Tim peneliti melakukan pengeboran untuk menguak misteri formasi Durupinar di Turki, yang selama puluhan tahun dikaitkan dengan lokasi terdamparnya Bahtera Nabi Nuh. Menariknya, saat kedalaman mencapai 18 meter, salah satu mata bor dilaporkan pecah karena menghantam lapisan sangat keras di bawah tanah.
Formasi Durupınar berada di wilayah Doğubayazıt, Provinsi Ağrı, Turki, tidak jauh dari Gunung Ararat. Formasi sepanjang sekitar 157 meter tersebut menarik perhatian karena bentuknya dari udara menyerupai sebuah kapal.
Menurut Noah's Ark Scans, program penelitian 2026 dipimpin Prof. Dr. Cenker Atila dari Departemen Arkeologi Sivas Cumhuriyet University. Proyek tersebut telah memperoleh izin dari otoritas Turki untuk melakukan penelitian geologi di lokasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian kali ini berbeda dari sekadar mengamati bentuk formasi dari permukaan. Tim menggunakan Ground-Penetrating Radar (GPR), Electrical Resistivity Tomography (ERT), LiDAR hingga core drilling untuk mengetahui struktur dan material yang sebenarnya berada di bawah tanah.
Noah's Ark Scans mengatakan pengeboran inti dilakukan hingga kedalaman maksimal sekitar 18 meter.
Menariknya, dalam salah satu lubang pengeboran, tim menemukan lapisan sangat keras sekitar 4-5 meter di bawah permukaan. Material tersebut disebut cukup keras hingga mata bor yang digunakan pecah.
Peneliti Bor Lokasi Diduga Bahtera Nabi Nuh Foto: Globenewswire |
Tim menduga salah satu kemungkinan material tersebut adalah kayu yang membatu atau mengalami mineralisasi tinggi. Namun klaim itu masih sebatas hipotesis yang harus diuji di laboratorium independen.
Laporan Audacy juga menegaskan dugaan kayu tersebut belum dikonfirmasi secara independen. Karena itu, mata bor yang pecah tidak dapat dianggap sebagai bukti bahwa tim telah menemukan bagian dari sebuah kapal.
Radar Temukan Struktur Misterius
Peneliti independen Jimmy Corsetti mencatat bahwa peta tersebut menunjukkan lokasi yang sama dengan situs Durupinar. Foto: Koleksi Peta David Rumsey |
Sebelum pengeboran dilakukan, peneliti telah berulang kali memindai Durupınar menggunakan teknologi geofisika.
Menurut laman riset Noah's Ark Scans, survei ERT dan GPR yang dilakukan pada 2014-2021 menemukan sejumlah struktur linear dan pola menyerupai sudut siku-siku di bawah permukaan.
Analisis pada 2023-2024 kemudian memetakan fitur yang disebut menyerupai koridor. Pengujian tanah yang dilakukan tim juga diklaim menemukan kandungan material organik di bagian dalam sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan area luar formasi.
Namun Noah's Ark Scans sendiri memberikan catatan penting mengenai temuan tersebut.
"Data tersebut bersifat sugestif, bukan konklusif," tulis organisasi itu dalam penjelasan metodologi penelitiannya.
Mereka juga menegaskan program penelitian tersebut tidak mengautentikasi klaim sejarah maupun keagamaan. Data yang dikumpulkan saat ini merupakan dokumentasi geofisika yang nantinya disiapkan untuk peninjauan ilmiah independen.
Dengan kata lain, keberadaan garis lurus, sudut, rongga ataupun material organik belum membuktikan bahwa sebuah kapal terkubur di Durupınar.
Artikel ini telah tayang di detikINET. Baca selengkapnya di sini.
(afr/yum)


