Bayang-bayang kelam kematian misterius menyelimuti wilayah Kabupaten Sukabumi dalam sepekan terakhir. Belum reda rasa geger publik atas temuan mayat pria terikat tali rafia berbalut karung dan plastik di kolong jembatan Tol Bocimi KM 69 Ciambar pada Selasa (29/9/2026), sebuah kasus kematian tak kalah mengenaskan terkuak empat hari sebelumnya di sudut permukiman lain.
Petaka itu menimpa Petrus Pallangan (74), seorang dosen asal Jalan Kolonel Masturi, Desa Citeureup, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi. Pria lanjut usia tersebut ditemukan terbujur kaku tak bernyawa di atas ranjang kamar tidurnya di Kampung Bakti RT 03 RW 01, Desa Cimahi, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jumat (25/9/2026), usai hilang kontak selama belasan hari.
Kabar maut itu bermula dari rasa gelisah Devi Aprilianti, putri korban yang tinggal di Jakarta Utara. Sejak Selasa (15/9/2026), telepon seluler sang ayah yang dihubungi berulang kali tak kunjung diangkat meski nadanya aktif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Firasat buruk kian menguat kala Devi mencoba menghubungi asisten rumah tangga berinisial AG pada Rabu (17/9/2026), namun nomor ponsel yang bersangkutan justru mendadak mati total.
Tak tahan berhari-hari dibekap cemas, Devi memutuskan menempuh perjalanan darat dari ibu kota menuju kediaman ayahnya di Cicantayan pada Jumat (25/9/2026) siang sekitar pukul 11.40 WIB. Namun, setibanya di pelataran rumah, pintu depan terkunci rapat dari dalam.
Panggilan Devi di depan pintu tak bersambut. Yang menyapa justru aroma bangkai pekat yang merembes keluar dari sela lubang ventilasi.
Melihat gelagat tak lazim, Devi segera meminta pertolongan Ketua RT setempat. Pintu depan yang terkunci dari dalam akhirnya dibongkar paksa menggunakan jasa tukang kunci dengan cara dibor.
Begitu daun pintu terkuak, pemandangan memilukan tersaji: sang dosen terbaring kaku di atas kasur dengan wajah yang sudah menghitam.
Devi membenarkan momen mencekam saat pertama kali menatap tubuh sang ayah yang telah tiada di balik kamar yang terkunci itu.
"Iya betul, saya datang ke sana dari Jakarta. Pas sampai rumah, (ayah) ya sudah nggak ada di kamar. Harapannya ya (pelaku) segera ditemukan aja," ujar Devi saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (1/10/2026).
Kematian tragis tersebut mengejutkan warga sekitar. Salah seorang warga, Ade, mengakui lingkungan sekitar awalnya tidak menduga ada peristiwa maut di dalam rumah tersebut.
"Warga di sini awalnya memang tidak curiga karena mengira rumah kosong atau korban lagi pergi ke luar kota, kan aslinya dari Cimahi. Memang korban jarang terlihat keluar beberapa hari terakhir," tutur Ade.
Kecurigaan tetangga baru pecah saat sang putri tiba dari Jakarta dan bersama pengurus lingkungan mendapati bau busuk yang menguap dari ventilasi rumah.
"Baru tahunya pas anaknya datang dari Jakarta karena nggak ada kabar. Pas dicek bareng Pak RT, baunya memang sudah sangat menusuk dari ventilasi. Begitu pintu dibor dan dibuka, ternyata korban sudah meninggal di kamar," terangnya.
Aparat kepolisian dari Polres Sukabumi langsung bergerak melakukan penyelidikan mendalam. Kasat Reskrim Polres Sukabumi Iptu Dudi Suharyana membenarkan latar belakang profesi Petrus sebagai seorang akademisi.
"Ya betul, informasi yang saya dapat demikian, almarhum seorang dosen," ujar Dudi, Kamis (1/10/2026).
Dudi menegaskan, hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) awal mendeteksi adanya aroma tindak pidana di balik kematian sang dosen, menyusul temuan kejanggalan serta raibnya barang-barang berharga di dalam rumah.
"Pihak kepolisian masih melakukan pendalaman terhadap orang-orang atau pihak-pihak yang memang terindikasi pernah berhubungan atau ada kedekatan dengan almarhum.
Dikarenakan memang dari olah TKP awal kita melihat ada satu kejanggalan-kejanggalan, termasuk ada beberapa barang yang hilang," papar Dudi.
Kini, tim penyidik tengah mempersempit ruang gerak sosok yang dicurigai memiliki kedekatan relasi dengan korban guna mencocokkan alat bukti dengan sangkaan pidana.
"Saat ini ada pihak atau orang yang memang sedang ada pendalaman khusus. Ada kemungkinan itu termasuk orang yang dekat. Kemudian kita sedang mengumpulkan bukti persesuaian antara sangkaan dengan orang dimaksud," pungkas Dudi.
Simak Video "Video 12 Jam Diperiksa, Keluarga Ungkap soal KDRT dalam Kasus Pembunuhan Cucu Mpok Nori"
[Gambas:Video 20detik] (sya/mso)
