Bikin Cemas! 10 Respons AI Habiskan Setengah Liter Air

Bikin Cemas! 10 Respons AI Habiskan Setengah Liter Air

Aisyah Kamaliah - detikJabar
Selasa, 22 Sep 2026 13:00 WIB
Ilustrasi Data Center
Ilustrasi Data Center AI (Foto: Schneider Electric)
Bandung -

Kecerdasan buatan (AI) menimbulkan kekhawatiran baru. Pasalnya, teknologi ini membutuhkan jumlah air yang banyak untuk mendinginkan data center mereka.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan di jurnal Nature, data center berkapasitas 1 megawatt (MW) dapat menggunakan hingga 25,5 juta liter air setiap tahunnya hanya untuk keperluan pendinginan.

Melansir World Economic Forum, Selasa (22/9/2026), angka tersebut yang setara dengan konsumsi air harian sekitar 300.000 orang. Konsumsi air ini memperparah tekanan terhadap ketersediaan air, terutama di wilayah rentan yang sudah menghadapi masalah kelangkaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

AI mengonsumsi energi dalam jumlah besar untuk melatih model data yang kompleks. Saat energi digunakan dalam skala tersebut, air diperlukan untuk mendinginkan mesin-mesin yang menjalankan pemrosesan AI.

Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan dan perluasan data center pendukungnya akan semakin memperberat tantangan ini. GPT-3, sebuah model AI, diperkirakan mengonsumsi 500 ml air untuk setiap 10 hingga 50 respons yang dihasilkan. Jika dikalikan dengan miliaran penggunanya, total jejak air yang dihasilkan oleh AI menjadi sangat besar.

ADVERTISEMENT

Meskipun operator pusat data mulai memahami dan mengukur konsumsi air mereka, aspek ini sering kali kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan jejak karbon dalam operasional inti data center. Hal ini menyoroti adanya peluang penting untuk menerapkan solusi pengelolaan air sirkular yang strategis, seperti pemulihan dan optimalisasi penggunaan air, dalam skala luas di data center.

Lebih lanjut, sebuah studi terbaru memperkirakan bahwa AI dapat mengonsumsi 1,7 triliun galon air secara global pada tahun 2027. Hal ini akan berdampak sangat buruk terhadap sumber daya air.

Menurut The Conversation, penilaian terkini oleh para peneliti Stanford University menunjukkan bahwa dari 9.500 data center yang ada di dunia, sebagian besar terkonsentrasi di Amerika Utara dan Eropa, dan seperempatnya 'sudah berada di lokasi di mana permintaan air melebihi pasokan lokal setidaknya pada sebagian waktu dalam setahun'.

Akibatnya, aksi protes telah terjadi di berbagai tempat, mulai kota-kota besar seperti Vancouver hingga wilayah permukiman kelas pekerja di New Jersey dan desa-desa di Lombardy, Italia. Masyarakat meragukan manfaat pusat-pusat data ini, mengingat berbagai laporan menunjukkan keberadaannya berkaitan erat dengan konsumsi air yang tinggi serta pencemaran air.

Aksi protes paling dekat adalah di negara tetangga, Malaysia. Pesatnya pertumbuhan pusat data di Negeri Jiran mendapat sorotan tajam pada 7 Februari 2026, saat pembangunan fasilitas tersebut memicu protes publik pertama di negara itu.

Lebih dari 50 orang berkumpul di depan lokasi pembangunan data center yang berdekatan dengan kawasan permukiman di negara bagian Johor, wilayah selatan Malaysia. Mereka menuntut diakhirinya polusi debu serta kompensasi atas dampak negatif apa pun yang mungkin ditimbulkan proyek tersebut terhadap kesehatan mereka. Para pengunjuk rasa juga menyatakan kekhawatiran bahwa fasilitas itu akan berdampak pada pasokan air mereka.

Mereka yang berkumpul menyatakan mewakili hampir 1.000 warga yang tinggal di empat kompleks perumahan di distrik Gelang Patah. Proyek yang berlokasi kurang dari satu kilometer dari rumah-rumah terdekat ini dikembangkan untuk perusahaan asal China, Zdata Technologies. Pihak pengembang tidak menemui para pengunjuk rasa, yang kemudian membubarkan diri setelah 90 menit di bawah pengawasan puluhan personel kepolisian.

Artikel ini telah tayang di detikINET. Baca selengkapnya di sini.

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads