Anis Matta Ajak Dunia Pendidikan Melek Geopolitik

Anis Matta Ajak Dunia Pendidikan Melek Geopolitik

Oris Riswan Budiana - detikJabar
Rabu, 30 Sep 2026 21:34 WIB
Paguyuban Pasundan.
Wamenlu Anis Matta. (Foto: Istimewa)
Bandung -

Dinamika dunia yang semakin rumit membuat pemahaman geopolitik menjadi kebutuhan penting, termasuk bagi dunia pendidikan. Wakil Menteri Luar Negeri Muhammad Anis Matta mendorong lingkungan pendidikan Paguyuban Pasundan untuk memperkuat wawasan geopolitik sekaligus kebangsaan.

Pesan itu disampaikan Anis Matta saat memberikan kuliah umum bertajuk 'Wawasan Geopolitik dan Kebangsaan di Lingkungan Pendidikan Pasundan' di Aula Paguyuban Pasundan, Kota Bandung, Rabu (30/9/2026).

Dalam kesempatan itu, Anis menempatkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi penting dalam membangun peradaban. Ia mengaitkannya dengan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ilmu meningkatkan derajat, bahkan mengubah negara dan masyarakat. Rasulullah menjadi pemimpin dengan peradaban dunia. Karena itu, ayat pertama yang turun adalah Iqra, ilmu," ujar Anis.

Menurutnya, geopolitik tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarnegara. Perubahan geopolitik juga dapat memengaruhi kehidupan masyarakat melalui kebijakan ekonomi, politik, dan sosial.

ADVERTISEMENT

"Tidak mungkin kebijakan ekonomi, politik, dan sosial satu negara berjalan tanpa melihat kondisi lingkungan strategis geopolitik. Karena itu, kita harus melihat geopolitik karena geopolitik memengaruhi kehidupan sehari-hari," katanya.

Anis juga melihat persaingan global telah berubah menjadi perang hibrida. Pertarungan antarnegara kini tidak hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga menyentuh politik, ekonomi, geografis, intelijen, budaya, dan media.

"Perang sekarang bersifat hibrida. Ada politiknya, ada ekonominya, ada sisi geografisnya, ada intelijennya, ada budayanya, dan ada medianya. Semua aspek terlibat dalam pertempuran," ungkapnya.

Ia turut menyoroti perubahan peta kekuatan dunia setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991, termasuk munculnya China sebagai kekuatan ekonomi yang bersaing dengan Amerika Serikat. Menurutnya, berbagai negara kini tengah melakukan penyesuaian strategi untuk menghadapi perubahan tersebut.

"Semua sedang mengalami strategic adjustment. Karena itu, kita harus memahami apa yang sedang terjadi agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton," katanya.

Dalam situasi tersebut, Indonesia dinilai memiliki modal penting berupa posisi geografis yang strategis. Anis Matta mendorong dunia pendidikan mencetak generasi yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga mampu membaca perubahan global.

"Di sini ada peran yang tersisa bagi kita. Tantangannya adalah karena secara geografis kita diuntungkan. Indonesia harus mampu menavigasi turbulensi dunia agar tetap bertumbuh," ujarnya.

Ia juga menilai Paguyuban Pasundan memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia untuk menghadapi perubahan tersebut. Menurutnya, lembaga pendidikan perlu melahirkan generasi yang mampu membangun kekuatan politik dan ekonomi Indonesia.

"Paguyuban harus menciptakan otak politik dan ekonomi untuk masa yang akan datang," tegasnya.

Anis berharap lembaga pendidikan di bawah Paguyuban Pasundan dapat melahirkan generasi intelektual yang mampu menghadapi persaingan dunia yang semakin kompleks.

"Karena itu, kita berharap lembaga pendidikan di bawah Paguyuban Pasundan yang dikomandani oleh Prof. Didi Turmudzi insya Allah bisa melahirkan otak-otak terbaik di Indonesia yang bisa menavigasi Indonesia melalui turbulensi geopolitik yang sangat kompleks," tuturnya.

Paguyuban Pasundan.Ketua Umum Paguyuban Pasundan Didi Turmudzi. Foto: Istimewa

Ketua Umum Pengurus Besar Paguyuban Pasundan Didi Turmudzi menyambut baik kehadiran Anis Matta. Ia menilai pembahasan geopolitik penting bagi dunia pendidikan untuk memahami perubahan politik global.

"Kehormatan bagi kami karena mau datang ke Paguyuban Pasundan. Kita ingin ada gambaran perjuangan umat Islam terutama di era perubahan politik global," kata Didi.

Didi menegaskan Paguyuban Pasundan akan terus menjadikan pendidikan sebagai bagian dari upaya menjaga syiar Islam. Menurutnya, guru dan dosen memiliki tugas lebih besar daripada sekadar menyampaikan ilmu, yakni membangun karakter di tengah persoalan moral.

"Di tengah kebangkrutan moral, pranata pendidikan dan agama sangat penting. Salah satunya melalui tugas guru dan dosen," ujarnya.

Ia pun mengajak seluruh civitas akademika Pasundan untuk terus beradaptasi dan melakukan pembaruan. Perubahan zaman, menurutnya, membawa tantangan baru yang harus dihadapi bersama.

"Perubahan menuntut zaman baru. Tantangan semakin berat. Kita harus mampu menghadapi realitas baru, intervensi budaya, ekonomi, dan berbagai perubahan dunia," tuturnya.

(orb/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads