Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) merayakan hari jadinya yang ke-66 di Gedung Pascasarjana, Kampus Jatinangor, Sumedang, Jumat (18/9/2026). Peringatan ini menjadi momentum bagi Fikom Unpad untuk mempertegas komitmen dalam mengembangkan pendidikan komunikasi yang inovatif dan relevan dengan dinamika zaman.
Rangkaian acara Dies Natalis ini meliputi orasi ilmiah, seminar akademik, pameran karya mahasiswa, hingga temu alumni. Agenda utama dibuka secara resmi oleh jajaran pimpinan fakultas dan rektorat.
Dekan Fikom Unpad, Nindi Aristi, menyatakan bahwa perjalanan lebih dari enam dekade telah memposisikan Fikom Unpad sebagai pionir pendidikan komunikasi di Indonesia. Ia menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai positif dari para pendahulu sembari terus melangkah maju.
"Tema ini sangat relevan dengan posisi Fikom saat ini. 66 tahun perjalan yang dibangun oleh banyak generasi, karena itu kita perlu menghargai kontribusi dari para pendahulu kami dan menjaga hal-hal yang baik dibangun," ujar Nindi dalam sambutannya.
Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital, Nindi menegaskan Fikom Unpad tetap fokus melahirkan lulusan yang unggul secara akademis sekaligus mampu menjaga relevansi profesi.
"Namun pada saat yang bersamaan kita juga memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan Fikom agar mampu menjawab perubahan pendidikan tinggi, perkembangan teknologi, kebutuhan dunia profesi sebagai persoalan komunikasi di masyarakat," katanya.
Nindi juga memaparkan berbagai capaian fakultas, mulai dari prestasi akademik, riset, publikasi ilmiah, hingga pengembangan teknologi melalui berbagai program internal Fikom.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Pemasaran Unpad, Rizky Abdulah, mengapresiasi kontribusi Fikom selama 66 tahun dalam mencetak praktisi dan akademisi terkemuka di tanah air.
"66 tahun bukan perjalanan yang singkat dalam perjalanan tersebut Fikom telah melahirkan banyak praktisi, akademisi, pimpinan bangsa, yang telah berkontribusi pada bidang komunikasi di Indonesia," kata Rizky.
Bagi Rizky, Dies Natalis bukan sekadar seremonial, melainkan ruang introspeksi untuk menentukan peran fakultas dalam satu hingga dua dekade mendatang.
"Dies Natalis tidak hanya mempunyai kesempatan melihat apa yang telah dicapai, tetapi momentum ini juga menjadi penting untuk kita introspeksi peran seperti apa yang dimainkan Fakultas Ilmu Komunikasi baik 10 atau 20 tahun ke depan," tuturnya.
Rizky menyoroti paradoks komunikasi saat ini, di mana teknologi memungkinkan informasi tersebar cepat namun memicu krisis kepercayaan publik. Fikom diharapkan mampu mencari solusi agar informasi aktual tetap menjadi prioritas.
"Peran ini semakin penting karena di dunia komunikasi saat ini sedang mengalami perubahan mungkin jauh lebih cepat dari yang sudah kita prediksi sebelumnya, hari ini kita ada di suatu paradoks komunikasi, kita memiliki teknologi yang memungkinkan informasi bergerak lebih cepat, menjangkau banyak orang dan diproduksi oleh siapa saja. Tapi saat yang sama kita menghadapi persoalan yang semakin serius mengenai kepercayaan dan termasuk informasi itu sendiri," ungkapnya.
"Tadi disampaikan Dekan seperti AI, gambar, teks, suara dan video diproduksi dalam hitungan detik. Ini bukan persoalan masa depan tapi persoalan kita saat ini," sambung Rizky.
Simak Video "Leaders Talk: CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi Bahas Semangat Gotong Royong, Bersinergi untuk Indonesia"
(dir/dir)