Analisis Pakar soal Video Viral Keisha Unpad dan Dedi Mulyadi

Analisis Pakar soal Video Viral Keisha Unpad dan Dedi Mulyadi

Wisma Putra - detikJabar
Jumat, 21 Agu 2026 13:13 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM)
Analisis Pakar Soal Video Viral Keisha Unpad dan Dedi Mulyadi. (Foto: Dok. Pemprov Jabar)
Bandung -

Nama Keisha, mahasiswi Program Studi Sarjana Terapan Administrasi Pemerintahan Unpad, mendadak viral di media sosial (medsos). Video perbincangan dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam kegiatan Penerimaan Raya Mahasiswa Baru Universitas Padjadjaran (Prabu) 2026 yang diselenggarakan awal Agustus lalu menyedot perhatian publik dan menuai pro-kontra.

Pascaviral, Keisha dikabarkan mengalami tekanan psikologis akibat oversharing kepada Dedi Mulyadi. Selain itu, Keisha dikabarkan enggan berkuliah dan malu kepada teman-temannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di satu sisi, Rektor Unpad Arief Sjamsulaksan Kartasasmita mengatakan kondisi Keisha baik-baik saja. Begitu pun Dedi Mulyadi yang menyebut Keisha dalam keadaan baik, namun Keisha meminta kepada warganet untuk tidak terus membagikan potongan video dirinya saat berbincang dengan KDM.

Hal tersebut menyorot perhatian Dosen Fakultas Komunikasi Unisba, Muhammad W. Fuady. Fuad, sapaan karibnya, mengatakan perbincangan Keisha dan KDM jangan dilihat dari potongan video saja.

ADVERTISEMENT

"Kita bisa memaknai peristiwa bincang-bincang antara Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Keisha, mahasiswa baru Universitas Padjadjaran, dari perspektif komunikasi. Peristiwa ini tidak cukup dibaca hanya dari potongan video yang beredar di media sosial, tetapi perlu dilihat dari keseluruhan konteks ketika komunikasi itu berlangsung, siapa yang berkomunikasi, apa yang dibicarakan, serta bagaimana percakapan tersebut kemudian berpindah dari ruang akademik ke ruang digital," kata Fuad kepada detikJabar, Jumat (21/8/2026).

"Jika mencermati tayangan secara penuh dan utuh, komunikasi antara keduanya sebenarnya berlangsung terbuka, hangat, dan responsif. Tidak tampak adanya tekanan dalam percakapan tersebut. Keisha tampil sebagai sosok remaja yang ekspresif dan apa adanya. Seorang mahasiswa baru yang ceplas-ceplos bertemu dengan gubernur yang memang memiliki karakter komunikasi spontan dan cair. Dialog keduanya bahkan berakhir dengan happy ending. Keisha juga mendapatkan perhatian dan bantuan dari gubernur. Semua tampak clear," tambahnya.

Fuad mengungkapkan persoalannya, dalam percakapan tersebut terdapat beberapa momen yang menggelitik. Ketika bagian-bagian tertentu dipenggal dari percakapan utuh, sangat mungkin muncul respons dan persepsi yang berbeda.

Di media sosial, misalnya, beredar klip pendek ketika mahasiswa bercerita mengenai latar belakang keluarganya. Ketika berdiri sendiri, cerita tersebut dapat membuat orang menilai ia terlalu open mengenai kehidupan pribadinya. Mungkin ia sendiri tidak sepenuhnya menyadari bahwa ada batas antara domain privat dan publik. Diksi yang digunakan saat bercerita juga turut menentukan bagaimana penilaian.

"Jika dikaitkan dengan karakter komunikasi Gen Z, mereka tumbuh dalam lingkungan ketika berbagi pengalaman melalui media digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Batas antara ruang privat dan ruang publik menjadi semakin tipis. Cerita mengenai keluarga, pengalaman pribadi, kegelisahan, bahkan persoalan yang dahulu dianggap sangat personal dengan mudah menjadi materi story, vlog, podcast, atau konten media sosial," ungkapnya.

