Di Jalan Otto Iskandar Dinata, tidak jauh dari kawasan Lapangan Tegallega, terdapat sebuah toko buku yang telah menjadi bagian dari perjalanan literasi Bandung. Namanya Toko Buku Dahlan, yang juga dikenal masyarakat sebagai Toko Kitab Dahlan.
Selama lebih dari enam dekade, toko ini bukan hanya menjadi tempat membeli buku, tetapi juga ruang pertemuan bagi santri, ulama, pelajar, orang tua, pecinta sastra, hingga pemburu buku-buku langka.
Di tengah perubahan kebiasaan membaca dan maraknya perdagangan buku secara digital, Toko Buku Dahlan tetap mempertahankan keberadaannya. Rak-raknya menyimpan kitab keislaman, buku sekolah, karya sastra, buku sejarah, politik, humaniora, serta beragam alat tulis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberadaan toko ini memperlihatkan bahwa tradisi membaca di Bandung tidak hanya berlangsung di perpustakaan atau kampus, tetapi juga tumbuh dari toko-toko buku yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Bermula dari Usaha Fotokopi
Sejarah Toko Buku Dahlan bermula pada tahun 1962. Pada masa itu, Ali Abdullah Dahlan membuka usaha fotokopi di sebuah tempat kecil di Jalan Otto Iskandar Dinata. Usaha tersebut melayani kebutuhan masyarakat sekitar, termasuk menyalin bahan bacaan, dokumen, dan materi keagamaan.
Seiring berjalannya waktu, pelanggan mulai menanyakan ketersediaan buku serta kitab kajian Islam. Permintaan tersebut datang dari masyarakat umum, santri, dan kalangan yang aktif dalam kegiatan keagamaan. Ali Abdullah Dahlan kemudian merespons kebutuhan itu dengan mulai menyediakan buku dan kitab di tempat usahanya.
Rupanya, langkah tersebut menjadi titik awal perubahan usaha fotokopi menjadi toko buku. Permintaan yang semakin banyak membuat koleksi terus bertambah. Toko itu kemudian berpindah dan berkembang di lokasi Jalan Otto Iskandar Dinata Nomor 522, Bandung. Kisah tersebut disampaikan Rifqi Taufiq, generasi ketiga pengelola Toko Buku Dahlan, dalam penelusuran mengenai jejak literasi Bandung.
Perubahan dari usaha fotokopi menjadi toko buku menunjukkan hubungan erat antara kebutuhan masyarakat dan keberlangsungan bisnis literasi. Toko Buku Dahlan tidak dibangun semata-mata dari perencanaan dagang, tetapi tumbuh karena adanya kebutuhan nyata di masyarakat, orang-orang membutuhkan buku, kitab, dan bahan bacaan yang mudah diperoleh.
Identitas sebagai Toko Kitab
Sejak awal berdiri, Toko Buku Dahlan memiliki ciri kuat sebagai toko yang menyediakan buku-buku bertema keislaman. Koleksinya mencakup kitab fikih, tafsir, hadis, ilmu bahasa Arab, serta kitab-kitab yang umum digunakan di lingkungan pesantren.
Karena itu, toko ini kemudian dikenal pula dengan sebutan Toko Kitab Dahlan. Bagi para santri dan pengajar pesantren, nama tersebut memiliki makna tersendiri. Mereka datang bukan hanya untuk membeli buku populer, tetapi juga mencari kitab yang mendukung kegiatan belajar mengajar di pesantren.
Di antara koleksinya terdapat kitab kuning, syarah Safinah, Jurumiyah, serta kitab berbahasa Arab dan bahasa Sunda. Sebagian kitab ditulis menggunakan huruf Arab tanpa tanda vokal atau harakat, sehingga pembacanya perlu memiliki kemampuan bahasa Arab untuk memahami isinya.
Rifqi, sebagai pengelola generasi ketiga, bahkan mempelajari bahasa Arab secara lebih mendalam agar dapat memahami dan membantu memilih koleksi kitab yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
Kehadiran toko dengan koleksi semacam ini penting karena kitab-kitab pesantren tidak selalu mudah ditemukan di toko buku umum. Toko Buku Dahlan menjadi salah satu tempat yang mempertemukan kebutuhan pendidikan keagamaan dengan akses buku secara langsung.
Baca juga: 5 Rekomendasi Toko Buku Lengkap di Bandung |
Pelanggan dari Berbagai Kalangan
Walaupun dikenal sebagai toko kitab, pelanggan Toko Buku Dahlan tidak hanya berasal dari kalangan santri. Rak-raknya juga menyediakan buku dengan tema sastra, politik, sejarah, humaniora, dan pendidikan. Terdapat pula buku-buku sastra Sunda yang diterbitkan oleh penerbit lokal.
Pada musim masuk sekolah atau tahun ajaran baru, toko ini biasanya ramai oleh orang tua yang mencari buku tulis dan alat tulis untuk anak-anak mereka. Dengan demikian, Toko Buku Dahlan memiliki dua wajah sekaligus, pertama sebagai pusat referensi keislaman, kedua sebagai toko kebutuhan pendidikan masyarakat.
Menjaga Keaslian dan Kepercayaan
Dalam menjalankan usahanya, Toko Buku Dahlan menekankan bahwa buku-buku yang dijual merupakan produk asli. Pengelola juga melakukan seleksi terhadap pemasok dan penerbit yang menawarkan koleksi. Tidak semua buku yang ditawarkan langsung diterima karena toko mempertimbangkan kesesuaian isi, kualitas, serta kebutuhan pelanggan.
Kepercayaan menjadi salah satu modal penting bagi toko buku yang telah bertahan lama. Pelanggan datang karena mengetahui bahwa mereka dapat memperoleh kitab dan buku resmi, sekaligus mendapatkan harga yang bersahabat. Sebagian koleksi bahkan dijual dengan potongan harga, sehingga menarik bagi santri, pelajar, dan pembaca yang memiliki anggaran terbatas.
Model penjualan seperti ini memperkuat posisi Toko Buku Dahlan sebagai toko buku diskon yang tetap berfokus pada kualitas koleksi. Harga terjangkau tidak berarti mengabaikan keaslian atau relevansi bahan bacaan.
Beradaptasi dengan Era Digital
Perubahan teknologi turut mempengaruhi cara masyarakat mencari dan membeli buku. Jika dahulu pelanggan mengandalkan informasi dari mulut ke mulut, kini toko buku perlu hadir melalui media sosial dan marketplace. Begitupun dengan Toko Buku Dahlan yang mulai menjajaki penjualan secara online di beberapa platform e-commerce.
Langkah tersebut tentu tidak lepas dari upaya untuk memperluas jangkauan pasar tanpa meninggalkan toko fisik. Pelanggan dari luar kota dapat mencari kitab melalui kanal digital, kemudian memesan menggunakan jasa ekspedisi. Sementara itu, pembeli di Bandung dapat memanfaatkan layanan pengantaran dalam kota.
Namun, toko fisik tetap memiliki keunggulan yang sulit digantikan oleh belanja daring. Pengunjung dapat melihat langsung kondisi buku, membaca daftar isi, membandingkan beberapa edisi, dan meminta saran kepada pengelola.
Bagi pembeli kitab, pengalaman semacam ini sangat membantu karena banyak judul memiliki kemiripan nama, tetapi berbeda penerjemah, penerbit, atau tingkat pembahasan.
(yum/yum)
