Sisi Lain Jalan Braga Bandung

Sisi Lain Jalan Braga Bandung

Siti Nurhaliza Safitri - detikJabar
Sabtu, 26 Sep 2026 14:01 WIB
Suasana Jalan Braga Bandung
Siti Nurhaliza Safitri (Foto: Siti Nurhaliza Safitri/detikJabar).
Bandung -

Jika buku adalah jendela dunia, Braga boleh dikatakan sebagai jendela pembuka imajinasi. Siapa pun yang menapaki jalan ini bisa terinspirasi, bahkan hanya dengan sebuah lamunan. Bagaimana tidak, sepanjang Jalan Braga dihiasi oleh beragam karya para maestro yang mungkin namanya tak banyak dikenal orang.

Gino, merupakan satu dari sekian pelukis jalanan yang dapat ditemui di penghujung Jalan Braga. Ia mengaku baru menjajakan jasa melukis wajah di sana sejak 2021, walau telah lama berkecimpung di dunia seni lukis dan grafis.

"Sebenarnya nggak melulu menggambar di pinggir jalan saja, pernah mencoba peruntungan dari bekerja di perusahaan kaos sablon. Buat gambar ilustrasinya dengan tracer," ucap Gino saat diwawancarai Kamis, (24/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemampuan yang fleksibel dan mudah beradaptasi membuatnya tak jarang menerima pesanan berdasarkan keinginan pembeli, mulai dari lukisan pemandangan hingga karikatur wajah. Gino terbiasa menuangkan kreativitasnya melalui beragam medium, seperti kertas, kanvas, pensil, cat minyak, hingga cat akrilik.

Penggunaan berbagai medium lukis ini menjadi salah satu patokan Gino dalam memasang tarif atas jasanya. Lukisan yang menggunakan pensil dan cenderung menghasilkan warna monokrom dibanderol seharga Rp100 ribu, lukisan cat akrilik dibanderol seharga Rp150 ribu hingga Rp200 ribu, sementara lukisan cat minyak dihargai hingga Rp700 ribu.

"Ada pensil warna atau pensil hitam saja. Biasanya bisa ditunggu sekitar setengah jam sampai sejam. Kalau pakai kanvas, pewarnanya pakai cat minyak atau akrilik, bisa makan waktu satu hari atau lebih lah, gimana objeknya," tutur Gino lebih lanjut.

Selain Gino, Iin juga merupakan sosok yang turut serta menghiasi Jalan Braga dengan karya lukisannya selama 35 tahun. Jika Gino menekuni karikatur wajah, sementara Iin menganut aliran realisme dan kaligrafi. Jam terbang yang sudah cukup matang membuatnya selalu memiliki inspirasi untuk berkarya.

"Kadang kalau main ke alam, suka terinspirasi wah ini kayaknya bagus kalau dituangkan di kanvas, di lukisan. Walau begitu, tetap mengedepankan imajinasi supaya lukisannya enggak terlalu kosong dan monoton," paparnya.

Iin mengaku kerap kebanjiran pembeli yang berasal dari luar Bandung, seperti wisatawan Jabodetabek, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Tak hanya pembeli lokal, karya seninya juga laku di kalangan turis asing, terutama yang berasal dari Amerika Serikat.

"Biasanya turis lebih seneng sama lukisan yang bernuansa Sunda, seperti pasar atau pemandangan alamnya. Karena bagi mereka mungkin kenang-kenangan pernah ke Bandung. Tapi ada juga yang senang beli lukisan abstrak," tutur Iin lebih lanjut.

Menanggapi persoalan artificial intelligence (AI) dalam ranah seni, Iin optimis bahwa AI tidak akan pernah menggantikan seni yang murni diciptakan oleh tangan manusia. Ia justru menargetkan kekhawatirannya pada hal lain, yakni kemampuan masyarakat membedakan karya manusia dan kecerdasan buatan.

"Pengaruhnya bukan merasa takut tersaingi. Tapi yang saya khawatirkan masyarakat nggak bisa membedakan antara seni tangan dan produk AI. Mudah-mudahan dengan kemajuan zaman sekarang juga diiringi dengan kemampuan otak yang lebih canggih sehingga bisa membedakan mana AI mana lukis tangan," tutup Iin.

Halaman 3 dari 2
(mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads