Kabar mengejutkan datang dari Negeri Paman Sam. Amerika Serikat akhirnya blak-blakan mengakui kalau mereka sudah menempatkan senjata di orbit Bumi. Sekretaris Angkatan Udara AS, Troy Meink, mengonfirmasi bahwa apa yang disebut 'senjata kendali antariksa' tersebut bakal digunakan untuk melindungi pasukan AS yang ada di planet ini. Langkah ini jadi sinyal kuat dimulainya babak baru militerisasi di luar angkasa yang kian nyata.
Para ahli pun mulai pasang alarm waspada. Pengakuan Meink ini dianggap sebagai pesan terbuka untuk China dan Rusia, yang berisiko mengubah orbit Bumi menjadi zona tempur baru. Bayangkan saja, jika perang pecah di atas sana, satelit-satelit yang selama ini menyokong layanan vital seperti GPS, intelijen militer, hingga infrastruktur sipil bisa jadi sasaran empuk untuk saling hancurkan.
Meski sudah mengaku, AS masih main rahasia-rahasiaan soal detailnya. Meink tidak merinci kapan senjata itu diluncurkan, berapa jumlahnya, atau apa misi spesifiknya. "Hari ini, kami terus memastikan bahwa kami tetap siap menghadapi tantangan ancaman yang terus berkembang di mana pun mereka berada," kata Meink.
Victoria Samson, Chief Director Space Security and Stability dari Secure World Foundation, menyoroti istilah 'kendali antariksa' sebagai poin krusial. Menurutnya, "Kendali antariksa mencakup area misi yang diperlukan untuk memperebutkan dan mengendalikan domain luar angkasa," katanya.
Samson juga menambahkan bahwa pengakuan ini adalah momen bersejarah yang cukup mengagetkan. "Itu kali pertama seorang pejabat pemerintah mengakui bahwa sebuah senjata yang benar-benar dirancang khusus telah ditempatkan di luar angkasa," ujar Samson kepada Al Jazeera yang dikutip detikINET.
Lantas, seperti apa wujud senjatanya? Para ahli menduga senjata ini kemungkinan besar berupa perangkat pengacak komunikasi alias jammer berbasis antariksa, bukan senjata kinetik yang menghancurkan secara fisik. Sebab, penggunaan senjata kinetik-seperti satelit bunuh diri yang menabrak target-sangat berisiko menciptakan puing-puing berkecepatan tinggi yang berbahaya bagi keberlangsungan orbit itu sendiri.
Bleddyn Bowen, seorang analis dari Durham University di Inggris, punya pandangan serupa mengenai teknologi ini. "Kita tak tahu persis bagaimana mekanisme senjata tersebut. Saya menduga itu adalah semacam peperangan elektronik atau platform pengacak radio. Ini akan menjadi jenis senjata anti satelit non destruktif dan varian seperti ini memang sudah ada di Bumi," cetus Bleddyn Bowen.
Artikel ini sudah tayang di detikInet, baca selengkapnya di sini.
Simak Video "Video: Baku Tembak Dekat Festival di Ohio, 12 Orang Jadi Korban"
(mso/mso)