Setiap orang mempunyai cara dan aktivitas yang berbeda untuk menghabiskan waktu luang. Di antaranya, orang-orang cerdas pun ternyata punya aktivitas yang menarik baginya.
Aktivitas seperti memecahkan teka-teki, melakukan deep talk, hingga membaca literatur yang menantang disukai oleh orang yang sangat cerdas atau ber-IQ tinggi. Tak hanya menjadi hiburan, aktivitas tersebut bisa menstimulasi pikiran.
7 Aktivitas yang Disukai Orang Ber-IQ Tinggi
Dikutip dari laman Your Tango dan Medium, berikut sejumlah aktivitas yang disukai dengan orang sangat cerdas atau ber-IQ tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Memecahkan Masalah dan Teka-teki yang Kompleks
Beberapa aktivitas seperti permainan catur, puzzle, atau menyelesaikan tantangan tertentu akan cukup memuaskan bagi orang-orang yang sangat cerdas. Telah terbukti juga bahwa berpartisipasi dalam aktivitas yang menuntut kemampuan mental ini bisa memberi dampak yang cukup besar pada fungsi kognitif tertentu.
Menurut Marcel Danesi, PhD, profesor semiotika dan antropologi di Victoria College, University of Toronto, teka-teki dapat merangsang bagian-bagian tertentu dari otak.
"Teka-teki yang berkaitan dengan kemampuan berbahasa- seperti teka-teki dan akrostik-cenderung merangsang area bahasa di otak. Sedangkan teka-teki yang berkaitan dengan aspek berpikir logis-seperti menempatkan simbol dengan cara tertentu dalam sebuah kisi-cenderung merangsang area pemrosesan logika," katanya.
Orang-orang dengan IQ tinggi memang senang memecahkan masalah. Bukan karena diminta, tetapi karena secara spontan mereka menyadari adanya sesuatu yang tidak efisien dan ingin membuatnya menjadi lebih optimal.
Permainan memecahkan teka-teki seperti TTS bisa dilakukan karena sangat baik untuk menjaga kesehatan otak. Bermain TTS dapat membantu mencegah penyakit yang berhubungan dengan otak, seperti prademensia atau penurunan daya ingat.
2. Melakukan 'Deep Talk'
Orang dengan kecerdasan tinggi terkadang memilih melepas penat dengan terlibat dalam percakapan yang bermakna dan menggugah pikiran bersama orang-orang terdekat.
Jika sebagian orang merasa cukup bersantai dengan mengesampingkan pikiran dan menghabiskan waktu bersama teman-teman dalam kegiatan yang tidak terlalu berarti, hal serupa tidak berlaku bagi mereka yang memiliki IQ tinggi.
"Terhubung dengan orang lain dengan cara yang bermakna cenderung membuat orang lebih bahagia, namun orang juga tampaknya enggan untuk terlibat dalam percakapan yang lebih dalam dan bermakna," kata Nicholas Epley, PhD, seorang profesor ilmu perilaku di University of Chicago Booth School of Business, menurut penelitian yang diterbitkan oleh American Psychological Association.
"Manusia adalah makhluk sosial yang cenderung saling membalas dalam percakapan. Jika Anda berbagi sesuatu yang bermakna dan penting, kemungkinan besar Anda akan mendapatkan sesuatu yang bermakna dan penting sebagai balasan, yang mengarah pada percakapan yang jauh lebih baik," lanjut Epley.
3. Mempelajari Bahasa Baru
Karena orang dengan kecerdasan tinggi membutuhkan stimulasi mental, mempelajari bahasa baru dapat menjadi aktivitas yang menarik bagi mereka. Kegiatan ini tidak hanya menantang pikiran, tetapi juga mendorong kemampuan berpikir strategis.
Mempelajari bahasa melibatkan proses memahami tata bahasa dan sintaksis. Sama seperti mengerjakan teka-teki, aktivitas tersebut dapat melatih fungsi otak yang berbeda.
4. Melakukan Kegiatan yang Bersifat Kreatif
Meski orang dengan kecerdasan tinggi cenderung menggunakan bagian otak yang berkaitan dengan logika dan kepraktisan dalam menjalani aktivitas sehari-hari, mereka juga dapat menikmati kegiatan sederhana yang bersifat kreatif, seperti melukis, memahat, membuat keramik, bermusik, hingga fotografi.
Proses menciptakan karya seni, apa pun bentuknya, bisa sama menariknya dengan membaca buku tentang pendidikan atau filsafat.
"Aktivitas apa pun yang melibatkan pikiran kreatif-kemampuan menghubungkan berbagai hal yang sebelumnya tidak berkaitan dan membayangkan cara baru untuk menyampaikan sesuatu-itu baik untuk Anda," ujar Girija Kaimal, profesor di Drexel University sekaligus peneliti terapi seni, kepada National Public Radio.
5. Mengoleksi Barang
Mengoleksi buku langka, karya seni, barang antik, atau benda koleksi lainnya bisa menjadi salah satu hobi yang dilakukan orang dengan kecerdasan tinggi. Aktivitas ini memberi kesempatan untuk mempelajari kembali sejarah sekaligus mengasah ketertarikan terhadap nilai pengetahuan dan estetika.
Mengoleksi benda langka bukan sekadar tentang memiliki lebih banyak barang. Bagi sebagian orang, aktivitas ini juga mencerminkan ketertarikan dan apresiasi yang mendalam terhadap beragam budaya di sekitar. Setiap benda memiliki cerita dan bagian dari sejarah dunia yang dapat menjadi sumber ketertarikan bagi mereka.
Dikutip dari lama Economic Times, orang yang mengoleksi barang antik seringkali menikmati emosi yang melekat pada sejarah. Misalnya sebuah radio tua bisa mengingatkan mereka pada kakek dan nenek, atau sebuah kartu pos tulisan tangan bisa membuat seseorang merasa terhubung dengan seseorag yang belum pernah mereka temui.
6. Bepergian dan Menjelajahi Berbagai Budaya
Bepergian dan menjelajahi berbagai budaya memungkinkan seseorang untuk menikmati waktu yang menyenangkan. Misalnya, dengan mengunjungi tempat-tempat yang kaya akan seni, sejarah, arsitektur, bahasa, dan tradisi, atau dengan mendapatkan perspektif yang sangat berbeda dari yang ditemui setiap hari.
Dari sejumlah aktivitas yang dinikmati oleh orang-orang cerdas, kemampuan mengelilingi dunia dan menjelajahi berbagai budaya bisa membantu mereka memperluas pandangan dan persepsi.
Alih-alih mengunjungi tempat-tempat wisata yang populer, orang dengan kecerdasan tinggi justru dapat menemukan kesenangan dengan berjalan-jalan di tengah kehidupan masyarakat lokal. Mereka menikmati kesempatan untuk mengenal suatu negara melalui sudut pandang orang-orang yang telah tinggal di sana sepanjang hidupnya.
Dengan begitu, mereka bisa memperluas wawasan dan pemahaman.
7. Membaca Literatur yang Menantang
Orang-orang yang sangat cerdas terus mencari cara untuk tetap terlibat dan terdidik. Bahkan, membaca buku di waktu luang adalah sesuatu yang dianjurkan untuk dilakukan oleh semua orang.
Sebuah studi tahun 2016 yang diterbitkan dalam Social Science & Medicine dan melibatkan peserta di atas 50 tahun menemukan bahwa membaca buku bisa mengurangi angka kematian hingga 20 persen selama masa tindak lanjut dibandingkan dengan mereka yang tidak membaca buku.
Orang-orang yang sangat cerdas membaca bukan sekadar untuk menyelesaikan sebuah buku, tetapi untuk memahami berbagai cara berpikir yang ada di dalamnya.
Oleh sebab itu, mereka dapat berpindah-pindah dari satu topik ke topik lainnya. Misalnya, hari ini membaca filsafat, besok mempelajari pemrograman.
Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini.
(elk/yum)
