Pilu Hendra dan Keluarga: Rumah Rata, Harta Hanya Sisa Baju di Badan

Pilu Hendra dan Keluarga: Rumah Rata, Harta Hanya Sisa Baju di Badan

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Kamis, 10 Sep 2026 13:00 WIB
Tinggal Puing, kebakaran hebat yang melanda permukiman warga di wilayah Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi
Tinggal Puing, kebakaran hebat yang melanda permukiman warga di wilayah Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Raut kesedihan mendalam tak bisa disembunyikan dari wajah Hendra (56). Pria paruh baya ini hanya bisa berdiri terpaku, memandangi tumpukan puing hitam bekas tempat tinggalnya di Kampung Cigaru, RT 33/RW 06, Desa Kertajaya, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.

Rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh keluarganya kini musnah tak berbekas, rata dengan tanah usai diamuk si jago merah sekitar pukul 20.30 WIB malam tadi.

Di lokasi kejadian, pemandangan memilukan begitu terasa. Tak ada lagi dinding kokoh ataupun atap pelindung, yang tersisa hanyalah kepulan tipis sisa arang kayu yang menghitam legam, pecahan asbes, dan lembaran seng yang ringsek mencium tanah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa ibu-ibu dan anak-anak tampak terduduk lesu di dekat reruntuhan dengan tatapan mata kosong, meratapi tempat tinggal mereka yang musnah dalam sekejap.

Hendra menceritakan, musibah pilu itu datang begitu mendadak saat api tiba-tiba muncul dari bagian atap akibat korsleting listrik.

ADVERTISEMENT

"20.30 WIB, lah saat kejadian itu. Korsleting listrik itu Pak, sebab api menyalanya dari atas," kata Hendra dengan suara tercekat saat ditemui di lokasi reruntuhan rumahnya.

Melihat api membesar di atas kepala dan angin malam berembus kencang, Hendra tak memikirkan hal lain selain nyawa para tetangganya. Sambil berlari, ia berteriak sekuat tenaga membangunkan warga sekitar dari kepungan bahaya.

"Begitu api menyala berkobar besar dari atas rumah, nah saya berteriak, panggil-panggil sama tetangga. 'Tolong keluar, tolong keluar, api membesar, kebakaran, kebakaran!' Nah begitu. Orang-orang yang ada di pemukiman itu keluar semua," ucapnya lirih.

Di tengah jerit tangis dan kepanikan malam itu, warga hanya bisa pasrah. Harta benda, perabotan, hingga dokumen penting dibiarkan hangus terbakar. Bagi mereka, yang terpenting anak dan keluarga bisa lolos dari maut.

"Kita nggak bisa bilang apa-apa lagi, kita menyelamatkan diri aja lah. Jadi masalah harta benda mah biarin lah, yang penting kita selamat dulu, nyawa gitu kan. Alhamdulillah nggak ada korban jiwa," ungkap Hendra berusaha tegar.

Hendra menuturkan, sedikitnya ada tujuh unit rumah yang bernasib sama dengannya, ludes terbakar hingga tak menyisakan apa pun. Jerih payah bertahun-tahun lenyap dalam hitungan jam.

"Nggak ada (harta yang tersisa), Pak. Habis semua. Tinggal ini, baju sama ini aja," katanya sambil memegangi pakaian yang masih melekat di badannya satu-satunya harta yang ia miliki saat ini.

Kini, para korban kebakaran harus menelan getir kehilangan tempat bernaung. Mereka kebingungan harus berteduh di mana untuk melanjutkan hidup. Sembari menatap reruntuhan abu yang tersisa, Hendra sangat berharap uluran tangan dan kepedulian dari pemerintah daerah agar mereka tak merasa sendirian menghadapi masa-masa sulit ini.

"Ada kemungkinan kita mungkin mau bernaung dulu di balai desa, kalaupun itu ada izin dari kepala desa. Nanti bagaimana pemerintah aja ataupun kepala desa. Harapannya mungkin dari pihak pemerintah, dari desa, kecamatan, tingkat kabupaten, bila perlu tingkat gubernur, boleh ditinjau ke sini," harap Hendra penuh pilu.

(sya/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads