Jangan Biarkan Penyintas Kesehatan Mental Merasa Sendirian

Jangan Biarkan Penyintas Kesehatan Mental Merasa Sendirian

Rifat Alhamidi - detikJabar
Senin, 21 Sep 2026 23:30 WIB
Wanita menangis.
(Foto: Ilustrasi menggunakan Gemini AI)
Bandung -

Ada kalanya, seseorang tidak membutuhkan nasihat panjang ketika sedang menghadapi permasalahan. Ia hanya ingin didengar, ditemani, dan diyakinkan bahwa dirinya tidak sendirian.

Namun, menemukan orang yang mau benar-benar mendengarkan tidak semudah membalikkan tangan. Di tengah aktivitas sehari-hari, seseorang bisa saja tetap bekerja, bercanda, bertemu teman, dan terlihat baik-baik saja. Namun di balik itu, ada beban yang mungkin terus dipendam karena tak tahu kepada siapa harus bercerita.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak ayal, sebagian orang memilih menyimpan persoalannya sendiri karena tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Jika terus dibiarkan, beban tersebut dapat semakin berat dan membuat seseorang merasa tidak memiliki jalan keluar dari persoalan yang dihadapinya. Pada kondisi tertentu, persoalan tentang kesehatan mental ini bisa berkembang hingga membahayakan diri sendiri.

Gambaran mengenai kondisi ini terlihat dari data Kementerian Kesehatan. Dalam periode 31 Juli 2025 hingga 31 Juli 2026, dari 15.979 pengguna yang mengakses Healing119.id, 3.036 orang di antaranya tercatat memiliki keinginan mengakhiri hidupnya sendiri.

ADVERTISEMENT

Untuk itulah, pencegahan tidak cukup dilakukan ketika seseorang sudah berada dalam situasi krisis. Kepedulian dari orang-orang terdekat, ruang untuk bercerita, serta keberanian untuk mencari pertolongan menjadi bagian penting agar mereka yang sedang menghadapi persoalan kesehatan mental tidak merasa harus menanggung semuanya seorang diri.

Semangat itulah yang kemudian menggerakkan komunitas Edan Sepur Indonesia bersama Volunteer in Psychology (VIP) melalui kegiatan bertajuk 'Edan Jiwa dan Boleh Cerita'. Kamis (10/9) kemarin, acara ini menjadi ruang edukasi, membuka konsultasi psikologis, sekaligus mengajak masyarakat memahami bahwa terkadang hal sederhana seperti hadir, mendengarkan, dan membuat seseorang merasa tidak sendirian bisa menjadi bagian dari upaya pencegahan kejadian yang mengarah ke kasus bunuh diri.

"Dan ternyata tanggal 10 September kemarin itu bertepatan dengan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia. Jadi bagi kami akhirnya, isu tentang kesehatan mental itu tidak bisa kita sepelekan," kata Koordinator Daerah 2 Edan Sepur Indonesia Abdullah Putra Gandhara mengawali perbincangannya dengan detikJabar, Jumat (11/9/2026).

Aktivitas ini dipusatkan di Taman Segitiga Merah Viaduct, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung. Siapa saja bebas datang, bercerita, bahkan konsultasi dengan ahli yang disiapkan.

Acara ini sekaligus ingin menyoroti tiga hal. Mulai dari sosialisasi, edukasi dan meningkatkan kepedulian sesama untuk masalah kesehatan mental, konsultasi psikologis, serta ingin mengaktifkan kembali ruang publik di Kota Bandung.

"Jadi bagaimana sih caranya kita kalau bertemu dengan orang yang punya niatan (bunuh diri) atau ada isu kesehatan mental. Jadi seperti apa empati yang kita berikan, kemudian juga langkah penanganan yang tepat apa yang harus dilakukan pertama itu. Sekaligus kita pengin menyampaikan bahwa ini ruang publik, jadi ketika teman-teman merasa lagi ada kecemasan, kegalauan dan segala macam, mungkin bisa nongkrong di situ," tuturnya.

Bagi Edan Sepur, persoalan tersebut bukan sekadar teori. Dalam aktivitasnya di lapangan, komunitas yang biasanya berjaga di perlintasan sebidang rel kereta api ini beberapa kali berhadapan dengan orang yang diduga sedang berada dalam kondisi tertekan hingga mengarah pada upaya mengakhiri hidup.

Agha, begitu ia akrab disapa, mengatakan dari pengalaman tersebut, satu pola yang cukup sering terlihat adalah perasaan buntu. Mereka ingin mencari jalan keluar dari persoalan yang dihadapi, tetapi merasa tidak menemukan solusi. Di saat yang sama, muncul perasaan bahwa tidak ada orang yang bisa menjadi tempat untuk bercerita.

"Kalau dari sisi kami yang di lapangan, kebanyakan dia sebenarnya ingin ditolong, tapi mentok, solusinya enggak ada. Kemudian merasa di dunia ini cuma saya sendiri," ungkapnya.

Gambaran itu terlihat dari data yang dihimpun Edan Sepur. Sepanjang 2026, tercatat ada 9 kejadian yang ditangani setelah laporan masuk melalui direct message (DM) maupun call center 112 dan 119. Dari jumlah tersebut, 2-3 kejadian berujung pada korban meninggal dunia.

Kondisi itu pula yang membuat Edan Sepur menilai upaya pencegahan tidak bisa hanya dilakukan ketika seseorang sudah berada di titik krisis. Menurut Agha, perhatian justru perlu diberikan jauh sebelum seseorang sampai pada kondisi tersebut.

Edan Sepur pun sudah memetakan mana saja titik-titik rawan bagi seseorang yang kerap bertindak nekat untuk mengakhiri hidup. Lokasinya terbilang ramai kendaraan berlalu-lalang, namun kerap diabaikan begitu saja saat bertemu di jalan.

Beberapa contoh lokasinya yaitu Flyover Mochtar Kusumaatmadja atau Flyover Pasupati, Flyover Antapani hingga Flyover Kiaracondong. Sementara di perlintasan sebidang kereta api yaitu di petak Kiaracondong-Gedebage, tepat di bawah jembatan Apartemen Panoramik, hingga petak Andir, Cimindi dan Cimahi.

Lokasi ini Edan Sepur petakan bukan untuk membuat seseorang terinspirasi mengakhiri hidupnya sendiri. Justru, harapannya, masyarakat bisa lebih peduli ketika melihat gerak-gerik mencurigakan seseorang jika berada di lokasi tersebut.

Dari sekian pengalaman Edan Sepur di lapangan, ada cara khusus yang menurut Agha bisa dilakukan ketika menemukan orang yang berusaha mengakhiri hidupnya. Yang paling penting, buat orang tersebut merasa nyaman terlebih dahulu dan tidak terganggu oleh kedatangan kita di sana.

"Ketika kita mengetahui ada orang yang sebenarnya ada indikasi punya kecemasan, kegalauan dan segala macam, mungkin yang pertama harus kita lakukan buat dia nyaman. Biasanya sih ya kalau orang-orang kayak gitu sih diajak makan dulu aja, kasih makanan atau minuman yang buat dia nyaman senyaman mungkin," ucapnya.

"Kalau kita, biasanya ngasih coklat, karena coklat itu kan ada zat yang bisa meningkatkan mood. Kalau dia lapar, apalagi kalau dia ketahuan belum makan, itu lebih gampang lagi. Ngajak makan aja gitu kayak gitu," tambahnya.

Setelah situasinya jadi nyaman, posisikan diri kita sebagai pendengar, memberi empati dan jangan langsung menghakimi orang tersebut. Sebab terkadang kata Agha, orang itu hanya ingin bercerita tanpa perlu diberi solusinya.

"Kalau misalkan bisa memberikan solusi, berikan solusi. Tapi kalau dia merasa kayaknya saya enggak butuh solusi, saya cuma butuh didengarkan, itu juga enggak jadi masalah. Yang penting adalah kita bisa jadi teman cerita, teman untuk mendengarkan."

"Itu cukup penting karena ketika ada orang yang nyaman untuk mendengarkan cerita ini itu hal yang sangat baik juga pada akhirnya. Nah, itu dari sisi kita untuk bisa menolong penyintasnya," katanya.

Sementara, untuk siapa saja yang sedang dilanda masalah kesehatan mental, Agha punya pesan yang begitu krusial. Jika memang punya masalah, ceritakan lah masalah itu untuk membuat orang tersebut merasa lebih baik dibanding harus dipendam.

"Dan jangan khawatir dengan apa yang akan diceritakan, baik ke orang terdekat atau ke orang yang tidak kita kenal sekalipun. Kemudian dari pemerintah kota juga banyak kanal aduannya yah. Bisa melalui puskesmas, PSC 119, atau ke komunitas seperti kami," katanya.

"Intinya, jangan sampai penyintas yang punya masalah kesehatan mental itu merasa dia sendirian. Kebanyakan karena dia merasa sendirian, akhirnya dia berupaya untuk melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan dirinya, bahkan sampai ke arah bunuh diri," tandasnya.

(ral/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads