Ketersediaan listrik yang andal dinilai berperan penting dalam mendorong produktivitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat. Pemanfaatan listrik untuk kegiatan produktif dapat membantu meningkatkan kapasitas usaha, efisiensi produksi, hingga menciptakan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
Pengamat Kebijakan Publik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Cecep Darmawan, mengatakan keberhasilan elektrifikasi tidak cukup diukur dari bertambahnya jumlah sambungan listrik. Hal yang tak kalah penting adalah sejauh mana listrik dapat dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas produktif masyarakat dan dunia usaha.
"Ketersediaan listrik yang andal mendukung aktivitas masyarakat dan dunia usaha, sementara pendekatan Relation Business dapat membantu memastikan layanan kelistrikan semakin sesuai dengan kebutuhan pelanggan dan karakteristik setiap wilayah. Keberhasilan elektrifikasi tidak bisa hanya dilihat dari jumlah sambungan listrik," kata Cecep.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, listrik tidak hanya menjadi kebutuhan dasar, tetapi juga infrastruktur penting yang memungkinkan masyarakat dan pelaku usaha memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.
Ketika pasokan listrik tersedia secara andal, masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk menggunakan berbagai peralatan yang mendukung kegiatan ekonomi. Dampaknya dapat dirasakan di sejumlah sektor, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pertanian, hingga kegiatan perdagangan.
Listrik Andal Bantu UMKM Tingkatkan Produktivitas
Pada sektor UMKM, ketersediaan listrik dapat mendukung penggunaan mesin produksi, peralatan digital, serta perangkat penyimpanan yang membantu meningkatkan kapasitas dan efisiensi usaha.
Pemanfaatan peralatan tersebut memungkinkan pelaku usaha menjalankan proses produksi secara lebih optimal. Dengan dukungan listrik yang memadai, pelaku UMKM juga memiliki peluang untuk mengembangkan kegiatan usaha sesuai kebutuhan dan permintaan pasar.
Manfaat serupa dapat dirasakan pada sektor makanan. Pasokan listrik mendukung penggunaan mesin pendingin dan peralatan produksi untuk menjaga kualitas produk, memperpanjang masa simpan, serta meningkatkan kapasitas usaha.
Sementara itu, di sektor pertanian, listrik dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem irigasi, pengolahan pascapanen, hingga penyimpanan hasil produksi.
Cecep menilai manfaat listrik perlu dilihat dari dampaknya terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Menurutnya, listrik seharusnya mampu memberikan nilai tambah, bukan sekadar memenuhi kebutuhan penerangan.
"Listrik harus memberikan efek berganda bagi masyarakat," ujarnya.
Kebutuhan Listrik Industri dan UMKM Berbeda
Cecep menjelaskan, kebutuhan energi setiap pelanggan tidak selalu sama. Kawasan industri memiliki karakteristik kebutuhan listrik yang berbeda dengan sentra UMKM, kawasan pertanian, maupun pusat perdagangan.
Karena itu, layanan kelistrikan perlu mempertimbangkan karakteristik pelanggan dan aktivitas ekonomi di setiap wilayah. Pendekatan Relation Business dinilai dapat membantu memastikan layanan listrik semakin sesuai dengan kebutuhan tersebut.
Konteks ini relevan bagi Jawa Barat yang memiliki struktur ekonomi beragam. Provinsi ini memiliki aktivitas industri manufaktur, kawasan perdagangan, UMKM, hingga sektor usaha berbasis teknologi yang membutuhkan dukungan kelistrikan sesuai karakter masing-masing.
Pemenuhan kebutuhan energi yang tepat diharapkan dapat membantu pelaku usaha menjalankan kegiatan operasional secara lebih efektif sekaligus membuka peluang pengembangan usaha.
Salah satu contoh dukungan kelistrikan bagi pelanggan industri di Jawa Barat terlihat dari penyediaan listrik sebesar 250 megavolt ampere (MVA) oleh PLN UID Jawa Barat kepada PT Indah Kiat Pulp & Paper (IKPP) di Karawang untuk mendukung ekspansi industri.
Pasokan listrik tersebut menunjukkan pentingnya kesiapan infrastruktur kelistrikan dalam mendukung kebutuhan energi pelanggan industri yang besar.
Listrik Berpotensi Gerakkan Rantai Pasok dan Lapangan Kerja
Menurut Cecep, manfaat listrik yang mendukung peningkatan produktivitas tidak berhenti pada pelanggan yang menggunakannya secara langsung. Peningkatan kapasitas produksi dan efisiensi usaha berpotensi mendorong aktivitas ekonomi lain di sekitarnya.
Ketika usaha berkembang, kebutuhan terhadap tenaga kerja, bahan baku, distribusi, serta berbagai layanan pendukung juga dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi menciptakan efek berganda bagi masyarakat dan perekonomian daerah.
Dengan demikian, listrik dapat menjadi bagian dari ekosistem produktivitas yang mendukung pertumbuhan usaha sekaligus memperkuat hubungan antarsektor ekonomi.
Bagi Jawa Barat, dukungan kelistrikan yang andal dan sesuai kebutuhan wilayah menjadi salah satu faktor penting untuk menunjang beragam aktivitas ekonomi, mulai dari industri berskala besar hingga usaha masyarakat.
Cecep menegaskan, keberhasilan penyediaan listrik perlu dilihat dari manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat. Bukan hanya seberapa luas akses listrik tersedia, melainkan juga bagaimana listrik dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan nilai tambah ekonomi.
