Pemandangan berbeda tersaji di Stasiun Sukabumi pada perayaan Hari Batik Nasional, Jumat (2/10/2026). Calon penumpang kereta api dan masyarakat yang melintas tidak hanya disibukkan dengan aktivitas perjalanan, tetapi juga disuguhkan pengalaman interaktif melihat langsung proses pembuatan batik oleh Batik Lokatmala.
Selain demo membatik, suasana stasiun juga semakin hidup dengan alunan musik angklung persembahan Dinas Perhubungan Kota Sukabumi. Perpaduan antara edukasi seni membatik dan alunan musik tradisional ini sukses menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelintas di area stasiun.
Salah seorang penumpang tujuan Bogor, Rina (29), mengaku terkejut sekaligus senang mendapati suasana stasiun yang jauh lebih semarak dari hari-hari biasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biasanya kan kalau ke stasiun suasananya tegang atau buru-buru, tapi tadi sempat lihat proses membatik dan dengar angklung jadi berasa santai. Seru juga bisa lihat langsung cara bikin batik di tengah perjalanan," ujarnya saat ditemui di stasiun.
Hal senada diungkapkan oleh Ahmad (42), warga Sukabumi yang sedang mengantar keluarganya. Menurutnya, inisiatif menghadirkan pertunjukan budaya di ruang publik seperti stasiun adalah langkah yang sangat positif bagi generasi muda.
"Bagus banget ya, jadi penumpang yang nunggu kereta nggak bosen. Sekaligus bisa ngajak anak-anak kenal budaya lokal secara langsung," tuturnya.
Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, menjelaskan bahwa kegiatan ini dihadirkan sebagai wujud apresiasi nyata KAI terhadap kelestarian warisan budaya Nusantara.
"Melalui momentum Hari Batik Nasional, pelanggan yang berada di Stasiun Sukabumi dapat melihat secara langsung bagaimana proses membatik dilakukan. Di sisi lain, para petugas frontliner di wilayah kerja Daop 1 Jakarta juga turut mengenakan batik dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan," ujar Franoto.
Nuansa Hari Batik Nasional ini tidak hanya terpusat di Sukabumi. Seluruh petugas frontliner di wilayah kerja KAI Daop 1 Jakarta, mulai dari petugas loket, boarding, hingga prama dan prami, tampak kompak mengenakan busana batik saat melayani para pelanggan setianya.
Franoto menilai, stasiun kereta api masa kini bukan sekadar tempat naik dan turun penumpang, melainkan ruang publik strategis yang mempertemukan berbagai kalangan masyarakat. Pihaknya pun membuka ruang lebar bagi kolaborasi kegiatan positif yang mengangkat nilai-nilai budaya lokal.
"Stasiun merupakan ruang yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Karena itu, kami menyambut baik kegiatan yang dapat memberikan nilai tambah sekaligus menjadi sarana untuk mengenalkan dan melestarikan budaya Indonesia kepada masyarakat," tambahnya.
Melalui perayaan Hari Batik Nasional tahun ini, pihaknya mengajak masyarakat luas untuk terus bangga mengenakan, mengenalkan, dan merawat identitas bangsa dari generasi ke generasi.
"Semoga batik terus tumbuh, berkembang, dan semakin dekat dengan kehidupan masyarakat dari generasi ke generasi," tutup Franoto.
