
Di sana, pemandangan berubah menjadi deretan lapak yang menghampar di trotoar, menawarkan sensasi belanja yang berbeda yaitu berburu barang bekas.
Trotoar ini seolah menjadi museum terbuka bagi segala macam benda. Mulai dari jajaran sound system lintas zaman atau dari yang antik hingga model terkini hingga tumpukan kunci perkakas yang biasa dicari para montir untuk urusan mesin. Tak ketinggalan, perabotan dapur, barang elektronik, hingga pernak-pernik aksesori rumah berserakan menunggu pemilik baru.
Jika jeli, pengunjung bisa menemukan mesin jahit tua, pompa air, timbangan, bahkan kursi roda dan tabung gas. Di sudut lain, sepatu, pakaian, hingga mainan anak juga turut meramaikan pasar tumpah ini.
Suasana di sana tampak hidup. Deretan motor terparkir tepat di depan lapak, sementara pemiliknya sibuk membungkuk, memilah-milah barang di antara tumpukan barang loak.
Ikhsan, pemuda asal Buahbatu jadi salah satu pelanggan pasar loak Astanaanyar. Dia sengaja datang demi sebuah misi kecil, mencari aksesori pintu.
"Lagi cari gagang pintu yang terbuat dari kuningan, kalau lagi beruntung pasti dapat. Tadi udah puter-puter tapi dapatnya cuman sebelah, butuhnya yang sepasang," kata pria berumur 26 tahun itu.
Selain gagang pintu, ia juga menenteng sebuah lampu pijar yang kondisinya meragukan. Namun bagi pemburu barang loak, ada kepuasan tersendiri dalam sebuah spekulasi.
"Beli lampu juga, kondisinya mati, tapi dicoba saja deh, mudah-mudahan bisa nyala," ujarnya.
Bagi Ikhsan, belanja di Astanaanyar bukan sekadar transaksi biasa, melainkan adu ketajaman insting. Ia menekankan bahwa pembeli tidak boleh datang tanpa bekal pengetahuan yang cukup.
"Harus paham barang, paham harga, jangan sampai kemahalan, namanya juga barang bekas," ungkapnya.
Tak jauh dari sana, Melati (27) juga terlihat asyik mengais di antara tumpukan barang. Ia datang khusus untuk mencari mainan-mainan unik yang punya nilai estetika tersendiri.
"Tadi abis cari mainan, buat dipajang saja," kata Melati.
Bagi Melati, kunci utama menaklukkan pasar loak Astanaanyar adalah keteguhan hati saat bernegosiasi. Pengetahuan tentang merek menjadi senjata utama agar mendapatkan harga terbaik.
"Pokonya tawar sampai jadi. Terus juga harus tahu merk, biar untung," ujarnya.
Bagi sebagian orang, barang-barang di sini mungkin hanya tumpukan benda usang. Namun bagi pemburu seperti Melati, setiap sudut lapak menyimpan potensi, baik untuk koleksi pribadi maupun peluang bisnis.
"Barang-barang yang saya beli buat dipajang aja, tapi ada juga yang sengaja hunting buat dijual lagi," pungkasnya.
Simak Video "Video: Kementerian UMKM Siapkan Transisi Pedagang Thrifting ke Produk Lokal"
(wip/dir)