Apa Itu Kolam Retensi dan 16 Titiknya di Kota Bandung

Apa Itu Kolam Retensi dan 16 Titiknya di Kota Bandung

Yogi Bagus Prasetyo - detikJabar
Selasa, 29 Sep 2026 10:00 WIB
Kolam retensi Cisanggarung Kota Bandung.
Kolam retensi Cisanggarung Kota Bandung. (Foto: Sudirman Wamad)
Bandung -

Kota Bandung, yang dikenal dengan julukan Kota Kembang, kerap kali dihadapkan pada masalah banjir, terutama saat intensitas hujan meningkat. Salah satu solusi infrastruktur yang diandalkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung adalah pembangunan kolam retensi.

Kolam retensi berfungsi sebagai tampungan sementara air hujan untuk mengurangi debit puncak yang langsung masuk ke sistem sungai dan saluran drainase, sehingga diharapkan dapat mereduksi risiko genangan di wilayah permukiman.

Berdasarkan hasil rangkuman detikJabar, hingga tahun 2026 ini setidaknya terdapat 16 kolam retensi yang telah dibangun di berbagai titik strategis kota. Pembangunan kolam retensi di Bandung merupakan bagian dari strategi jangka panjang pengendalian banjir yang telah dimulai sejak tahun 2015. Berikut ini daftar 16 kolam retensi tersebut:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kolam Retensi Taman Lansia

Berlokasi asri di Jl. Cisangkuy, Citarum, Kec. Bandung Wetan, fasilitas yang rampung pada tahun 2014 ini memanfaatkan sistem aliran gravitasi langsung menuju Sungai Cikapundung. Kolam ini membentang seluas ±1.400 m² dengan kedalaman ±2 m, yang sanggup menampung hingga ±2.800 m³ air limpasan.

Kolam Retensi Sarimas

Hadir sejak 2018 di Komp. Sarimas, Sukamiskin, Kec. Arcamanik, kolam retensi ini dirancang khusus untuk mengendalikan luapan Sungai Arcamanik melalui pintu air otomatis. Area seluas ±1.200 m² dengan kedalaman ±2,5 m ini mampu memuat daya tampung air mencapai ±3.000 m³.

ADVERTISEMENT

Kolam Retensi Sirnaraga

Menjadi benteng peredam genangan Sungai Citepus di kawasan Jl. Sirnaraga, Pajajaran, Kec. Cicendo, infrastruktur tahun 2018 ini mengandalkan 2 unit pompa air berkapasitas 250 liter/detik. Memiliki kedalaman ±3 m dan luas ±1.000 m², volume tampungan maksimalnya mencatat angka ±3.000 m³.

Kolam Retensi Kandaga Puspa

Selesai direvitalisasi pada 2019, kolam yang terletak di Jl. Citarum, Citarum, Kec. Bandung Wetan ini beroperasi secara terintegrasi dengan Kolam Retensi Taman Lansia. Dengan luas ±1.500 m² dan kedalaman ±2 m, fasilitas ini siap menampung debit air hingga ±3.000 m³.

Kolam Retensi Rancabolang

Infrastruktur skala besar di Jl. Gedebage Selatan, Derwati, Kec. Rancasari ini beroperasi sejak 2019 dengan sokongan 2 unit pompa polder berdaya alir 500 liter/detik. Area tampungannya sangat lapang, yakni luas ±8.000 m² dan kedalaman ±3 m, sehingga mampu menampung air dengan volume ekstra besar mencapai ±24.000 m³.

Kolam Retensi Cisurupan

Mengusung pendekatan ramah lingkungan berupa konsep ekohidrologi, kolam di Jl. Cigurnita, Cisurupan, Kec. Cibiru ini mengambil pasokan air langsung melalui intake Sungai Cinambo. Dibangun pada 2019 dengan luas ±5.000 m² serta kedalaman ±2,5 m, daya tampung airnya mencapai ±12.500 m³.

Kolam Retensi Gedebage

Kolam retensi Gedebage, Kota Bandung.Kolam retensi Gedebage, Kota Bandung. Foto: Nur Khansa Ranawati

Berdiri megah di Kawasan Pasar Induk Gedebage, Kec. Panyileukan sejak 2020, tempat ini menjadi salah satu penampung terbesar dengan kapasitas megah ±49.000 m³. Kolam seluas ±1,4 hektar dan kedalaman ±3,5 m ini diperkuat oleh 3 unit pompa subsistem Cisaranten untuk mempercepat penyaluran air.

Kolam Retensi Bima

Dibangun pada 2020 untuk menanggulangi luapan air Sungai Citepus di Jl. Bima, Arjuna, Kec. Cicendo, fasilitas ini disokong oleh 1 unit pompa portabel yang fleksibel. Kolam ini dirancang dengan luas ±1.100 m² serta kedalaman ±2 m, yang menghasilkan kapasitas tampung ±2.200 m³.

Kolam Retensi Allugoro

Terletak di dalam Kompleks TNI AD Allugoro, Pasir Impun, Kec. Mandalajati, kolam buatan tahun 2021 ini memanfaatkan aliran sistem limpasan alami dari anak Sungai Cikadut. Lahan seluas ±2.000 m² dengan kedalaman ±2,5 m tersebut efektif menampung volume air hingga ±5.000 m³.

Kolam Retensi Cisanggarung

Berlokasi strategis di Jl. Cisanggarung, Cipadung Kidul, Kec. Panyileukan, infrastruktur yang selesai tahun 2021 ini dibekali pintu pengatur debit guna mengendalikan arus air hujan. Memiliki kedalaman ±3 m dan luas ±3.500 m², kolam ini sanggup menahan limpasan air hingga volume ±10.500 m³.

Kolam Retensi Bandung Inten

Menjawab kebutuhan penanganan banjir permukiman di Komp. Bandung Inten Indah, Derwati, Kec. Rancasari, kolam tahun 2021 ini dibantu kerja 1 unit pompa submersible. Dengan area seluas ±1.800 m² serta kedalaman ±2 m, daya muat air yang dimilikinya mencapai ±3.600 m³.

Kolam Retensi Dian Permai

Dibangun pada 2022 di Komp. Dian Permai, Babakan, Kec. Babakan Ciparay, sarana ini mengandalkan pertahanan dari 2 unit pompa pengendali banjir. Fasilitas ini membendung limpasan air pada area seluas ±2.200 m² berkedalaman ±2,5 m, dengan kapasitas total ±5.500 m³.

Kolam Retensi Margahayu

Hadir sejak 2022 di kawasan Komp. Margahayu Raya, Sekejati, Kec. Buahbatu, kolam ini terhubung langsung secara terintegrasi ke saluran utama drainase Jalan Soekarno-Hatta. Dengan cakupan area ±3.000 m² dan kedalaman ±3 m, volume tampungan yang dapat diserap mencapai ±9.000 m³.

Kolam Retensi Lapak New Argo

Beralamat di Jl. Caringin, Babakan Ciparay, Kec. Babakan Ciparay, penampungan yang berdiri tahun 2022 ini didukung oleh mekanisme sistem pintu pembuang otomatis. Memiliki luas areal ±1.600 m² dan kedalaman ±2 m, kolam ini mampu menampung hingga ±3.200 m³ air hujan.

Kolam Retensi Ciraga / Ciraga Wetland Park

Mengusung konsep ganda sebagai ruang terbuka hijau sekaligus penyaring air alami, kolam di Cisurupan, Kec. Cibiru ini selesai dibangun pada 2023. Membentang seluas ±6.000 m² dengan kedalaman ±2,5 m, kawasan ramah lingkungan ini sanggup menampung volume air hingga ±15.000 m³.

Kolam Retensi Ciporeat / Agroforestry Ciporeat

Berlokasi di Jalan Ciporeat, Kec. Cilengkrang, infrastruktur yang diresmikan tahun 2023 ini berfungsi penting sebagai sarana konservasi hulu sekaligus penahan air alami. Dengan area luas menembus ±7.500 m² serta kedalaman ±3 m, daya tampung maksimal yang dimilikinya mencapai ±22.500 m³.

Kapasitas Tampung vs Debit Air Saat Hujan Deras

Kolam Retensi Rancabolang, Kota Bandung.Kolam Retensi Rancabolang, Kota Bandung. Foto: Wisma Putra/detikJabar

Efektivitas kolam retensi sangat bergantung pada perbandingan antara kapasitas tampung dan debit air yang masuk saat hujan deras. Menurut penelitian Maharani (2022), kolam retensi Gedebage dan Rancabolang berkontribusi dalam mereduksi banjir di kawasan Gedebage, meskipun kapasitasnya relatif kecil dibandingkan volume limpasan saat hujan ekstrem.

Hasil analisisnya menunjukkan bahwa kolam retensi berkontribusi signifikan dalam mengurangi debit limpasan permukaan dan meningkatkan infiltrasi, dengan debit infiltrasi tertinggi sebesar 0,01899 meter kubik per detik pada salah satu kolam retensi yang diteliti, serta waktu penahanan air terlama selama 2,45 jam.

Sedangkan untuk Kolam Retensi Andir sendiri, jika melihat pada penelitian Setiadipura, D. (2024), menunjukkan bahwa kolam ini telah bekerja secara efektif dalam menampung air dengan ketinggian maksimum muka air mencapai 4,32 meter pada elevasi 656,32 meter, yang masih menyisakan ruang 1,68 meter dari puncak kolam pada elevasi 658 meter.

Namun, efektivitas ini sangat bergantung pada kondisi hidrologi Daerah Aliran Sungai (DAS) dan curah hujan. Kawasan Bandung Selatan memiliki curah hujan menengah dengan hujan rencana 25 tahun sebesar 125,97 millimeter, yang jika didistribusikan selama 6 jam menghasilkan hidrograf untuk Kolam Retensi Andir dengan debit puncak sebesar 4,7 meter kubik per detik.

Sementara itu, berdasarkan hasil analisis efektivitas Kolam Retensi Cisanggarung pada penelitian Taufiq, M. I. (2025), nilai efektivitas yang didapat pada kala ulang 10 tahun adalah sebesar 60,2 persen.

Angka ini menunjukkan bahwa kolam retensi mampu menampung sekitar 60 persen dari volume banjir yang masuk, meskipun sisanya masih berpotensi menimbulkan genangan di wilayah sekitar.

Lantas, Mengapa Kawasan Sekitar Kolam Masing Tergenang?

Meskipun kolam retensi telah dibangun, tidak sedikit laporan dari warga yang menyebutkan bahwa kawasan di sekitar kolam tetap mengalami genangan saat hujan deras.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui beberapa faktor. Pertama, kapasitas kolam retensi sering kali tidak sebanding dengan volume limpasan air saat hujan dengan intensitas sangat tinggi.

Dalam penelitian Fitriani, A. A., & Pratiwi, V. (2021) mengenai efektivitas Kolam Retensi Cieunteung, kolam ini hanya memiliki efektivitas sebesar 30,18 persen dan mampu mereduksi banjir sebesar 11,89 persen. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar air banjir masih lolos dari sistem tampungan.

Kedua, perubahan tata guna lahan di hulu DAS menyebabkan peningkatan koefisien limpasan (runoff coefficient). Kawasan yang semula berupa area resapan telah berubah menjadi permukiman dan kawasan komersial, sehingga air hujan tidak lagi terserap ke dalam tanah melainkan langsung mengalir ke saluran drainase dan sungai.

Ketiga, sistem drainase yang menghubungkan permukiman dengan kolam retensi sering kali tidak terintegrasi dengan baik. Banyak saluran yang tersumbat sampah atau memiliki kapasitas terlalu kecil, sehingga air tidak dapat mencapai kolam retensi dengan optimal.

Keempat, fenomena backwater atau aliran balik dari Sungai Citarum juga menjadi penyebab utama. Saat debit Sungai Citarum tinggi, pintu air di kolam retensi harus ditutup untuk mencegah air sungai masuk kembali ke kolam, yang justru membuat air dari permukiman tidak dapat dialirkan keluar.

Kelima, distribusi spasial kolam retensi yang belum merata menyebabkan beberapa wilayah tidak terlayani oleh sistem ini. Peta SIG yang dihasilkan dari penelitian Prihastuti, S., & Chaerunnisa, L. (2025) menunjukkan bahwa masih terdapat titik-titik banjir yang tidak memiliki akses langsung ke kolam retensi terdekat.

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads