Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) tak bisa dilepaskan jika ada pembahasan soal Sesar Lembang. Tentunya hal itu berkaitan dengan kejadian yang dialami di masa lalu.
Berdiri di dataran tinggi, warga Kampung Muril terbiasa hidup dengan berkebun. Baru di tahun 2011 silam, mereka menyadari ada bahaya yang tertidur di bawah tanah tempat mereka mencari nafkah dan beraktivitas saban hari.
Mayoritas rumah-rumah di Kampung Muril bertumpuk di lereng terjal. Risiko kerusakan maksimal mengintai kala gempa mengguncang. Bukan sekadar asumsi, namun sudah terbukti ketika Sesar Lembang bergerak menghasilkan gempa bermagnitudo 3,3 pada 28 Agustus 2011.
Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, Segmen Cimeta Sesar Lembang bergerak. Akibat gempa bumi itu, 113 rumah rusak. Rinciannya 8 rumah rusak berat dan 105 rusak ringan, beruntung tak sampai ada korban jiwa. Padahal magnitudo guncangan Sesar Lembang kala itu terbilang kecil, namun dampak yang ditimbulkan tak main-main.
Aktivitas harian warga tampak berjalan biasa saja. Namun, di balik ketenangan tersebut, tersimpan trauma mendalam serta kewaspadaan yang sewaktu-waktu bisa bangkit kembali.
"Kalau untuk masyarakat di sini mungkin masih ada trauma, ada ketakutan lagi pas ramai dibicarakan lagi. Kelihatannya memang biasa-biasa saja, mungkin karena sudah pernah mengalami jadi pembelajaran," ujar Yetti, warga sekaligus saksi hidu gempa Sesar Lembang kepada detikJabar beberapa waktu lalu.
Di pertengahan 2025, sebetulnya ketenangan warga Kampung Muril sempat terusik. Pemicunya tentu serentetan gempa bumi akibat aktivitas Sesar Lembang. Berdasarkan riwayat kejadian yang dicatat BMKG Bandung, gempa akibat aktivitas Sesar Lembang yang mengguncang Bandung Raya diawali pada 29 Juni di Kota Cimahi. Kala itu gempa berkekuatan magnitudo 2.7 mengguncang.
Gempa selanjutnya terjadi pada 24 Juli 2025 dengan magnitudo 1.8. disusul dengan gempa bermagnitudo 2.1 pada 28 Juli 2025. Selanjutnya 14 Agustus 2025 dengan magnitudo 1.9 berpusat di Kabupaten Bandung. Pada 15 Agustus 2025 gempa mengguncang lagi dengan magnitudo 1.8. Kemudian terbaru gempa magnitudo 2.3 terjadi pada 19 Agustus 2025.
Ingatan warga otomatis terbawa kembali pada momen gempa bumi akibat Sesar Lembang 15 tahun silam. Karakter gempa dari Sesar Lembang punya ciri khas. Berbeda dengan gempa yang biasanya menimbulkan guncangan berayun ke samping, guncangan sesar darat dangkal ini dirasakan warga menghentak ke bawah.
"Kalau gempa kecil enggak kerasa, beda dengan tahun 2025. Biasanya kan gempa itu goyang ke samping, tapi kalau di sini, si tanah itu kayak ke bawah, seperti anjlok tanahnya," kata Yetti.
Simak Video "Video Tito Sebut Ada Pemda Nggak Kompak Koordinasi Antisipasi Bencana"
(dir/dir)