Dari Ujungberung, Forgotten Kembali Bercerita Lewat Laras Perlaya

Dari Ujungberung, Forgotten Kembali Bercerita Lewat Laras Perlaya

Rifat Alhamidi - detikJabar
Kamis, 01 Okt 2026 19:30 WIB
Forgotten usai rilis film dokumenter Laras Perlaya.
Forgotten usai rilis film dokumenter Laras Perlaya.(Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar)
Bandung -

Unit death metal asal Ujungberung, Kota Bandung, Forgotten, kembali membuka cerita lama lewat film dokumenter Laras Perlaya. Film ini menjadi momentum bagi mereka untuk melihat kembali album yang dibuat 15 tahun lalu, sekaligus perjalanan panjang yang telah dilalui para personelnya.

Forgotten saat ini digawangi Addy Gembel (vokal), Gangan (gitar), Toteng (gitar), Dicky (bass) dan Rifki13 (drum). Film dokumenter Laras Perlaya pun didedikasikan untuk mengingat kembali sebuah fase ketika mereka menuangkan keresahan dan gagasan ke dalam album yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang Forgotten.

Laras Perlaya sendiri bukan hal baru bagi Forgotten. Album itu sudah dituangkan pasa 2011 yang lalu dengan lagu berjudul Hajar Jalanan, Dirajam Luka, Trias Politica hingga Surga Metafora.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini kita pilih karena kita rasa, kita sudah punya sudut yang lain untuk menilai apa yang kita lakukan ketika 15 tahun yang lalu. Kita membuat musik itu hanya kita yakini bahwa musik ini oke jadi sesuatu, tapi ternyata setelah 15 tahun kita mengalami berbagai macam fase kehidupan yang akhirnya kita mulai menyadari bahwa yang kita lakukan itu gila," kata drummer Forgotten, Rifki13 saat peluncuran film dokumenter Laras Perlaya di Bandung, Rabu (30/9/2026) malam.

ADVERTISEMENT

Saat awal namanya mulai tenar, Forgotten muncul sebagai band yang penuh kontroversial. Lirik ciptaan sang vocalis, Addy Gembel, ditulis dengan penuh keberaniaan, lantang, bahkan tak segan berisi kritik yang tajam pada pemerintahan saat itu.

Namun setelah 15 tahun album Laras Perlaya dirilis, Forgotten akhirnya menemukan kontemplasi dalam perjalanan hidup personelnya masing-masing. Forgotten kini menjelma sebagai band yang lebih dewasa, namun tidak menghilangkan unsur kritis dalam penulisan karya-karyanya.

"Ketika kita melibatkan banyak orang, kita melakukan segala sesuatu dengan tulus. Apa yang kita lakukan itu pasti layak untuk dibicarakan, layak untuk didengar, layak untuk kita lihat dan dinikmati sampai kapanpun. Karena kita bisa lihat dari screening video tadi semua yang ada di situ, melakukan sesuatu yang dia suka secara total dan maksimal," ungkapnya.

Vokalis Forgotten, Addy Gembel, turut menceritakan latar belakang album Laras Perlaya. Lagu-lagu di album tersebut ternyata merupakan inspirasi dari novel kritis yang ia tulis, lalu mayoritas dituangkan menjadi lagu perlawanan Forgotten.

Setelah 15 tahun berlalu, album Laras Perlaya pun menurut Addy Gembel masih relevan dengan kondisi zaman sekarang. Apalagi, lagu di album tersebut ia tulis untuk menggambarkan daerah masa kecilnya, Ujungberung, yang awalnya sebagai wilayah pertanian, lalu berubah menjadi kawasan industri yang begitu keras.

"Lumayan berdarah-darah, dan intinya ya itu yang kita coba tawarkan di sini kan enggak cuman how to produce album, tapi ada banyak narasi yang semoga bisa ngasih insight-insight baru buat para penontonnya," katanya.

"Sebetulnya di album Laras Perlaya ini juga ada beberapa si liriknya juga masih relevan dengan apa yang terjadi hari ini ya. Jadi kenapa akhirnya kita bikin satu paket audio sama bacaannya sama novelnya, jadi semacam kitab tafsir loh. Jadi kalian bisa mendengarkan, sambil mendengar, sambil membaca," tuturnya.

Album Laras Perlaya juga mengkolaborasikan sentuhan musik tradisional seperti tarawangsa, kecapi hingga bedug. Forgotten bahkan memutuskan datang langsung ke Rancakalong, Sumedang, untuk mencari langsung seniman yang terus melestarikan tarawangsa.

Pendekatan awal bahkan mengharuskan Forgotten datang langsung ke Rancakalong. Berkat jejaring dengan pegiat kesenian, Iman Jimbot, sentuhan bak bumi dan langsung dua genre itu pun akhirnya menemukan tempatnya lewat lagu Forgotten di album Laras Perlaya.

Bagi Addy Gembel, album Laras Perlaya bukan hanya berisi lagu-lagu metal dengan nuansa perlawanan. Lagu yang mayoritas liriknya ia ciptakan itu punya cerita mendalam, apalagi soal perjalanan hidupnya hingga sekarang.

"Band ini tumbuh ketika masa peralihan dari agraris menuju industri. Kita melihat langsung di depan kita asalnya sawah itu tiba-tiba dalam hitungan berapa bulan ada pabrik, tiba-tiba orang-orang dari mana pada datang, kos-kosan ramai, hilir mudik kontainer dan itu membangun rasa frustrasi sosial yang cukup akut gitu terutama teman-teman di Ujungberung," ungkapnya.

"Makanya ekspresi-ekspresi musik yang keluar dari Ujungnerung cenderung seperti itu. Agresif, keras, liar, ya. Itu representasi dari kondisi bio-sosial yang terjadi di situ. Tapi intinya, kita akhirnya beruntung menemukan musik di situ. Kita tidak lari ke hal lain gitu untuk mencari katarsis. Tidak mencobai menjadi preman, tidak mencobai menjadi gangster, tidak mencoba drugs, dan bla bla bla. Dan ya, itulah ekspresi musik Ujungberung," pungkasnya.



(ral/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads