Legenda Mak Kosah, Jejak Pengobatan Ternak dengan Nasi Aron

Legenda Mak Kosah, Jejak Pengobatan Ternak dengan Nasi Aron

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Jumat, 02 Okt 2026 14:04 WIB
Ilustrasi Legenda Mak Kosah di Sukabumi (dibuat dengan AI)
Foto: Istimewa
Sukabumi -

Kabut tipis kerap turun perlahan menyelimuti pematang sawah di pelosok selatan Sukabumi. Empat dekade silam, di era 1980-an ketika aspal mulus dan deru kendaraan belum akrab menyapa telinga, Kampung Cibuntu di Desa Buniwangi, Kecamatan Surade, hidup dalam ritme yang sunyi sekaligus bersahaja.

Hewan ternak seperti sapi, kerbau penarik bajak, maupun kambing bukan sekadar piaraan pengisi kandang belakang rumah, melainkan urat nadi ekonomi dan tabungan masa depan warga.

Maka, ketika seekor sapi mendadak ambruk atau borok bernanah mulai menggerogoti kakinya hingga tak sanggup berdiri, kepanikan langsung menyergap sang pemilik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kala itu, jangankan dokter hewan, mantri ternak berseragam dinas pun masih berupa sosok langka yang keberadaannya bagai pungguk merindukan bulan. Membawa hewan sakit berpuluh kilometer melintasi jalanan berbatu menuju kota kecamatan jelas sebuah kemustahilan.

Di tengah kebuntuan dan kepasrahan para pemilik ternak itulah, satu nama kerap terucap di beranda rumah panggung, ia adalah Mak Kosah.

ADVERTISEMENT

Perempuan paruh baya itu menjadi tumpuan harapan tatkala nalar dan keterbatasan sarana membentur tembok tebal.

Yang membuatnya melegenda di seantero kampung bukanlah ramuan daun pahit yang digerus halus, melainkan sebuah metode yang hingga kini masih mengundang tanda tanya besar jika ditakar menggunakan kacamata medis modern, yakni mengobati luka membusuk dari jarak jauh.

Saksi hidup masa keemasan praktik tersebut, Anas (62), masih merekam jelas bagaimana warga silih berganti mengetuk pintu rumah Mak Kosah dengan wajah pucat membawa kabar duka dari kandang mereka.

"Misalnya sapi terkena borok di bagian kaki. Sapinya sama sekali tidak dibawa ke Mak Kosah. Jalannya jauh, hewannya juga sakit kan susah jalan. Cukup si pemilik datang sendiri, lalu memberitahukan bagian mana tubuh hewannya yang sakit," ungkap Anas saat mengenang kembali masa lalu di teras rumahnya.

Keunikan tak berhenti di situ. Sebagai syarat, pemilik ternak diwajibkan membawa segenggam nasi aron, beras yang ditanak setengah matang lalu dikeringkan, panganan tradisional yang lazim di dapur Sunda tempo dulu.

Begitu nasi aron berpindah ke tangan Mak Kosah, sebuah prosesi yang tampak ganjil namun khidmat pun dimulai. Bukan pada hewan sakit yang berada bermil jauhnya di kandang, Mak Kosah justru memanggil salah seorang anak atau cucunya sendiri yang sedang berada di dalam rumah.

"Setelah itu, Mak Kosah mengoleskan nasi aron tersebut ke bagian tubuh anak atau cucunya, bukan ke sapi yang sakit. Kalau sapinya luka di kaki kiri, ya kaki kiri anaknya yang diolesi. Sambil bibirnya membaca mantra-mantra tertentu, pelan sekali suaranya," kenang Anas, matanya menerawang membayangkan adegan puluhan tahun silam.

Anak atau cucu Mak Kosah yang dijadikan perantara tak pernah mengeluh sakit ataupun tertular infeksi. Justru keajaiban sering kali menyusul beberapa hari berselang. Pemilik ternak yang pulang ke kandang mendapati borok pada sapi atau kerbaunya berangsur kering, lalat tak lagi mengerubung, dan hewan yang semula tergolek lemas perlahan bisa kembali menjejak tanah.

Kabar dari mulut ke mulut pun menggelinding cepat bagai bola salju. Mak Kosah menjelma menjadi figur penyelamat ekonomi keluarga petani di pelosok Surade, menjembatani ketiadaan akses medis dengan laku tradisi yang sarat misteri.

"Dulu itu belum serba ada seperti sekarang. Kalau ternak borokan sampai parah, pilihannya cuma mati atau disembelih rugi. Warga bingung harus berobat ke mana. Makanya hampir semua lari meminta bantuan Mak Kosah," sambung Anas.

Roda zaman terus berputar, dan batas usia manusia pun ada akhirnya. Pada 2013, Mak Kosah mengembuskan napas terakhirnya. Kampung Cibuntu berduka, melepas kepergian sang perawat ternak gaib yang namanya kadung terpatri di ingatan kolektif masyarakat. Seiring kepergiannya, sebagian besar rahasia rapalan doa dan metode nasi aron itu terkubur bersama jasadnya di liang lahat.

Namun, desas-desus di kalangan warga menyebutkan bahwa ada secuil kemampuan almarhumah yang merembes ke darah keturunannya, jatuh kepada Yayah (57), anak perempuan ketiga Mak Kosah.

Saat disambangi ke kediamannya di Kampung Ciranca RT 06/06, Desa Buniwangi, Yayah menyambut hangat dengan tutur kata yang sangat bersahaja. Suasana rumahnya tenang, jauh dari kesan mistis yang mungkin dibayangkan orang luar. Ketika disinggung perihal kemampuan ibunya dan rumor bahwa ia mewarisi ilmu serupa, perempuan paruh baya ini tertawa kecil seraya buru-buru merendah.

"Abdi mah teu acan kantos ngubaran sato mah, upami nulungan anu kabeureuyan atawa pepecatan leres tiasa. Tapi upami aya anu nyuhunkeun tulung mah tiasa wae (Saya sebetulnya belum pernah kalau mengobati hewan ternak. Tapi kalau menolong orang yang tersedak duri ikan atau terkilir memang betul bisa. Hanya saja, kalau memang ada orang yang benar-benar butuh bantuan ya saya coba saja sebisa saya)," tutur Yayah, Kamis (1/10/2026).

Anas sendiri membenarkan bahwa pamor praktik tersebut kini telah jauh bergeser. Ketukan di pintu rumah Yayah tak lagi seramai masa Mak Kosah berjaya dulu. Lanskap dunia peternakan di Surade telah berubah total seiring terbukanya akses jalan dan berkembangnya teknologi.

"Kalau dibandingkan dengan Mak Kosah dulu, yang datang ke Yayah memang tidak sebanyak itu. Tapi masih ada saja satu dua warga sepuh yang ingat dan datang meminta pertolongan," kata Anas.

Kini, jarum suntik antibiotik, semprotan antiseptik berwarna biru cerah, dan kehadiran petugas penyuluh dari dinas peternakan telah menjadi pemandangan biasa saat ternak warga terserang penyakit.

Logika medis, kebersihan kandang, dan pemberian pakan terukur telah menggantikan nasi aron dan mantra perantara. Pengobatan ternak kini berdiri kokoh di atas dalil ilmiah yang bisa diuji laboratorium.

Kendati demikian, bagi masyarakat Buniwangi, kisah Mak Kosah bukanlah sekadar cerita takhayul usang yang patut ditertawakan. Cerita itu adalah cermin sejarah sosial tentang bagaimana sebuah komunitas agraris di pelosok Sukabumi bertahan hidup di tengah keterisolasian masa lalu.

Ketika dunia modern belum sudi menengok nasib para peternak kampung, rasa saling percaya, kearifan lokal, dan kasih sayang seorang ibu bernama Mak Kosah lah yang menjaga harapan mereka tetap bernapas.



(sya/tya)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads