Tubuh manusia bekerja sebagai satu kesatuan dengan sistem yang sangat kompleks. Menariknya, ada sejumlah organ yang ternyata bisa diangkat tanpa membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk menjalani hidup.
Meski begitu, bukan berarti organ-organ tersebut tidak memiliki fungsi penting. Dalam kondisi tertentu, dokter memang perlu mengangkatnya ketika keberadaannya justru menimbulkan masalah kesehatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut lima organ yang masih memungkinkan seseorang hidup tanpanya:
1. Usus buntu
Usus buntu atau apendiks merupakan bagian kecil berbentuk seperti jari kelingking di sisi kanan bawah usus besar. Hingga kini, fungsi pastinya belum sepenuhnya diketahui, tetapi bagian saluran pencernaan ini bisa mengalami penyumbatan, infeksi, hingga peradangan.
Kondisi tersebut dikenal sebagai apendisitis. Menurut spesialis reumatologi dari Harvard, Robert H Shmerling, MD, sebagian kasus dapat membaik dengan antibiotik, tetapi tidak jarang pasien membutuhkan operasi untuk mengangkat apendiks atau apendektomi.
"Sesuai namanya, apendisitis berarti peradangan pada usus buntu."
Dalam kondisi tertentu, operasi darurat diperlukan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
2. Amandel
Amandel merupakan bagian dari jaringan kelenjar getah bening yang berada di bagian belakang tenggorokan. Organ ini membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan menangkap berbagai penyusup, seperti bakteri dan virus.
Amandel bisa mengalami infeksi atau peradangan berulang. Jika masalah tersebut cukup sering terjadi, dokter dapat mempertimbangkan tindakan tonsilektomi atau operasi pengangkatan amandel.
"Pengangkatan amandel, yang disebut tonsilektomi, kini hanya direkomendasikan bagi orang yang mengalami infeksi tenggorokan akibat bakteri secara berulang," kata Shmerling.
Salah satu contohnya adalah infeksi tenggorokan akibat bakteri Streptococcus atau strep throat, yang cukup sering dialami anak-anak.
Lalu, apakah tubuh kehilangan pertahanan setelah amandel diangkat? Tidak sepenuhnya, karena jaringan limfoid lain, termasuk kelenjar getah bening, dapat mengambil alih sebagian fungsi amandel.
3. Adenoid
Adenoid memiliki fungsi mirip dengan amandel dan terletak di bagian belakang hidung, tepat di area pertemuan saluran hidung dengan mulut dan tenggorokan. Jaringan ini juga merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh.
Namun, adenoid dapat mengalami infeksi, peradangan, maupun pembengkakan. Dalam kondisi tertentu, masalah tersebut membuat adenoid perlu diangkat.
Tak jarang, pengangkatan adenoid dilakukan bersamaan dengan amandel. Prosedur gabungan ini disebut tonsilektomi dan adenoidektomi.
Sama seperti amandel, tubuh masih memiliki jaringan limfoid lain yang dapat membantu menjalankan sebagian fungsi adenoid setelah organ tersebut diangkat.
4. Kantong Empedu
Kantong empedu berada tepat di bawah hati, di bagian kanan atas perut. Tugas utamanya adalah menyimpan cairan empedu yang diproduksi hati dan melepaskannya ke saluran pencernaan ketika tubuh membutuhkannya untuk membantu mencerna makanan berlemak.
Masalah seperti batu empedu atau infeksi dapat menyebabkan kantong empedu mengalami peradangan. Kondisi ini dikenal sebagai kolesistitis dan pada kasus tertentu membutuhkan operasi pengangkatan yang disebut kolesistektomi.
Menurut Shmerling, peradangan kantong empedu paling sering berkaitan dengan infeksi atau batu empedu, yakni endapan cairan empedu yang mengeras.
Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut dapat dikendalikan dengan istirahat dan antibiotik sehingga operasi bisa ditunda atau bahkan tidak diperlukan. Namun, keputusan tetap bergantung pada kondisi masing-masing pasien.
5. Limpa
Limpa merupakan organ yang terdiri dari jaringan limfoid dan memiliki peran penting dalam menyaring darah. Organ ini membantu membuang organisme penyebab infeksi, sel darah yang sudah menua, serta sel abnormal dari aliran darah.
Namun, limpa terkadang justru menjadi terlalu aktif dan menghancurkan sel-sel tubuh yang sebenarnya masih sehat. Salah satu contohnya dapat terjadi pada idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP), ketika trombosit dihancurkan sehingga jumlahnya dalam darah menjadi sangat rendah.
Kondisi trombosit yang terlalu rendah dapat menyebabkan tubuh mudah memar dan mengalami perdarahan yang berpotensi mengancam nyawa. Obat-obatan dapat menjadi salah satu pilihan penanganan, tetapi pada kasus tertentu dokter mungkin menyarankan splenektomi atau operasi pengangkatan limpa.
Meski seseorang tetap dapat hidup tanpa limpa, ada konsekuensi yang perlu diperhatikan. Orang yang tidak memiliki limpa menjadi lebih rentan terhadap beberapa jenis infeksi.
Karena itu, jika splenektomi tidak perlu dilakukan segera, dokter dapat merekomendasikan sejumlah vaksinasi sebelum operasi. Langkah tersebut bertujuan membantu memberikan perlindungan tambahan setelah limpa tidak lagi ada di dalam tubuh.
Artikel ini telah tayang di detikHealth
