Serangan kelompok Houthi dari Yaman kembali menyasar wilayah selatan Arab Saudi. Sebuah proyektil menghantam Provinsi Jazan dan melukai dua orang serta merusak sebuah masjid.
Dilansir Al-Jazeera, Minggu (13/9/2026), proyektil tersebut mendarat di Provinsi Al-Tuwal, Jazan, pada Sabtu (12/9). Ledakan juga merusak beberapa kendaraan di sekitar lokasi.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Sipil Arab Saudi menyebut serangan terhadap objek sipil sebagai pelanggaran mencolok terhadap hukum humaniter internasional. Dia mengatakan pihaknya langsung menerapkan prosedur darurat yang telah ditetapkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, kelompok Houthi mengklaim serangan tersebut menyasar pangkalan militer Arab Saudi di Sharurah, Provinsi Najran, wilayah selatan kerajaan.
Pertahanan Sipil Arab Saudi kemudian menyatakan situasi di Provinsi Khamis Mushait telah kembali aman setelah sebelumnya mengeluarkan peringatan kepada warga.
Kelompok Houthi yang mendapat dukungan Iran dalam beberapa hari terakhir meningkatkan serangan rudal dan drone ke wilayah selatan Arab Saudi.
Pada Selasa, kelompok tersebut juga menyerang sejumlah fasilitas sipil dan ekonomi di Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran. Serangan itu melukai 73 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.
Serangan ke wilayah Arab Saudi terjadi di tengah eskalasi konflik Yaman yang kembali meningkat. Konflik berkepanjangan tersebut kembali berkobar pada Juli setelah sekitar empat tahun relatif tenang di bawah gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Di Yaman, pejuang Houthi menguasai seluruh garis pantai Laut Merah dan merebut kota pelabuhan strategis Mocha. Di sisi lain, pasukan pemerintah Yaman membuka front baru di Al-Jawf, Marib, dan Al-Bayda.
Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi dan pejabat setempat, pertempuran tersebut telah menewaskan lebih dari 500 orang dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi.
Dewan Keamanan PBB menggelar sidang darurat mengenai krisis tersebut pada bulan ini. Dalam sidang itu, Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg memperingatkan bahwa Yaman menghadapi "fase perang baru dan lebih berbahaya".
Baca berita selengkapnya di detikNews.
(rdp/sud)
