Kondisi Laut Saat Kapal 5 Jurnalis Hilang hingga Temuan Jasad Surakman

Kondisi Laut Saat Kapal 5 Jurnalis Hilang hingga Temuan Jasad Surakman

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikJabar
Kamis, 24 Sep 2026 11:09 WIB
Jarak Pulau Enggano dengan titik terakhir kapal hilang
Jarak Pulau Enggano dengan titik terakhir kapal hilang (Dok Google Earth)
Bengkulu -

Tim SAR gabungan memastikan jasad pria yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu merupakan anak buah kapal (ABK) Arupadhatu I, Surakman. Ia sebelumnya dinyatakan hilang bersama lima jurnalis yang hendak meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.

Sebagaimana diketahui, kapal rombongan jurnalis itu hilang pada 7 September 2026. Menurut data Komdigi, rombongan ini terakhir terdeteksi di Pulau Sebesi yang berada di kawasan Selat Sunda.

Lima hari berlalu, jenazah ABK, Surakman ditemukan di Pulau Enggano pada 12 September 2026. Pulau Enggano berada di Samudra Hindia. Jarak antara Pulau Enggano dan titik terakhir kapal tersebut terdeteksi sekitar 345,05 kilometer.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, bagaimana kondisi arus laut hingga membuat jenazah ABK terdampar di Pulau Enggano?

Berdasarkan data BMKG, pada 7 September lalu, arus permukaan laut bergerak dominan ke arah barat daya menuju Samudra Hindia dengan kecepatan 0,4-0,9 knot atau setara dengan 0,74-1,67 km/jam. Sedangkan tinggi gelombang 0,3-1,2 meter.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, Tim Ocean Climate Research Group (OCRG), Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, pernah membuat simulasi trerkait arus laut yang membawa kapal rombongan jurnalis itu. Tim ini memanfaatkan model transpor partikel Euler-Lagrangian untuk memetakan pola pergerakan orang yang hanyut di perairan Selat Sunda.

Pemodelan dengan ribuan partikel hipotetik menghasilkan peta probabilitas yang menggambarkan kemungkinan wilayah penyebaran berdasarkan dinamika arus, gelombang, dan angin. Data arus, gelombang hingga angin diambil dari data 7 September hingga 22 September 2026.

Tim yang diketuai peneliti PRIMA BRIN Widodo Setiyo Pranowo menjalankan simulasi menggunakan data arus laut dan sejumlah skenario kondisi korban serta dorongan angin. Menurut Widodo, dinamika arus dan gelombang menjadi faktor penting dalam memperkirakan arah dan kecepatan hanyut.

"Kecepatan hanyut yang dibangkitkan gelombang itu sekitar 40 persen dari total arus permukaan yang ada di lokasi itu. Jadi, kondisi arus seperti ini akan sangat penting bagi prediksi penyebaran korban," ujar Widodo kepada wartawan, Kamis (24/9/2026).

Hasil pemodelan menunjukkan pentingnya ketepatan informasi lokasi awal. Dua versi koordinat lokasi hilang kontak yang berbeda sekitar 30 kilometer menghasilkan lintasan yang sangat berbeda. Dalam satu skenario, partikel bergerak ke barat menyusuri pesisir Lampung, sedangkan skenario lainnya masuk ke arus pantai Samudra Hindia dan bergerak jauh ke arah barat laut. Ketidakpastian 30 kilometer pada titik awal berkembang menjadi sekitar 221 hingga 292 kilometer pada posisi akhir.

Jenazah Ditemukan di Pulau Enggano

Sebelumnya diberitakan jenazah anak buah kapal (ABK) Arupadhatu I, Surakman ditemukan pada 12 September. Tes DNA pun dilakukan.

Polda Banten akhirnya menerima hasil tes DNA pada Selasa (22/9), atau 10 hari setelah jenazah ditemukan.

"Dihasilkan pemeriksaan DNA kurang lebih selama 10 hari. Jadi bukan lama, bukan terlambat, tetapi memastikan tes DNA berjalan dengan baik menghasilkan kejelasan identifikasi sehingga hari ini kita sampaikan kepada rekan-rekan media," ujar Kapolda Banten Irjen Hengki saat jumpa pers di Polda Banten, Rabu (23/9).

Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini.

(rdp/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads