Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Isyana Bagoes Oka, mendapati fakta langsung mengenai kondisi sanitasi warga di pelosok Kabupaten Sukabumi. Saat meninjau program penurunan stunting di Desa Gede Pangrango, Kecamatan Kadudampit, Isyana menyoroti masih ditemukannya warga yang membuang hajat di jamban cemplung atau yang akrab disebut sebagai jamban "helikopter", yakni jamban yang langsung mengarah ke empang atau kolam ikan di bawahnya.
Kondisi tersebut langsung direspons melalui kolaborasi program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) dengan perusahaan swasta (Astra). Alih-alih hanya memberikan edukasi, intervensi kali ini langsung diwujudkan dengan membangun fasilitas jamban yang layak bagi keluarga berisiko stunting.
"Tujuannya untuk apa? Agar mereka, kalau kita lihat tadi sendiri bahwa mereka buang air besarnya kan masih di jamban 'helikopter' begitu ya, yang langsung ke empang, kemudian langsung di sana dan di sana juga mereka mandi," ujar Isyana kepada awak media di lokasi, Jumat (9/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Isyana menjelaskan, sanitasi yang buruk dan kebiasaan hidup yang kurang bersih memicu siklus kesehatan yang buruk bagi anak-anak. Jika balita sering sakit akibat infeksi dari lingkungan yang tidak higienis, berat badan anak akan turun, yang kemudian membuat mereka semakin rentan terserang penyakit berulang.
"Kalau mereka lebih sering sakit, kemungkinan infeksi akan lebih tinggi, dan pada saat infeksi lebih tinggi, pasti nanti berat badan akan lebih cenderung turun. Pada saat turun, drop kesehatannya, kemungkinan untuk infeksi lagi juga akan makin tinggi, sehingga nanti menjadi sebuah siklus yang tidak baik tentu saja untuk pencegahan stunting," jelasnya.
Dalam upaya menekan angka stunting, Isyana menegaskan bahwa pemerintah membagi langkah penanganan menjadi dua kategori utama, yakni intervensi spesifik dan intervensi sensitif.
Wamendukbangga Isyana saat melakukan kunjungan kerja ke Sukabumi Foto: Siti Fatimah |
Intervensi spesifik berfokus langsung pada pemberian gizi dan makanan tambahan. Sementara itu, intervensi sensitif mencakup aspek pendukung seperti edukasi pola asuh, kampanye perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), penyediaan air bersih, hingga pembangunan fasilitas sanitasi seperti jamban layak.
Dia mengklaim, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto juga menjadi salah satu garda terdepan penanganan ini, yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Ketika disinggung mengenai prevalensi nasional, Isyana menyebut angka stunting di Indonesia pada pengukuran tahun lalu telah berada di angka 19,8 persen, turun dari sekitar 21 persen pada tahun sebelumnya. Pihaknya optimistis target penurunan ke depan dapat terus tercapai melalui kerja sama lintas sektoral.
Menjawab pertanyaan soal efisiensi anggaran pemerintah, Isyana memastikan program GENTING tidak mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Program ini dirancang berbasis kolaborasi gotong royong dengan menggandeng dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga perseorangan.
"Salah satu contohnya program GENTING ini kan nggak pakai APBN. Jadi kita mengajak semua lapisan, bukan cuma perusahaan, semua lapisan masyarakat, organisasi masyarakat, kemudian juga perseorangan pun kalau misalnya mau membantu, itu sangat bisa," pungkas Isyana.

