Influenza A pada Anak: Gejala, Tanda Bahaya, dan Cara Pantau

Influenza A pada Anak: Gejala, Tanda Bahaya, dan Cara Pantau

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Selasa, 22 Sep 2026 06:30 WIB
Woman is holding a COVID-19 anti-coronavirus mask as protection against infection
Ilustrasi (Foto: Getty Images/sestovic)
Bandung -

Kenaikan kasus virus Influenza A yang marak menginfeksi anak belakangan ini tengah menjadi sorotan. Kondisi tersebut menuntut orang tua untuk mengenali gejala influenza dan mengetahui tanda bahayanya.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp. Inf.P.T., mengatakan sebagian anak yang terkena influenza dapat mengalami gejala seperti demam, batuk, sakit tenggorokan, hingga hilang nafsu makan.

Apa bedanya infeksi virus Influenza A dengan pilek biasa, serta apa saja tanda bahaya yang perlu diwaspadai? Simak ulasan selengkapnya berikut ini!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perbedaan Gejala Influenza dengan Selesma serta COVID-19

Influenza A dapat muncul dengan gejala yang cukup mendadak. Beberapa keluhan yang dapat dialami anak antara lain demam, badan terasa sakit atau pegal, sakit tenggorokan, batuk kering, tenggorokan terasa gatal, lemas, dan nafsu makan menurun.

Batuk pada influenza juga dapat terasa cukup mengganggu karena tenggorokan mengalami iritasi. "Batuknya itu kering dan gatal, kadang seperti terasa ada pasir di tenggorokan," ujar Anggraini dalam diskusi daring bersama IDAI belum lama ini.

ADVERTISEMENT

Influenza A kerap dianggap sama dengan selesma atau common cold karena sama-sama dapat menyebabkan batuk dan gangguan saluran pernapasan.

Namun, Anggraini memaparkan, influenza umumnya memiliki gejala yang muncul lebih mendadak dan terasa lebih berat, seperti demam tinggi yang tiba-tiba, badan sakit, dan nafsu makan menurun.

"Kalau influenza biasanya onset-nya lebih cepat, kemudian demamnya tinggi, badan sakit, nafsu makan turun. Kalau selesma biasanya lebih ringan," kata Anggraini.

Sementara itu, influenza juga memiliki sejumlah gejala yang mirip dengan COVID-19. Demam dan batuk dapat muncul pada kedua penyakit tersebut sehingga gejala saja tidak selalu cukup untuk memastikan penyebab infeksinya.

"Tapi kalau sudah ada gangguan penciuman atau mata yang bengkak atau memerah, juga ruam pada tubuh, itu biasanya lebih mengarah ke COVID-19," ungkapnya.

Virus Influenza A juga disebut memiliki masa inkubasi yang sangat cepat, bahkan lebih cepat dibanding COVID-19. Pemulihan gejalanya pun dapat berlangsung cukup lama. "Gejalanya bisa berkepanjangan, puncaknya di hari keempat dan kelima. Tapi pemulihan bisa lebih dari dua minggu," terangnya.

Tanda Bahaya Influenza A pada Anak

Anak yang mengalami influenza tidak selalu membutuhkan perawatan di rumah sakit. Jika kondisinya masih baik, anak dapat beristirahat dan dipantau di rumah.

Namun, orang tua perlu lebih waspada apabila muncul perubahan kondisi. Anggraini mengatakan, orang tua sebaiknya memperhatikan aktivitas anak, kemampuan makan dan minum, serta buang air kecil.

"Anak mungkin belum mampu bilang kalau dia sedang sakit. Radar terbaika ada di orang tua dan pengasuhnya," ungkapnya.

Berikut beberapa tanda bahaya pada infeksi Influenza A yang perlu diwaspadai:

1. Anak Sulit Dibangunkan atau Sangat Lemas

Anak yang sedang demam memang dapat lebih banyak tidur dan terlihat lemas. Namun, orang tua perlu waspada jika anak sulit dibangunkan, sangat lemah, atau tidak memberikan respons seperti biasanya.

Perubahan aktivitas dapat menjadi petunjuk penting. Ketika demam mulai turun, perhatikan apakah anak kembali berinteraksi dan bermain seperti biasa.

"Setelah demamnya turun, apakah anak aktif seperti biasa. Kalau ya, berarti aman," jelasnya.

2. Tidak Mau Makan dan Minum

Nafsu makan yang menurun saat sakit masih cukup umum terjadi. Orang tua tidak perlu memaksakan makanan dalam jumlah banyak jika anak sedang tidak berselera.

Namun, kemampuan anak untuk minum jauh lebih penting diperhatikan. Jika anak tidak mau atau tidak mampu minum, risiko kekurangan cairan dapat meningkat.

"Yang paling penting itu minumnya. Kalau makan mungkin dia tidak mau, tidak apa-apa, yang penting cairannya masuk," ujar Anggraini.

Jika anak terus menolak minum hingga membuat orang tua khawatir, kondisi tersebut dapat menjadi alasan untuk segera mencari pertolongan medis.

3. Anak Jarang atau Tidak Pipis

Frekuensi buang air kecil juga dapat menjadi petunjuk kondisi cairan tubuh anak. Anak yang semakin jarang pipis ketika sedang sakit perlu mendapat perhatian, terlebih jika disertai tidak mau minum.

"Lihat frekuensi buang air kecilnya, kalau masih pakai popok lihat 4 jam sekali. Kalau bagus, berarti oke. Bila dalam 6 jam belum buang air kecil, segera perbaiki asupan (cairan) nya," paparnya.

4. Napas Cepat atau Sulit Bernapas

Tanda bahaya lainnya adalah gangguan pernapasan. Orang tua perlu segera memperhatikan apabila napas anak menjadi cepat, tampak kesulitan bernapas, atau terlihat bekerja keras saat menarik dan mengeluarkan napas.

Kondisi tersebut tidak sebaiknya ditunggu hingga semakin berat karena influenza dapat menimbulkan komplikasi, termasuk pada sistem pernapasan.

5. Bibir atau Kulit Tampak Kebiruan

Perubahan warna bibir atau kulit menjadi kebiruan merupakan tanda yang perlu segera mendapat pertolongan medis. Kondisi tersebut dapat menunjukkan adanya gangguan serius pada tubuh anak.

Jika tanda tersebut muncul, orang tua sebaiknya segera membawa anak ke IGD untuk mendapatkan pemeriksaan.

6. Anak Mengalami Kejang

Demam yang disertai kejang merupakan tanda bahaya. Begitu pula apabila anak mengalami perubahan kesadaran, sulit dibangunkan, atau menunjukkan perilaku yang sangat berbeda dari biasanya.

"Segeralah ke IGD kalau anak sulit dibangunkan, gelisah, ada kejang, napas cepat, kebiruan, dan ada pendarahan," jelasnya.

Tiga Hal yang Perlu Dipantau Orang Tua

Saat anak mengalami Influenza A, orang tua dapat menjadikan tiga hal ini sebagai perhatian utama, yakni aktivitas anak, kemampuan makan dan minum, serta buang air kecil.

"Ada tiga pertanyaan emas untuk menentukan kapan perlu dibawa ke dokter. Yaitu apakah aktivitas anaknya berbeda, bagaimana makan dan minumnya, serta lihat outputnya," jelasnya.

Ia mengatakan, anak yang lebih lemas dari biasanya dan sulit beraktivitas, tidak mau makan dan minum hingga membuat khawatir, serta popok yang terus kering dapat menjadi sinyal penting.

"Kalau sudah sampai tidak sanggup minum, bawa ke IGD. Cairan bisa ditambah sedikit gula, juga bisa berupa kuah sop, susu, atau dari buah-buahan," ungkapnya.

Kapan Anak Boleh Kembali Sekolah?

Anggraini memaparkan, anak yang sedang sakit sebaiknya tidak dipaksakan untuk masuk sekolah. Selain membutuhkan waktu untuk beristirahat, anak yang mengalami influenza juga masih dapat menularkan virus kepada orang lain.

"Kalau anak sakit jangan sekolah. Jangan dibawa ke tempat yang banyak orang," ujarnya.

Waktu yang tepat untuk kembali bersekolah setelah terjangkit Influenza A, ia mengatakan, adalah ketika virus sudah berkurang kemampuan penularannya. "Gejala itu akan muncul dalam 24 jam hingga 5 hari. Setelah 5 hari, penularan mulai berkurang. Tetapi untuk anak, masa penularan lebih tinggi. Bisa mencapai 10 hari," jelasnya.

Sehingga, di rentang waktu tersebut, anak sebaiknya masih berada dalam pemantauan orang tua untuk meminimalisasi penularan pada anak lain.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads