Protes Sekolah di Prancis Memanas, 488 Orang Ditangkap

Kabar Internasional

Protes Sekolah di Prancis Memanas, 488 Orang Ditangkap

detikNews - detikJabar
Rabu, 07 Okt 2026 13:30 WIB
French high school students gather outside the Lycee Sophie Germain high school as part of nationwide protests voicing anger over overcrowded classrooms, teacher shortages, and dilapidated school buildings, which students blame on years of underinvestment, in Paris, France, October 5, 2026. REUTERS/Eric Baradat
Ilustrasi demo pelajar. Foto: REUTERS/Eric Baradat
Jakarta -

Puluhan ribu orang turun ke jalan di berbagai wilayah Prancis untuk memprotes buruknya kondisi sekolah. Aksi tersebut berujung bentrokan sporadis dan menyebabkan ratusan orang ditangkap serta puluhan aparat keamanan terluka.

Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat sedikitnya 488 orang ditangkap dalam aksi pada Selasa. Sebanyak 43 anggota aparat keamanan juga terluka dalam rangkaian demonstrasi tersebut.

Dilansir AFP, Rabu (7/10/2026), sebagian besar aksi berlangsung damai. Namun, bentrokan sporadis terjadi di sejumlah wilayah ketika pengunjuk rasa melemparkan benda ke arah aparat keamanan. Polisi kemudian merespons dengan menembakkan gas air mata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Situasi memanas menjelang larut malam di Place de la Nation, Paris timur. Para pengunjuk rasa dan aparat keamanan terlibat aksi saling berhadapan dalam suasana tegang.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, aksi utama di ibu kota Prancis mulai mereda. Namun, massa belum sepenuhnya membubarkan diri.

Sejak pekan lalu, aparat telah menangkap sedikitnya 6.547 orang terkait rangkaian aksi protes tersebut. Kementerian Dalam Negeri Prancis sebelumnya mencatat sekitar 256.000 orang turun ke jalan di seluruh negeri pada Selasa.

PM Prancis Bantah Perintahkan Aparat Bertindak Represif

Aksi protes yang melibatkan puluhan ribu pelajar di berbagai wilayah Prancis juga diwarnai kekerasan. Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mentoleransi tindakan tersebut.

"Membakar gedung sekolah tidak memperbaiki kondisi bangunan sekolah. Menyerang guru tidak membantu menggantikan posisi guru," kata Lecornu di hadapan parlemen, dilansir AFP, Selasa (6/10).

Lecornu juga membantah tudingan bahwa pemerintah memerintahkan polisi melakukan tindakan represif terhadap demonstran.

"Sebuah kebohongan," tegasnya.

Namun, partai sayap kiri France Unbowed (LFI) bersama sejumlah kelompok hak asasi manusia menuding polisi bertindak tidak proporsional terhadap para pengunjuk rasa. Mereka menyoroti banyaknya demonstran yang masih berusia di bawah umur.

Menanggapi insiden yang menyebabkan sejumlah siswa mengalami cedera, Lecornu mengakui bahwa "kecelakaan" bisa saja terjadi.

Di sisi lain, Lecornu menuduh LFI, partai sayap kiri terbesar di parlemen, memiliki agenda politik untuk menjerumuskan Prancis ke dalam kekacauan menjelang pemilihan presiden 2027.

Lecornu juga mengumumkan bahwa kegiatan belajar-mengajar formal di sekolah menengah atas (SMA) ditiadakan selama sisa pekan ini.

Kebijakan tersebut bertujuan memberikan kesempatan kepada kepala sekolah, guru, dan siswa untuk menjalankan "demokrasi internal" guna membahas kondisi di sekolah masing-masing.

Baca berita selengkapnya di detikNews.

(fas/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads