Mendekati Peringatan Hari Jadi Kota Bandung ke-216 pada 25 September 2026, kota berjuluk Kota Kembang ini menyimpan perjalanan panjang yang menarik untuk ditelusuri. Di balik tata ruang modern dan ramainya aktivitas urban, ada banyak peristiwa penting yang membentuk wajah Bandung hari ini.
Berikut 10 fakta sejarah Kota Bandung yang jarang diketahui:
1. Bekas Danau Purba Raksasa
Sebelum menjadi kawasan metropolitan yang padat, dataran tinggi Bandung dahulu merupakan danau purba raksasa. Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Edi Hidayat, menjelaskan keberadaan Danau Bandung Purba telah dibuktikan melalui penelitian geologi, termasuk pengeboran yang menemukan endapan danau dan rawa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembentukan danau ini berkaitan erat dengan letusan dahsyat Gunung Sunda purba sekitar 90 ribu tahun lalu, sebelum akhirnya airnya surut bertahap sekitar 16 ribu tahun lalu.
2. Asal-Usul Nama Bandung dari Perahu
Kata Bandung dalam bahasa Sunda erat kaitannya dengan kata ngabandungan atau membendung, tetapi ada pula riwayat etimologi perahu berdampingan. Istilah Bandung merujuk pada dua perahu yang diikat berdampingan (perahu bandung).
Moda ini dulu kerap digunakan oleh Bupati Bandung RA Wiranatakusumah II saat menyusuri Sungai Citarum untuk mencari wilayah baru pengganti Krapyak. Selain itu, filosofi air yang terbendung juga merefleksikan sisa-sisa cekungan danau purba.
3. Ibu Kota Pertama Ada di Krapyak
Banyak orang mengira pusat Bandung sejak awal berada di kawasan Alun-Alun dan Asia Afrika. Padahal, ibu kota Kabupaten Bandung pertama kali didirikan di wilayah Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) di tepi Sungai Citarum pada abad ke-17. Nama Dayeuhkolot sendiri secara harfiah bermakna kota tua, menandakan bekas pusat pemerintahan terdahulu.
4. Dipindah karena Rawan Banjir
Alasan utama pemindahan pusat pemerintahan dari Krapyak adalah faktor geografis. Letak Krapyak di tepi Citarum membuat wilayah ini kerap terendam banjir besar setiap kali musim hujan tiba. Masalah banjir tersebut mengganggu jalannya birokrasi dan aktivitas warga, sehingga mendorong rencana pemindahan ke dataran yang lebih tinggi di utara.
5. Sempat Dijuluki "Surga dalam Pembuangan"
Pada abad ke-18, sebelum modernisasi Hindia Belanda, wilayah pedalaman Bandung terisolasi oleh hutan lebat dan perbukitan. Pemerintah kolonial VOC sempat menjadikannya lokasi pengasingan atau penempatan tugas bagi para pegawainya. Karena kondisi alamnya sangat asri, sejuk, dan subur untuk tanaman kopi meski lokasinya terpencil, daerah ini sempat dijuluki Paradise in Exile atau Surga dalam Pembuangan.
6. Komunikasi Radio Antar Benua Pertama
Bandung memegang peranan penting dalam sejarah telekomunikasi dunia lewat Stasiun Radio Malabar di Gunung Puntang, Bandung Selatan. Diresmikan pada tahun 1923, pemancar radio nirkabel berkekuatan raksasa ini berhasil mengirimkan sinyal telegrafi tanpa kabel langsung ke Belanda sejauh 12.000 kilometer. Peristiwa ini menjadi salah satu tonggak komunikasi radio jarak jauh tercepat di dunia pada masanya.
7. Tata Kota Kolonial yang Terkotak-kotak
Pemerintah Hindia Belanda menerapkan politik segregasi ruang (segregasi spasial) dalam perencanaan Kota Bandung pada awal abad ke-20. Wilayah utara (seperti Dago dan Cihampelas) dirancang eksklusif untuk perumahan elite bangsa Eropa dengan konsep garden city. Sementara itu, wilayah tengah dan selatan dialokasikan untuk warga pribumi, serta koridor Pecinan di sekitar Pasar Baru untuk komunitas Tionghoa.
Alasan di balik pengkotakan ini ditujukan untuk menegaskan hierarki rasial, menjaga kontrol sosial-politik, serta menjamin kenyamanan dan kesehatan warga Eropa berdasarkan asas Burgelijke Stand atau pembagian kelas sosial legal.
8. Asal-Usul Nama Simpang Lima
Kawasan Simpang Lima yang ikonik di pusat kota dinamai secara fungsional berdasarkan pertemuannya. Titik persimpangan ini mempertemukan lima jalan utama sekaligus, yakni Jalan Asia Afrika, Jalan Sunda, Jalan Ahmad Yani, Jalan Gatot Subroto, dan Jalan Karapitan. Kawasan ini telah menjadi simpul mobilitas sejak pembukaan Jalan Raya Pos (Groote Postweg) oleh Daendels.
9. Ratusan Ribu Warga Membakar Rumah Sendiri
Peristiwa heroik Bandung Lautan Api pada 24 Maret 1946 menunjukkan pengorbanan besar warganya. Menolak tunduk pada ultimatum Sekutu dan NICA yang meminta Bandung Selatan dikosongkan, sekitar 200 ribu warga bersama tentara pejuang sengaja membumihanguskan rumah serta bangunan penting sebelum mengungsi ke luar kota, agar infrastruktur tersebut tidak bisa dimanfaatkan oleh musuh sebagai markas militer.
10. Gedung Merdeka Mengubah Peta Dunia
Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika menjadi saksi lahirnya gerakan anti kolonialisme global. Lewat Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 18-24 April 1955, para pemimpin dari 29 negara Asia dan Afrika melahirkan Dasasila Bandung. Deklarasi ini memicu gelombang kemerdekaan di berbagai negara terjajah di benua Afrika dan Asia serta melahirkan Gerakan Non-Blok.
(sud/sud)