Jadi menurut Fuad, dalam perbincangan dengan gubernur pun, mahasiswa bicara sesuai dengan apa yang menjadi pengalamannya. Tentu tidak semua Gen Z demikian, tetapi kultur sharing di media digital membuat keterbukaan terhadap persoalan personal menjadi jauh lebih lazim.

"Momen lain yang kemudian mengundang polemik adalah ketika gubernur memberikan tanggapan mengenai pilihan program studi Keisha. Dedi Mulyadi memang dikenal sebagai sosok yang spontan dalam merespons situasi. Gaya tersebut selama ini justru menjadi salah satu kekuatan komunikasinya karena membuat dirinya terlihat cair dan dekat dengan masyarakat. Namun dalam konteks ini, lulusan maupun mahasiswa baru program studi tersebut sangat wajar apabila merasa kecewa dengan pernyataan yang disampaikan. Pesan tersebut diterima publik sebagai sebuah warning atau peringatan," jelasnya.

Terlebih yang berbicara menurut Fuad adalah seorang gubernur. Kalimat yang mungkin terdengar sebagai candaan ketika disampaikan antarteman memiliki bobot berbeda ketika disampaikan seorang gubernur kepada mahasiswa dalam situasi publik. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula konsekuensi komunikasinya. Karena itu, spontanitas tetap membutuhkan sensitivitas terhadap siapa yang menjadi lawan bicara dan dalam situasi apa komunikasi berlangsung.

"Tidak mengherankan jika kemudian bermunculan klip mengenai percakapan tersebut di beranda media sosial. Potongan yang mengandung polemik tentu memiliki daya tarik lebih besar untuk dibagikan, dikomentari, dan diperdebatkan. Apalagi publik media sosial kita mempunyai kecenderungan senang meluaskan berbagai kontroversi. Percakapan yang semula berlangsung dalam sebuah acara akhirnya keluar dari konteks awal dan memasuki ruang interpretasi yang jauh lebih luas," terangnya.

Dalam kajian komunikasi, fenomena ini dapat dibaca sebagai context collapse, runtuhnya batasan konteks sosial karena teknologi digital. Dialog dalam konteks event dengan mahasiswa baru, ketika rekaman dipotong dan tersebar di media sosial, audiensnya berubah.

Orang yang tidak hadir, tidak menyaksikan percakapan secara utuh, dan tidak mengetahui suasana ketika dialog berlangsung ikut memberikan pemaknaan. Akibatnya, satu peristiwa komunikasi dapat melahirkan banyak respons yang berbeda.

"Di sinilah berlaku prinsip bahwa komunikasi bersifat irreversible. Pesan yang telah disampaikan tidak dapat ditarik kembali seolah-olah tidak pernah terjadi. Klarifikasi dapat diberikan, konteks dapat dijelaskan, bahkan kesalahpahaman dapat diluruskan, tetapi jejak pesan dan persepsi yang telah terbentuk tidak serta-merta menghilang. Terlebih pada era digital ketika sebuah ucapan dapat direkam, disimpan, dipotong, dan disebarluaskan kembali kapan saja," paparnya.

Mencermati gaya komunikasi KDM, kontroversi sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Jawa Barat memiliki gubernur yang memang tidak khawatir berhadapan dengan kontroversi, KDM merupakan sosok yang selalu berada di pusaran isu. Berpindah dari satu kontroversi berlanjut ke kontroversi lainnya.

"Karakter komunikasi semacam itu pula yang ikut membuat dirinya memiliki tingkat popularitas yang tinggi. KDM memahami bagaimana perhatian publik bekerja dan memiliki kemampuan mempertahankan dirinya dalam percakapan publik," paparnya.

Secara normatif, Fuad menuturkan jika pejabat publik sebaiknya membuat statement yang memotivasi dan membangun kepercayaan diri audiensnya. Kritik terhadap program studi atau dunia pendidikan misalnya, tentu sah disampaikan, tetapi konteks, momentum, dan cara menyampaikannya tetap perlu diperhatikan.

"Bagaimanapun, spontanitas merupakan salah satu karakter dan kekuatan KDM, tetapi perlu dibarengi sensitivitas, empati, dan kesadaran atas dampak ucapan beliau," pungkasnya.

(wip/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads