Warna ungu mulai menghiasi sejumlah ruas jalan di perkotaan Ciamis. Bunga-bunga pohon bungur bermekaran di antara deretan pepohonan, membuat suasana jalan tampak lebih indah di tengah musim kemarau yang terasa panas.
Pemandangan itu terlihat di sejumlah titik, mulai dari Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Ir H Juanda di sekitar Alun-alun Ciamis, Jalan Rumah Sakit hingga kawasan Islamic Center.
Bagi warga, bunga bungur bukan hanya mempercantik jalan. Kemunculannya juga konon dikaitkan dengan tanda pergantian musim. Sebagian masyarakat dan petani di Ciamis meyakini mekarnya bunga bungur menjadi pertanda musim kemarau akan segera berakhir dan musim penghujan mulai datang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satunya Sulaeman, petani asal Desa Baregbeg, Kecamatan Baregbeg. Ia mengatakan kemunculan bunga bungur selama ini kerap dijadikan salah satu patokan oleh petani untuk membaca perubahan musim.
"Biasanya, kalau pohon bungur sudah berbunga itu tanda-tanda kemarau akan berganti ke penghujan," kata Sulaeman, Kamis (1/10/2026).
Pohon bungur memiliki nama ilmiah Lagerstroemia speciosa. Tanaman ini dikenal tumbuh di kawasan Asia dan kerap ditemukan di tepi sungai maupun ditanam sebagai penghijauan di pinggir jalan.
Pohon bungur mulai berbunga menghiasi pinggir ruas jalan Ciamis. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar |
Memasuki sekitar September hingga awal Oktober, bungur biasanya mulai memasuki masa berbunga. Ketika bunga bermekaran, warna ungu tampak menonjol di antara ranting dan dedaunan.
Bagi sebagian petani, perubahan tersebut memiliki makna tersendiri. Mekarnya bungur secara turun-temurun dipercaya sebagai penanda menuju akhir kemarau dan awal musim basah.
Kepercayaan itu membuat sebagian petani mulai bersiap mengolah lahan. Setelah berbulan-bulan menghadapi keterbatasan air, hujan menjadi harapan untuk kembali memulai aktivitas pertanian.
"Mudah-mudahan sebentar lagi turun hujan. Mulai bersiap-siap untuk mengolah lahan," ujar Sulaeman.
Pegiat budaya Budi mengatakan, kepercayaan mengenai bungur sebagai penanda musim telah dikenal sejak generasi terdahulu di wilayah Galuh. Menurutnya, masyarakat dulu mengamati perubahan alam sebagai salah satu cara menentukan waktu bercocok tanam.
"Kalau menurut orang tua dulu, kalau ada hujan tapi belum ada tanda dari pohon bungur bertunas, itu belum masuk musim basah. Tapi kalau sudah ada tunas atau sirung, itu sudah masuk musim basah," kata Budi.
Krisis Air Bersih Terjadi di 23 Kecamatan
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Ciamis per 30 September 2026, dampak kekeringan di Kabupaten Ciamis telah meluas ke 23 kecamatan, 65 desa dan 143 dusun. Kondisi tersebut berdampak terhadap 16.024 kepala keluarga atau 45.273 jiwa.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga terdampak, bantuan telah didistribusikan dari berbagai pihak dengan total mencapai 2.135.000 liter menggunakan 413 tangki. BPBD Ciamis mendistribusikan 1.285.000 liter, kemudian dibantu juga dengan sejumlah instansi lainnya, yakni PDAM Ciamis 338.000 liter, BRI Ciamis 165.000 liter, PMI 190.000 liter, BJB Ciamis 60.000 liter, BBWS Citanduy 34.000 liter, MDMC Ciamis 24.000 liter, SOG Ciamis 10.000 liter, 234 SC 10.000 liter, Polres Ciamis 5.000 liter, Samsat Ciamis 5.000 liter, Yogyakarta Ciamis 5.000 liter, serta Kodim 0613 Ciamis 4.000 liter.
(yum/yum)

