Penghuni Kalimantan Paling Misterius Kembali Muncul Setelah 20 Tahun

Kabar Regional

Penghuni Kalimantan Paling Misterius Kembali Muncul Setelah 20 Tahun

Oktavian Balang - detikJabar
Rabu, 09 Sep 2026 07:00 WIB
Kucing merah Kalimantan terlihat di Taman Nasional Kayan Mentarang, Malinau, Kalimantan Utara.
Kucing merah Kalimantan terlihat di Taman Nasional Kayan Mentarang, Malinau, Kalimantan Utara. (Foto: Dok. Balai TN Kayan Mentarang)
Kalimantan -

Kucing merah kalimantan (Catopuma badia), satwa endemik yang sangat jarang terlihat, terekam kamera pengintai di Taman Nasional Kayan Mentarang, Malinau, Kalimantan Utara. Penghuni paling misterius hutan Kalimantan kembali menunjukkan keberadaannya.

Kemunculan karnivora berstatus terancam punah itu disambut gembira pegiat konservasi. Temuan tersebut menjadi sinyal penting bahwa hutan Kayan Mentarang masih menjadi habitat yang mendukung kelangsungan hidup salah satu satwa paling langka di Borneo

"Spesies elusif ini sempat hilang tanpa jejak selama lebih dari dua dekade di kawasan TNKM pascadokumentasi pertama pada 2003 silam, sebelum akhirnya terekam kembali di Resor Sungai Bahau pada 2023 dan kini di Resor Mentarang Tubu," ujar Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Seno Pramudito, dikutip dari detikKalimantan, Selasa (8/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perangkat camera jebak tersebut dipasang oleh tim SPTN Wilayah II Long Alango sejak 2025, kemudian di bawah kanopi hutan primer Desa Rian Tubu.

Kucing merah. (Instagram FMIPA Universitas Lambung Mangkurat)Kucing merah. (Instagram FMIPA Universitas Lambung Mangkurat) Foto: Kucing merah. (Instagram FMIPA Universitas Lambung Mangkurat)

Seno mengungkapkan bahwa keberhasilan dokumentasi itu menegaskan pentingnya hutan Kayan Mentarang sebagai benteng pertahanan terakhir bagi satwa-satwa langka.

ADVERTISEMENT

"Rekaman data visual bernilai tinggi itu baru berhasil diunduh pada 2026 saat tim BTNKM menggelar kegiatan SMART Patrol," kata dia.

"Spesies ini sangat sulit dijumpai secara langsung. Dokumentasi melalui camera trap membantu kami memperoleh data keberadaannya. Ini menjadi pengingat bahwa hutan TNKM memiliki peran vital sebagai habitat satwa liar, sehingga perlindungan kawasan harus dilakukan secara konsisten," kata dia.

Secara ekologis, hadirnya predator puncak terkecil Kalimantan ini di dua lokasi berbeda dalam beberapa tahun terakhir menjadi indikator kuat bahwa ekosistem hutan di Malinau masih sangat alami, sehat, dan minim gangguan aktivitas manusia.

"Sifat kucing merah kalimantan yang soliter, sangat waspada, serta aktif di waktu-waktu tertentu membuat keberadaannya hampir tak pernah terlihat oleh mata telanjang," kata dia.

Bagi para petugas di lapangan, rekaman singkat tersebut menjadi suntikan semangat di tengah beratnya medan patroli. Operasional pemantauan satwa elusif ini terlaksana berkat kerja sama antara Balai TNKM dengan PT Kayan Hydropower Nusantara (PT KHN).

"Setiap kegiatan di lapangan terbukti memberikan data penting bagi perlindungan satwa. Temuan ini diharapkan menjadi dasar kuat bagi pengambilan keputusan dan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi di Kalimantan Utara ke depan," kata Kepala Resor Mentarang Tubu, Mahfuat.

Artikel ini telah tayang di detikTravel. Baca selengkapnya di sini.

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads