'Sapoe Sadesa', Strategi Bupati Jeje Benahi Bandung Barat

'Sapoe Sadesa', Strategi Bupati Jeje Benahi Bandung Barat

Whisnu Pradana - detikJabar
Senin, 14 Sep 2026 20:22 WIB
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail cek krisis air bersih di KBB
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail saat kunjungi desa wujudkan aspirasi masyarakat. (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Bandung Barat -

Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) di bawah kepemimpinan Bupati Jeje Ritchie Ismail turun langsung ke lapangan untuk menyerap aspirasi sekaligus memetakan potensi di setiap desa.

Salah satu upayanya melalui program inovatif bertajuk 'Sapoe Sadesa' (Satu Hari Satu Desa). Program itu menjadi jembatan antara aspirasi masyarakat dengan tata kelola pemerintahan yang transparan. Implementasinya, lewat dialog dengan seluruh lapisan warga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Maksud dan tujuan utama Sapoe Sadesa adalah melihat, mendengar, dan merasakan langsung kondisi masyarakat di desa. Saya ingin mengetahui persoalan dari sumbernya langsung. Apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, apa yang menjadi kendala pemerintah desa, sekaligus apa potensi yang bisa kita kembangkan bersama," kata Jeje, Senin (14/9/2026).

Berusaha melihat kondisi nyata masyarakat di lapangan, secara konsisten dilakukan. Setiap pekan, Jeje mengalokasikan waktunya selama dua hari menyusuri sudut-sudut sunyi desa di Bandung Barat demi mendengar langsung kemauan masyarakat.

ADVERTISEMENT

Permintaan masyarakat tentunya beragam, berbeda satu sama lain sesuai dengan letak geografis dan kondisi sosial masyarakatnya. Namun setidaknya ada satu garis yang sama, yakni infrastruktur masih menjadi aspirasi paling banyak disampaikan.

"Utamanya jalan desa, semua mengeluhkan hal yang sama. Tapi ada juga soal pengembangan potensi desa yang kita catat, seperti wisata, ekonomi kerakyatan, pertanian, dan sektor lainnya. Jadi kita serap semua persoalan, kita coba rumuskan solusinya," ungkap Jeje.

Sapoe Sadesa disambut dengan antusias. Kehadiran Jeje sebagai orang nomor satu di Bandung Barat itu telah lama dinantikan masyarakat. Ia tak menampik, dinamika di lapangan memberikan warna tersendiri.

"Ada desa yang menyampaikan bahwa selama ini belum pernah ada pejabat yang datang dan melihat langsung persoalan mereka. Bagi saya, bagian paling berharga dari Sadesa adalah bisa duduk, ngobrol, dan mendengar cerita masyarakat secara langsung. Sekarang juga semakin banyak masyarakat dan pemerintah desa yang meminta agar desanya dikunjungi. Itu menunjukkan bahwa masyarakat ingin didengar dan ingin pemerintah hadir lebih dekat dengan mereka," jelas Jeje.

Jeje menargetkan 165 desa di Bandung Barat dapat tersentuh program Sapoe Sadesa dalam kurun waktu sekitar 22 bulan ke depan. Meski menargetkan efisiensi waktu, Jeje menekankan bahwa kualitas interaksi dan solusi konkret tetap menjadi prioritas utama.

"Target kami, seluruh desa bisa kami kunjungi dalam waktu sekitar 22 bulan, dan kalau memungkinkan tentu akan kami upayakan bisa lebih cepat. Saya ingin setiap kunjungan bisa menyerap persoalan dan kebutuhan masyarakat di desa," ujar Jeje.

Setiap aspirasi dari kunjungannya dipastikan akan ditindaklanjuti secara berjenjang, baik melalui penanganan cepat, koordinasi lintas perangkat daerah, hingga masuk ke dalam perencanaan pembangunan Bandung Barat ke depan.

"Pada akhirnya, saya ingin masyarakat merasakan bahwa pemerintah hadir bukan hanya ketika ada acara, tetapi juga ketika ada persoalan yang harus diselesaikan bersama," tutur Jeje.

(orb/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads