RSUD Bandung Kiwari Alami Lonjakan Pasien, IGD-Rawat Inap Padat

RSUD Bandung Kiwari Alami Lonjakan Pasien, IGD-Rawat Inap Padat

Bima Bagaskara - detikJabar
Rabu, 23 Sep 2026 14:07 WIB
RSUD Bandung Kiwari
RSUD Bandung Kiwari (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar)
Bandung -

RSUD Bandung Kiwari mencatat lonjakan pasien yang signifikan. Sepanjang 1-21 September 2026, total pasien mencapai 2.860 orang dengan rata-rata 136 pasien per hari.

Direktur Utama RSUD Bandung Kiwari dr Arief Budiman mengatakan, lonjakan itu terjadi dengan kondisi penyakit pasien yang beragam. Dari total tersebut, 61 persen pasien dirawat inap dan 31 persen lainnya dipulangkan karena tidak dalam kategori gawat darurat.

"Dari jumlah tadi, kita ada daftar tunggu per harinya itu 10 pasien yang tidak bisa dirawat inap. Tertinggi itu pada tanggal 12 September, ada 23 pasien yang tidak bisa masuk rawat inap, dan juga kami rujuk keluar hanya enam pasien dalam 21 hari," katanya saat ditemui, Rabu (23/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski kondisinya begitu, Arief memastikan bahwa RSUD Bandung Kiwari tidak pernah menolak pasien yang datang. Pasien tersebut akan tetap diperiksa, lalu didiagnosa penyakitnya sesuai kedaruratan yang ada.

ADVERTISEMENT

"Dan yang datang dalam kondisi mengancam nyawa pastinya akan kami upayakan didahulukan. Dan jujur, ketika IGD ini kami padat, maka kami memerlukan tindak lanjut dari lonjakan pasien tersebut," ungkapnya.

"Dan cukup banyak juga pasien sebenarnya dalam kondisi ringan dan stabil. Ini kategorinya triase hijau. Ketika itu triase hijau, maka sesungguhnya bisa dilayani dan lebih cepat di poli rawat jalan," tambahnya.

Arief mengatakan, saat lonjakan terjadi, pasien biasanya datang ke IGD tanpa rujukan dari fasilitas kesehatan (Faskes) tingkat pertama. Namun setelah pemeriksaan, pasien tersebut dinyatakan hanya mengalami keluhan kesehatan yang terbilang ringan.

"Beberapa kasus kami mendapatkan rujukan itu datang tanpa konfirmasi. Nah, langkah-langkah yang sudah diupayakan dan sebagian lagi kami sedang siapkan, yaitu mempercepat perpindahan pasien yang sudah stabil dari IGD ke ruang rawat inap. Kemudian juga pemulangan pasien yang sudah layak pulang dengan kontrol lanjutan ke poli," katanya.

"Terutama sebetulnya yang harus dilakukan adalah edukasi terhadap pasien-pasien yang ringan dan stabil. Kalau ringan dan stabil, sebetulnya tidak seharusnya ke IGD. Jadi datanglah ke IGD kalau memang keadaannya darurat, seperti sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, pendarahan hebat, atau kecelakaan. Untuk keluhan yang lebih ringan, ke Puskesmas, ke klinik, atau bisa di kami ada poli rawat jalan. Justru ini bisa lebih cepat karena memang akan ditangani oleh dokter spesialisnya," tuturnya.

Berdasarkan data RSUD Bandung Kiwari, lonjakan pasien rawat inap, terutama pada anak, rinciannya bergejala hiperpireksia 166 pasien, dehidrasi 162 pasien, bronchopneumonia 151 pasien, dyspepsia 149 pasien dan viral infection 115 pasien. Selanjutnya gejala GEA atau diare 83 pasien, bacterial infection 78 pasien, ISPA 65 pasien, dengue 51 pasien, hingga TB (tuberculosis) paru 14 pasien.

Arief juga mengomentari tentang kasus Influenza A yang kini sedang merebak di Indonesia. Ia mengatakan, RSUD Bandung Kiwari tidak melakukan pemeriksaan secara spesifik untuk kasus yang kini lebih dikenal dengan nama 'Super Flu' tersebut.

Namun, Arief tetap mengimbau warga agar tidak panik ketika anak-anaknya mengalami gejala flu yang berat. Orang tua tetap diwajibkan memeriksakan kondisi kesehatan anaknya, dengan cukup datang ke puskesmas ataupun klinik kesehatan terdekat.

Jadi terkait influenza, memang kami tidak melakukan swab-nya, jadi kami tidak punya data. Mungkin itu yang bisa disampaikan. Kekhawatiran-kekhawatiran tadi, saya kira kalau pasien anak biasanya orang tuanya yang khawatir, karena mungkin sudah sampai ke klinik, kurang apa, kurang puas atau belum ada perbaikan dari sisi pasiennya. Maka mereka menganggap datangnya ke IGD, padahal masih dalam kondisi yang stabil," pungkasnya.



(bba/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads