Keteguhan hati Ina Nuryanah (29) diuji oleh rentetan bencana yang memilukan. Ia harus melewati dua peristiwa gempa besar yang tidak hanya menghancurkan tempat tinggalnya, tetapi juga merenggut nyawa anggota keluarganya.
Tragedi ini bermula pada 2 September 2009. Saat itu, Ina bermukim bersama keluarga besarnya di Kampung Babakan Caringin, Desa Cikangkareng, Kecamatan Cibinong. Di tengah suasana sore bulan Ramadan, wilayah Cianjur Selatan diguncang gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,0.
"Begitu gempa, saat itu warga langsung berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri, khawatir rumahnya ambruk dan menimpa," ujar Ina, Jumat (25/9/2026).
Nahas, sesaat setelah guncangan mereda, tebing setinggi puluhan meter di kampung tersebut runtuh. Material tanah dan bebatuan besar seketika menimbun permukiman di bawahnya.
"Hanya jeda beberapa saat langsung longsor. Saya juga tahu dari tetangga, melihat kampung yang menjadi tempat tinggal kakak saya tertimbun longsor," ungkap dia.
Ina dan ibunya hanya bisa terpaku menyaksikan bencana tersebut. Perasaan kalut dan tidak percaya menyelimuti mereka saat melihat rumah kerabatnya hilang ditelan bumi.
"Antara percaya tidak percaya. Berharapnya itu hanya mimpi. Tapi itu nyata. Tujuh keluarga saya jadi korban longsor akibat gempa," kata dia.
Dahsyatnya longsoran yang membawa material batu seukuran minibus itu mengakibatkan dua anggota keluarganya belum ditemukan hingga hari ini.
"Dari tujuh orang, lima orang ditemukan. Untuk kakak ipar dan keponakan saya sampai sekarang masih terkubur di bawah longsoran," tuturnya.
Demi memulihkan diri dari trauma, Ina beserta orang tuanya memutuskan pindah ke Kampung Longkewang, Desa Gasol, Kecamatan Cugenang. Mereka berharap bisa membuka lembaran baru dan meninggalkan kenangan pahit di Cikangkareng.
"Karena keluarga di Cikangkareng sudah tidak ada, jadi korban gempa dan longsor. Kami pindah ke Longkewang. Ingin menghindari peristiwa duka, dan memulai kehidupan baru," ujar dia.
Namun, takdir kembali menguji. Pada 21 November 2022, gempa berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang Cianjur. Upaya Ina untuk menjauh dari bayang-bayang bencana justru membawanya kembali ke situasi serupa.
"Begitu terjadi gempa, seketika ingat kejadian yang di Cikangkareng. Sempat berpikir, selamat atau tidak sekarang," kata dia.
Guncangan hebat itu meratakan rumahnya. Beruntung, Ina berhasil menyelamatkan anggota keluarganya yang berada di dalam rumah tanpa luka serius.
"Saat gempa, awalnya hanya guncangan kecil kemudian membesar. Saya langsung evakuasi nenek di kamar, termasuk menyelamatkan ayah saya yang sempat terima kardus barang dagangan. Tapi Alhamdulillah semuanya selamat," kata dia.
Meski selamat, duka lama Ina kembali terusik saat melihat kehancuran di sekelilingnya dan banyaknya tetangga yang menjadi korban jiwa.
"Kembali lagi rasanya percaya tak percaya. Dulu keluarga saya turut jadi korban meninggal, sekarang rumah saya hancur. Ditambah lihat sekitar juga hancur dan banyak jadi korban," kata dia.
Menghadapi kenyataan pahit tersebut, Ina memilih untuk tetap tegar dan mensyukuri keselamatan yang masih ia miliki.
"Meskipun sedih dan jadi kenangan yang tak bisa dilupakan, tapi tetap bersyukur tetap diberi keselamatan," pungkasnya.
Simak Video "Video: Trauma Healing Polri, Siswa ST Yosefa Labuan Bajo Diajak Main Anjing K9"
(dir/dir)