Pesta pernikahan biasanya menjadi panggung bagi para tamu untuk tampil maksimal, lengkap dengan semprotan parfum terbaik yang menambah rasa percaya diri. Namun, sebuah pesta pernikahan baru-baru ini justru membalikkan tradisi tersebut. Sang pengantin wanita mengeluarkan instruksi yang mengejutkan yakni tamu dilarang mengenakan parfum.
Melansir Wolipop, aturan yang tidak lazim ini seketika memicu gelombang diskusi panas di jagat maya. Ada yang menganggap permintaan tersebut masuk akal, namun tak sedikit pula yang mempertanyakan sejauh mana batasan 'bebas aroma' itu harus diterapkan dalam sebuah acara sosial.
Dalam undangan dan informasi detail pernikahannya, sang mempelai secara spesifik meminta para undangan untuk menghindari penggunaan parfum, losion tubuh beraroma, hairspray, hingga produk wewangian lainnya. Langkah ini diambil bukan karena sang pengantin ingin suasana yang berbeda, melainkan karena alasan kesehatan yang sangat serius.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terungkap bahwa aroma parfum merupakan pemicu utama migrain kronis yang dideritanya. Reaksi tubuhnya terhadap wewangian sintetis tidak main-main; ia mengaku gejalanya bisa sangat hebat hingga menyerupai serangan stroke.
Meski permintaannya terdengar sederhana di atas kertas, implementasinya di lapangan memicu perdebatan rumit di media sosial. Netizen mulai mempertanyakan bagaimana seseorang benar-benar bisa bersih dari aroma di tengah dunia yang penuh dengan produk berparfum.
Diskusi berkembang ke hal-hal detail, seperti sisa aroma deterjen atau pelembut pakaian yang masih menempel di kain, hingga residu parfum dari pemakaian hari-hari sebelumnya. Menanggapi keraguan tersebut, sang pengantin memberikan pernyataan yang cukup keras dalam sebuah diskusi daring.
"Aku lebih baik mencium bau pesing urine dan kotoran kucing! Setidaknya itu tidak membuatku mengalami serangan migrain yang parah dan menempel di rambut serta pakaianku. Menjijikkan," tulisnya dalam diskusi tersebut.
Saking peliknya aturan ini, beberapa netizen bahkan melontarkan candaan bahwa pasangan tersebut mungkin membutuhkan 'petugas pencium' di pintu masuk untuk menyortir tamu yang masih membawa aroma wangi. Ada pula saran ekstrem agar tamu mengenakan pakaian yang benar-benar baru demi memastikan tidak ada jejak wewangian yang terbawa dari rumah.
Namun, usulan-usulan tersebut justru memicu kritik baru. Sebagian orang merasa aturan ini membuat persiapan menghadiri undangan menjadi beban yang terlalu rumit.
Di sisi lain, kelompok netizen yang juga menderita sensitivitas terhadap aroma memberikan pembelaan. Bagi mereka yang sering tumbang akibat bau menyengat, permintaan untuk tidak memakai parfum selama beberapa jam adalah pengorbanan kecil demi keselamatan orang lain.
Fenomena pernikahan bebas parfum sebenarnya bukan hal yang benar-benar asing di tahun 2026 ini. Semakin banyak pasangan yang mulai menyadari pentingnya inklusivitas bagi tamu atau mempelai yang memiliki alergi, migrain, hingga sensitivitas kimiawi (Multiple Chemical Sensitivity).
Bagi sang pengantin, larangan ini bukan tentang mengatur gaya hidup orang lain. Ini adalah upaya terakhir untuk memastikan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya tidak berubah menjadi mimpi buruk medis hanya karena aroma yang bagi orang lain mungkin terasa harum, namun baginya adalah racun.
Artikel ini sudah tayang di Wolipop
(kik/dir)
