5 Pasar Tertua di Kota Bandung! Masih Eksis Hingga Sekarang

5 Pasar Tertua di Kota Bandung! Masih Eksis Hingga Sekarang

Yogi Bagus Prasetyo - detikJabar
Jumat, 25 Sep 2026 10:00 WIB
Keadaan di Pasar Baru Bandung pada pertengahan September 2025
Keadaan di Pasar Baru Bandung pada pertengahan September 2025 (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar)
Bandung -

Di tengah gempuran teknologi yang mengharuskan serba online, pasar tradisional rupanya masih bisa menjadi opsi bagi para pelanggan dalam berburu barang segar yang bisa langsung dimiliki tanpa harus menunggu.

Selain barangnya yang bisa dilihat secara langsung, tradisi tawar menawar masih menjadi nilai tambah bagi pelanggan setia pasar, dan itulah yang hal tidak bisa dilakukan saat berbelanja di e-commerce.

Tapi tahukah detikers, kalau ternyata di Kota Bandung ada deretan pasar tertua yang masih eksis hingga sekarang, lho. Penasaran apa saja? Simak pembahasannya di bawah untuk mengetahui lebih jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Pasar Baru Trade Center

Suasana pasar baru jelang lebaranPasar Baru Bandung Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar

Pertama ada Pasar Baru Trade Center atau dulu biasa dikenal Pasar Baru Bandung. Pasar ini bermula dari inisiatif antara warga dan pemerintah kolonial Hindia Belanda dalam menampung para pedagang yang tercerai-berai akibat kebakaran dan kerusuhan di Pasar Ciguriang pada tahun 1842.

Mulanya, pada tahun 1884 lokasi Pasar Baru yang sekarang ini dibuka hanya untuk lokasi penampungan sementara bagi para pedagang. Namun pada tahun 1906, pemerintah kolonial Belanda secara resmi mendirikan bangunan baru yang sifatnya semipermanen, serta menata ulang aktivitas perdagangan yang ada di lokasi tersebut.

ADVERTISEMENT

Seiring waktu, pada tahun 1924-1926, pembangunan dan penataan di pasar tersebut semakin serius dilakukan, mulai dari perubahan dari yang semula bangunan kayu sederhana hingga menjadi bangunan kompleks pasar permanen yang lebih luas dan kokoh.

Berkat keseriusannya pemerintah kolonial Hindia Belanda pada saat itu, Pasar Baru Bandung mendapat predikat sebagai pasar terbersih dan paling teratur se-Hindia Belanda pada tahun 1935.

Pada awal abad ke-20 hingga masa kemerdekaan, jenis barang yang dijajakan di Pasar Baru Bandung sangat beragam, mulai dari bahan pangan segar, keperluan rumah tangga dan rempah-rempah yang menjadi tempat bertemunya saudagar dari berbagai daerah meliputi Pribumi, Tionghoa, Arab, dan bangsa lainnya. Sedangkan produk tekstil sendiri belum merajalela seperti sekarang.

Masuk pada masa transisi di era 1970-1990 an, barang yang dijajakan mulai terasa perubahannya, seperti maraknya grosir yang menjual pakaian jadi, kain meteran, kebaya, serta perlengkapan busana dalam skala grosir dan eceran.

Tidak hanya grosir pakaian, tapi juga munculnya grosir yang menjual aksesoris dan perlengkapan menjahit sebagai pemenuhan kebutuhan para penjahit dan pemilik butik untuk mencari kancing, renda, pola, serta bahan tekstil lainnya.

Ketika beralih ke massa era modern hingga sekarang, produk yang dijajakan sepenuhnya menjadi tekstil, seperti produk fashion dan busana muslim, tekstil kiloan dan meteran, perlengkapan ibadah dan haji, dan tak kalah ketinggalan kuliner legendaris dan oleh-oleh pun tersedia di Pasar Baru Bandung.

2. Pasar Kosambi

The Hallway Space di Pasar Kosambi Bandung.The Hallway Space di Pasar Kosambi Bandung. Foto: Alya Larasati/detikJabar

Pasar tertua berikutnya adalah Pasar Kosambi, didirikan pada era kolonial Belanda tahun 1915 menjadikan pasar ini berkaitan dengan rencana pemerintah kolonial Belanda dalam menjaga kebersihan dan keteraturan pasar-pasar besar yang ada di Bandung pada masa itu.

Tak hanya itu, pasar ini juga menjadi pusat perekonomian untuk kawasan timur Kota Bandung yang terus berkembang sejak era kolonial.

Jika melihat pada apa yang dijajakan dari jaman dulu kolonial Belanda hingga sekarang, Pasar Kosambi mengalami pergeseran yang sama.

Pada awal masa berdiri, karakteristik Pasar Kosambi adalah pasar tradisional basah sederhana beralaskan tanah di bawah tenda kayu. Berpusat di sekeliling pohon Kosambi asli.

Tak hanya itu, pada masa keemasannya, Pasar Kosambi sempat menjadi pusat sosial dan ekonomi karena lokasinya yang strategis. Kondisi ini didukung dengan kehadiran Bioskop Rivoli yang berada di sebelah barat pasar pada tahun 1935

Seiring perkembangan zaman, Pasar Kosambi kini bertransformasi menjadi gedung bertingkat modern yang memadukan pasar tradisional di lantai bawah dan ruang kreatif anak mudah di lantai atas.

Salah satu bentuk kebangkitan Pasar Kosambi adalah hadirnya The Hallway Space pada tahun 2020 pasca kebakaran hebat yang melanda Pasar Kosambi di tahun 2019.

Hasil inisiatif dari komunitas lokal inilah yang memberikan ruang kolaborasi ekonomi kreatif, kafe dan toko anak muda yang berdampingan secara harmonis dengan aktivitas pasar tradisional basah di lantai bawahnya.

3. Pasar Andir

Suasana di Pasar Andir, Kota Bandung.Suasana di Pasar Andir, Kota Bandung. Foto: Anindya Aurellia Devi/detikJabar

Jika beralih ke sisi barat, ada pasar tertua lainnya yang direncanakan dan didirikannya bersamaan dalam satu periode oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda, namanya Pasar Andir.

Didirikan pada tahun 1915, Pasar Andir terletak di Jalan Waringin No.1, Ciroyom, Kecamatan Andir, Kota Bandung. Jika dilihat dari segi penamaan, asal-usul nama andir merujuk pada orang yang menaburkan bebatuan saat pembuatan jalan raya tersebut.

Wilayah ini dulunya merupakan perkampungan para pekerja pembuat jalan di pinggir Grote Postweg atau disebut Jalan Raya Pos yang dibangun oleh Herman Willem Daendels, yang kini lebih dikenal sebagai Jalan Sudirman.

Lebih dari itu, jika bergeser pada masa pendudukan Jepang, tepatnya mulai Agustus 1942, kompleks Pasar Andir ini sempat dialihfungsikan menjadi salah dari sekitar 17 lokasi kamp tawanan perang di Kota Bandung.

Bangunan pasar ini digunakan oleh militer Jepang untuk menahan setidaknya 550 pria dewasa kulit putih, sebelum akhirnya sebagian tawanan dipindahkan ke Biara Stella Maris atau kini dikenal Maria Bintang Laut.

Setelah masuk era kemerdekaan dan berakhirnya fungsi militer, kawasan ini kembali hidup sebagai koridor niaga bagi warga Bandung bagian barat.

Produk yang dijajakan pun terbilang masih sama hanya yang membedakan dari segi lokasi penjualnya saja. Dulu kala, penjual bahan pangan, serta kebutuhan pokok harian lainnya lebih dominan menempati gedung utama Pasar Andir.

Kini posisinya menjadi pusat grosir dan eceran pakaian terlengkap di Kota Bandung, sedangkan penjual bahan pangan dan kebutuhan sehari-hari lainnya berada di lantai 1 dan di sekeliling bangunan pasarnya.

4. Pasar Sederhana

Pasca kebakaran yang menghanguskan sebagian besar belakang Pasar Sederhana, para pedagang yang tak terkena dampak tetap beraktifitas normal.Pasar Sederhana Bandung Foto: Tri Ispranoto

Bergeser ke kawasan Sukajadi, ada Pasar Sederhana yang memegang peranan penting bagi warga Bandung barat dan utara. Pasar ini mulai tumbuh pesat pada dekade 1950-an hingga 1970-an, seiring berkembangnya pemukiman di sekitar koridor Jalan Jurang dan Jalan Pasir kaliki.

Awalnya, Pasar Sederhana hadir untuk memecah kepadatan pedagang di pusat kota dan mengakomodasi kebutuhan pokok masyarakat pinggiran yang baru dibuka pasca kemerdekaan. Sesuai dengan namanya, pasar ini dirancang tanpa banyak ornamen megah, fokusnya murni pada ketersediaan logistik harian.

Karakteristik Pasar Sederhana sangat kental dengan pasar basah tradisional, sayuran segar dari kawasan Lembang, aneka daging, ikan basah, serta bumbu dapur mentah yang dipasok langsung setiap subuh.

Selain menjadi sentra belanja kebutuhan dapur para ibu rumah tangga, kawasan sekeliling pasar kini juga dikenal sebagai pusat berburu sarapan pagi dan jajanan pasar tempo dulu yang murah meriah.

5. Pasar Cihaurgeulis

Ilustrasi Pasar di Kota BandungIlustrasi Pasar di Kota Bandung Foto: Wisga Putra Julian

Di sisi timur laut, tepatnya di kawasan Jalan Surapati, berdiri Pasar Cihaurgeulis. Keberadaan pasar ini berakar sejak masa kolonial Belanda, sekitar dekade 1930-an, mulanya sebagai pasar tumpah yang melayani perkampungan di sepanjang aliran Sungai Cikapundung dan area Cibeunying.

Nama Cihaurgeulis sendiri berasal dari bahasa sunda, ci (air), haur (bambu), dan geulis (cantik), menggambarkan bentang alam tepian air yang rimbun oleh rumpun bambu indah di masa lalu.

Pasar Cihaurgeulis memiliki keunikan tersendiri pada lantai atasnya. Jika lantai dasar difungsikan sebagai pasar basah dan kebutuhan dapur, lantai dua pasar ini sejak era 1980-an hingga 2000-an sempat sangat tersohor sebagai "bursa buku murah" dan pusat majalah bekas yang menjadi langganan para mahasiswa ITB, Unpad, maupun Itenas.

Meski kini telah melalui beberapa kali revitalisasi oleh Pemkot Bandung agar lebih bersih dan tertata, atmosfer transaksi khas warga lokal tetap terjaga.

Halaman 2 dari 2
(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads