Studi Tunjukkan Kemampuan Baca dan Hitung Anak Menurun Secara Global

Studi Tunjukkan Kemampuan Baca dan Hitung Anak Menurun Secara Global

Novia Aisyah - detikJabar
Jumat, 11 Sep 2026 11:00 WIB
Anak membaca buku.
Ilustrasi anak membaca buku (Foto: Thinkstock)
Bandung -

Kemampuan membaca dan matematika siswa secara global mengalami penurunan, hal itu diungkap dari riset Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

"Hasil #OECDPISA yang baru menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan matematika terus mengalami penurunan, sementara kemampuan dalam bidang sains tetap relatif stabil sejak 2022, tetapi berada di bawah level satu dekade yang lalu," ungkap OECD Education Skills melalui akun media sosial resmi, dikutip Kamis (10/9/2026).

Dikutip dari OECD Edu Today, secara keseluruhan, diperkirakan sekitar 29% remaja berusia 15 tahun di negara-negara OECD saat ini memiliki kemampuan yang rendah dalam hal kemampuan membaca, matematika, dan sains. Bahkan kesimpulan ini juga mencakup siswa yang tidak ikut dalam penilaian PISA.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Siswa Sekarang Kesulitan Memahami Teks Sederhana

Menurut OECD Director for Education and Skills, Andreas Schleicher, dalam bidang sains, penurunan performa menunjukkan kesulitan menafsirkan data sederhana atau mengidentifikasi bukti pada grafik. Dalam hal membaca, mereka kesulitan memahami teks sederhana. Sementara dalam matematika, mereka mengalami kendala dalam memahami hubungan antara satuan dan harga (hal semacam ini ditemui dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari berbelanja kebutuhan pokok hingga membaca tagihan utilitas).

"Terkait hasil kemampuan membaca, hal yang sangat mengkhawatirkan adalah adanya penurunan besar dan signifikan pada tingkat keberhasilan dalam tugas-tugas membaca yang paling krusial untuk era kecerdasan buatan (AI) saat ini: keterampilan seperti mengevaluasi informasi, berpikir kritis, dan memadukan berbagai bukti, yang semuanya menuntut ketelitian dalam membaca serta konsentrasi yang berkelanjutan," jelasnya.

ADVERTISEMENT

"Sebaliknya, bentuk-bentuk 'membaca secara terburu-buru', di mana siswa memberikan jawaban cepat namun keliru, justru mengalami peningkatan," imbuhnya.

Mengapa Kemampuan Membaca Menurun?

Menurut Andreas, tren-tren penurunan ini kemungkinan didorong oleh kombinasi dari berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut mencakup perubahan pola membaca akibat digitalisasi dan penggunaan layar, yang bisa jadi menggeser alokasi waktu yang sebelumnya untuk kegiatan membaca yang lebih mendalam, serta menurunnya minat membaca untuk kesenangan, termasuk di kalangan anak muda.

Selain itu, menurutnya terdapat pula perubahan sikap terhadap pembelajaran dan sekolah sejak pandemi COVID-19. Hal ini diperkirakan tercermin dari meningkatnya angka ketidakhadiran siswa di banyak negara, sebagaimana ditunjukkan oleh sejumlah penelitian.

Andreas menilai interaksi berbagai faktor tersebut kemungkinan besar telah menciptakan ekosistem yang lebih menantang bagi pengembangan kemampuan membaca dan literasi.

"Penurunan tajam dalam kemampuan membaca sangat mengkhawatirkan karena membaca merupakan pintu gerbang bagi sebagian besar proses pembelajaran akademis," tegasnya.

"Baik saat menyelesaikan soal aljabar, menganalisis sumber sejarah, maupun menafsirkan hasil eksperimen sains, siswa harus terlebih dahulu memahami bahasa. Semakin baik kemampuan membaca seorang siswa, semakin mudah pula mereka mengembangkan pengetahuan di berbagai bidang mata pelajaran," imbuhnya.

Menurut data PISA, sistem pendidikan yang mengalami penurunan terbesar dalam kemampuan membaca juga cenderung mengalami penurunan yang lebih besar dalam capaian matematika dan sains.

Performa Akademik Secara Global Merosot

Andreas mengatakan data yang ada tidak memberikan jawaban pasti terkait mengapa performa akademik siswa secara global menurun. Meski demikian, banyak pihak berpendapat dampak pandemi COVID-19 pada 2020 serta penutupan sekolah secara luas setelahnya merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan.

Walau begitu, analisis OECD menunjukkan tidak ada kaitan yang sederhana antara durasi penutupan sekolah dan tren kemampuan membaca setelahnya. Terlebih lagi, performa akademik di banyak negara memang sudah menunjukkan tren penurunan jauh sebelum pandemi terjadi.

Ia menilai, penurunan performa dalam jangka panjang ini mengindikasikan adanya masalah struktural yang lebih mendalam dalam sistem pendidikan, yang mencakup tantangan di tingkat sekolah maupun sistem secara keseluruhan. Tantangan-tantangan tersebut meliputi perubahan sikap terhadap kegiatan membaca, dampak gangguan digital bagi siswa, serta meningkatnya angka ketidakhadiran.

"Secara keseluruhan, data menunjukkan adanya kelemahan dalam cara bagaimana sistem pendidikan beradaptasi terhadap perubahan sosial, teknologi, dan ekonomi," ujarnya.

Artikel ini telah tayang di detikEdu. Baca selengkapnya di sini.

(nah/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads