Civitas akademika Institut Teknologi Bandung (ITB) berduka, Guru Besar Emeritus Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB Prof Widagdo meninggal dunia pada usia 92 tahun, Sabtu (26/9/2026) sekitar pukul 21.40 WIB.
Berikut profilnya :
Prof. Widagdo yang lahir di Solo, 1 Mei 1934, dan merupakan Profesor Emeritus Desain Interior ITB, pakar estetika dan kebudayaan, serta praktisi desainer. Prof. Widagdo menempuh pendidikan desain interior di Staatliche Akademie der Bildenden Künste Stuttgart, Jerman dan meraih gelar Dipl.Inn.Arch. (Diplom Innenarchitektur) pada 1964.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendidikan tersebut membawa pengaruh pemikiran modernisme dan tradisi desain Eropa, termasuk Bauhaus, yang kemudian turut mewarnai pengembangan pendidikan desain di ITB. Mendiang kemudian menempuh pendidikan di Jurusan Seni Rupa, FTSP ITB dan lulus pada 1969.
Sejak bergabung dengan ITB pada 1965, Prof. Widagdo berperan dalam membangun fondasi pendidikan desain interior di Indonesia. Di FSRD ITB, almarhum turut merintis kurikulum dan memantapkan Program Studi Desain Interior, serta mengabdikan diri sebagai akademisi, praktisi, dan pemikir desain. Bidang yang beliau ajarkan meliputi Desain Interior, Pendidikan Desain, hingga Sejarah Sosial Desain.
Pengabdiannya dalam pendidikan terus berlanjut setelah memasuki masa purnabakti. Prof. Widagdo masih berkontribusi sebagai dosen luar biasa pada program pascasarjana dengan membimbing mahasiswa magister dan doktor, menguji tesis dan disertasi, serta turut mengawal perkembangan pemikiran dan penelitian seni dan desain di Indonesia.
Di luar dunia akademik, Prof. Widagdo meninggalkan rekam jejak dalam praktik desain di Indonesia. Salah satu karya monumentalnya adalah keterlibatannya dalam perancangan interior Kompleks Gedung MPR/DPR RI di Senayan, Jakarta. Karya tersebut memadukan pendekatan modernisme dengan penggunaan material dan karakter lokal Indonesia.
Ilustrasi gedung MPR/DPR RI Foto: Shutterstock |
Prof. Widagdo juga terlibat dalam representasi Indonesia pada pameran internasional. Bersama para senior Seni Rupa ITB, beliau berkontribusi sebagai pakar desain dalam pengembangan Paviliun Indonesia, antara lain pada Expo Osaka 1970 dan Expo Sevilla 1992, dengan menghadirkan representasi teknologi tradisional dan kebudayaan Indonesia.
Selain itu, perhatiannya terhadap hubungan antara desain, estetika, kebudayaan, dan modernitas antara lain dituangkan dalam buku Desain & Kebudayaan. Pada 2008, beliau juga menyampaikan orasi ilmiah Guru Besar Emeritus bertajuk "Membangun Bangsa Menuju Masyarakat Madani: Sebuah Refleksi Setengah Milenium Sejarah Indonesia". Dalam pemikirannya, kebudayaan ditempatkan sebagai salah satu unsur penting dalam kemajuan suatu bangsa.
Prof. Widagdo juga pernah mengabdi sebagai Ketua Dewan Desain Nasional, Ketua Majelis Kehormatan HDII, dan anggota Dewan Kerajinan Nasional. Pada 2005, beliau menerima penghargaan Medali Ganesha Bakti Cendekia Utama ITB.
Penghormatan Terakhir ITB
ITB kemudian memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Prof. Wigdagdo atas jasa, darmabakti, dan pengabdian masyarakat, bangsa, dan negara. Jenazahnya dilepas di Aula Barat ITB, Minggu (27/9/2026).
Rektor ITB, Prof. Tatacipta Dirgantara, memberikan penghormatan terakhir saat pelepasan jenazah. Ia menyampaikan bahwa kepergian Prof. Widagdo tidak hanya menjadi kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi ITB dan dunia pendidikan.
"Pikiran, tenaga, ilmu, serta keteladanan yang telah beliau berikan akan senantiasa menjadi bagian yang berharga dalam perjalanan institusi ini," katanya.
Atas nama Keluarga Besar ITB, Rektor menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga almarhum. "Selamat jalan, Prof. Widagdo. Terima kasih atas pengabdian, keteladanan, dan warisan nilai yang Bapak berikan untuk ITB dan untuk kami semua. Semoga Allah SWT menempatkan Bapak di tempat terbaik di sisi-Nya," ujarnya.
(yum/yum)

