Jabar Hari Ini: Sebaran Abu Vulkanik Lumpuhkan Bandara Husein

Jabar Hari Ini: Sebaran Abu Vulkanik Lumpuhkan Bandara Husein

Tim detikJabar - detikJabar
Senin, 07 Sep 2026 22:00 WIB
Pesawat Boeing 737-800 milik maskapai Garuda Indonesia mendarat di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Jumat (14/8/2026). PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) kembali melayani penerbangan komersial menggunakan pesawat jet berbadan sedang yang dioperasikan Garuda Indonesia dan Citilink di Bandara Husein Sastranegara dengan berbagai rute, seperti Medan, Pekanbaru, Padang, Batam, Pontianak, Makassar, dan Denpasar, sementara penerbangan internasional ditargetkan mulai beroperasi pada Oktober 2026. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/kye
Bandara Husein Sastranegara (Foto: ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)
Bandung -

Beragam peristiwa terjadi di Jawa Barat hari ini, Senin, 7 September 2026 dari mulai tabrakan beruntun di Kota Bandung hingga penerbangan lumpuh dampak abu vulkanik.

Berikut rangkuman Jabar hari ini:

Panik Diteriaki Tabrak Lari, Blind Van Hantam 5 Kendaraan

Aksi kejar-kejaran yang melibatkan satu unit mobil blind van memicu kecelakaan beruntun di tiga titik berbeda di Kota Bandung pada Minggu (6/9) malam. Insiden yang terekam kamera warga ini bermula dari perselisihan di jalan raya hingga berakhir di depan markas kepolisian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rangkaian kecelakaan tersebut menyapu sejumlah kendaraan di Jalan Burangrang, Jalan Banda, dan Jalan Jawa. Kanit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung, AKP Fikrie Adi Pradana, mengungkapkan peristiwa ini dipicu cekcok antara pengemudi blind van berinisial MFH (18) dengan pengendara motor Honda Beat, DN (31), saat berhenti di lampu merah Jalan Soekarno-Hatta.

"Pengemudi mobil sempat menegur pengendara motor yang memotong jalur dari sebelah kiri. Namun, saat kendaraan memasuki Jalan Burangrang, pengendara motor tersebut kembali memotong jalan sambil meneriaki pengemudi mobil dengan sebutan 'tabrak lari'," kata Fikrie dalam keterangannya, hari ini.

ADVERTISEMENT

Teriakan tersebut memancing massa untuk mengejar MFH. Karena merasa terancam dan panik, pemuda berusia 18 tahun itu memacu kendaraannya secara tidak terkendali. Dalam pelariannya di Jalan Burangrang, mobil tersebut menghantam motor milik DN dan Honda Jazz.

Bukannya berhenti, MFH yang semakin kalut justru tancap gas menuju Jalan Banda dan kembali menabrak bagian depan Honda Brio dari arah berlawanan. Laju kendaraan baru terhenti di Jalan Jawa, tepat di depan Mako Polrestabes Bandung, setelah menyeruduk dua sepeda motor lainnya.

"Pengemudi blind van ini sebenarnya berusaha mencari kantor kepolisian terdekat karena merasa terancam dan panik. Ia mengarah ke Polrestabes Bandung di Jalan Jawa," ungkap Fikrie.

Dua orang dilaporkan mengalami luka ringan akibat rentetan tabrakan tersebut. Petugas segera mengevakuasi korban ke fasilitas kesehatan terdekat untuk penanganan medis.

"Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Korban luka-luka atas nama Riza Mahesa Kusuma dan Wanda Ameliya sudah dievakuasi ke RS Bungsu untuk mendapatkan perawatan medis," jelas Fikrie.

Selain korban luka, enam kendaraan yang terlibat dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian bodi, bemper, hingga kaca. Saat ini, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman atas kasus tersebut.

"Unit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung masih melakukan olah TKP serta memeriksa sejumlah saksi untuk mendalami penyebab pasti dan memproses hukum rangkaian kecelakaan tersebut," pungkasnya.

Rumah Milik Putra Ketua Adat Kasepuhan Sinar Resmi Ludes Terbakar

Satu unit rumah panggung tradisional di kawasan lereng perbukitan Kampung Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, ludes terbakar pagi tadi.

Informasi diperoleh detikJabar, rumah tersebut merupakan kediaman Sekretaris Desa (Sekdes) Sirnaresmi, Vilka Mandala atau yang akrab disapa Aa Filka, yang juga merupakan putra dari Ketua Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Abah Asep Nugraha.

Dari video yang dibagikan warganet, api berkobar sangat besar dengan warna merah-oranye yang menjulang tinggi, melahap material kayu dan bambu hingga merontokkan seluruh kerangka atap bangunan. Kepulan asap tebal membubung di antara rimbun pepohonan dan perbukitan kampung adat.

Di lokasi kejadian, kobaran api berada sangat dekat dengan bangunan lumbung padi tradisional (leuit) beratap ijuk. Sejumlah warga dan aparat desa yang mengenakan seragam dinas PNS warna khaki lengkap dengan iket kepala tampak sibuk berlarian di jalur tanah merah berundak.

Mereka berteriak saling memberi komando dan menyiramkan air secara manual ke area perimeter guna membendung perambatan api.

Dihubungi detikJabar, Kepala Desa Sirnaresmi Iwan Suwandri mengonfirmasi musibah yang menimpa keluarga perangkat desanya sekaligus putra sesepuh adat tersebut. Ia memastikan, insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka.

"Kondisinya hangus rata dengan tanah, jadi abu semuanya. Namun alhamdulillah, istri dan anaknya berhasil diselamatkan dan langsung keluar saat peristiwa berlangsung," ujar Iwan saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Iwan menjelaskan, kemunculan api sempat memicu kepanikan luar biasa karena letak permukiman adat yang padat dan berdekatan dengan deretan lumbung pangan warga.

"Api tidak sampai merembet ke bangunan lain. Alhamdulillah warga sekitar sangat kompak, banyak yang langsung datang membantu pemadaman dan melokalisasi kobaran api," ucapnya.

Mengenai pemicu timbulnya api, Iwan menyatakan bahwa pihak desa bersama aparat terkait masih melakukan penelusuran lebih lanjut di lokasi kejadian.

"Untuk sumber dan penyebab kebakaran masih belum diketahui secara pasti. Tadi warga dan penghuni rumah lebih fokus menyelamatkan diri dan mengamankan situasi sekitar," pungkas Iwan.

Vonis Eks Bupati Bekasi Ade Kuswara Ditunda

Sidang agenda putusan Bupati Bekasi nonaktif Ade Kuswara, terdakwa kasus korupsi ijon proyek di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung hari ini, ditunda.

Penundaan terjadi lantaran salah satu hakim berhalangan hadir. Sang hakim belum bisa kembali ke Bandung setelah jadwal penerbangan dihentikan sementara akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Padahal, Ade Kuswara, ayahnya HM Kunang, dan tim kuasa hukumnya sudah tiba di dalam gedung persidangan.

"Bandara masih ditutup, tidak bisa ke sini, oleh karena itu sidang tidak bisa dilanjutkan dan sidang kita tunda," kata salah satu hakim yang sempat membuka sidang lalu menutupnya kembali.

Seratusan simpatisan, keluarga, dan kerabat Ade Kuswara yang memenuhi ruang sidang kecewa setelah mendengar keputusan penundaan sidang ini. Mereka juga sempat menyoraki keputusan hakim. "Wuuuuu," teriak massa.

Pihak Ade Kuswara sempat menanyakan durasi penundaan tersebut, yang kemudian dijawab majelis hakim selama satu pekan ke depan. "Sampai Tanggal 14. Satu Minggu," ujar Hakim.

Sejumlah perwakilan massa sempat menenangkan massa lainnya, namun massa tetap bersorak hingga hakim memberi ultimatum agar massa tertib. "Pihak keamanan, untuk sidang berikutnya, siapa yang teriak suruh keluar," tegas hakim sambil meninggalkan ruangan.

Perwakilan massa kembali menenangkan massa yang sebelumnya bersorak. "Tenang, tahan, tahan," ucapnya.

Massa pun mulai tertib, seraya Ade Kuswara dan HM Kunang bergegas meninggalkan ruangan persidangan.

Mereka juga bersalaman dengan keduanya sembari memberikan dukungan. Massa mengawal Ade Kuswara dan HM Kunang hingga menuju mobil polisi yang membawanya kembali ke rumah tahanan.

Saat diwawancara, Ade Kuswara memohon doa agar persidangan yang ia jalani berjalan dengan lancar dan tidak kembali menemukan hambatan. "Ditunda (Minggu depan). Mohon doanya," kata Ade singkat.

Pada sidang sebelumnya yakni sidang tuntutan, Ade Kuswara dituntut 7 tahun penjara. Sementara ayahnya, HM Kunang, dituntut 4 tahun penjara. "Menuntut, agar majelis hakim yang menangani perkara ini menjatuhkan pidana kepada terdakwa Ade Kuswara dengan pidana penjara selama 7 tahun dan HM Kunang dengan 4 tahun kurungan dengan denda Rp 300 juta subsider 100 hari," kata JPU.

Ade Kuswara dan HM Kunang diyakini jaksa melanggar Pasal 12 huruf b Jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, Jo Pasal 20 huruf c Jo Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP, sebagaimana dakwaan kedua.

Adapun hal yang memberatkan tuntutan keduanya adalah merusak kepercayaan masyarakat Kabupaten Bekasi dan tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan korupsi. Sementara hal yang meringankan adalah keduanya belum pernah dihukum, masih memiliki tanggungan keluarga, dan bersikap kooperatif selama persidangan.

Ade Kuswara juga dituntut membayar uang pengganti sebesar Rp 11 miliar dan HM Kunang sebesar Rp 1 miliar. Jika tidak dibayar, maka akan diganti dengan hukuman kurungan selama 3 tahun penjara.

Kesehatan Satwa Bandung Zoo Dipantau di Tengah Hujan Abu Anak Krakatau

Manajemen Bandung Zoo mulai menyusun langkah mitigasi menyusul laporan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang menjangkau wilayah Bandung dan sekitarnya. Upaya ini dilakukan guna melindungi kesehatan ratusan koleksi satwa dari potensi dampak buruk paparan material vulkanik.

Perwakilan Forum Pekerja Bandung Zoo, Rohmat, menyatakan bahwa hingga hari ini, dampak abu di area kebun binatang belum terlihat signifikan. Keberadaan vegetasi yang rimbun di kawasan tersebut dinilai menjadi penyaring alami yang efektif.

"Ya, sampai saat ini sih sebetulnya untuk Bandung tuh belum begitu terasa ya terkait paparan dari abu vulkanik. Nah, terutama sih di Bandung Zoo ya, karena di Bandung Zoo tuh banyak pepohonan, mungkin masih banyak tersaring sama pepohonan ya," kata Rohmat.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, pepohonan di kawasan Bandung Zoo masih tampak hijau segar dan belum menunjukkan tanda-tanda tertutup debu vulkanik.

"Tadi saya melihat di beberapa pohon juga masih kelihatan hijau, belum ada abu yang istilahnya berterbangan lah gitu ya. Ya sampai saat ini sih kita belum melihat terkait dengan adanya paparan abu vulkanik," ungkapnya.

Meski kondisi saat ini masih terkendali, pihak pengelola telah menyiapkan skenario jika intensitas hujan abu meningkat. Salah satu langkahnya adalah membatasi aktivitas satwa di area pameran (display) dan mengarahkannya ke kandang dalam.

"Tapi, kemungkinan nih seandainya paparannya lebih kental atau lebih banyak lagi, mungkin ada beberapa perlakuan yang akan kita siapkan. Mungkin ada beberapa satwa yang memang untuk jenis satwa yang di kandang peragakan dan ada kandang malamnya, mungkin tidak dikeluarkan, begitu ya. Jadi mereka mungkin beberapa saat berada di kamar tidur lah atau di holding ya, gitu. Plus makan dan minum juga di sana," jelas Rohmat.

Kendala muncul pada satwa dengan kandang terbuka, seperti buaya, yang sulit untuk direlokasi secara mendadak. Sementara untuk kelompok burung, pengelola berencana memasang pelindung tambahan pada kandang guna meminimalkan masuknya abu.

"Nah, untuk beberapa satwa seperti buaya susah juga ya karena mereka kandangnya terbuka, mungkin belum ada antisipasi. Nah, kalau untuk jenis-jenis burung, mungkin kalau abu vulkaniknya sudah melewati ambang batas mungkin akan kita tutup dengan berbagai upaya, bisa pakai tirai atau mungkin plastik, ya begitu. Mungkin itu aja sih antisipasi," terangnya.

Sejauh ini, aktivitas operasional dan para petugas di Bandung Zoo masih berjalan normal tanpa penggunaan masker khusus.

"Tapi sampai saat ini sih belum ada, kita juga karyawan masih normal-normal lah, nggak pakai masker, karena beberapa ini kan harus pakai masker," tambahnya.

Hingga saat ini, manajemen belum melakukan penyemprotan khusus untuk membersihkan sisa abu, namun tetap memprioritaskan prosedur biosecurity rutin di seluruh area kandang untuk menjaga kesehatan satwa.

Penerbangan Bandara Husein Sastranegara Lumpuh

Bandara Husein Sastranegara Bandung masih belum melayani penerbangan hingga hari ini. Aktivitas penerbangan dihentikan sementara akibat paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Total 14 penerbangan terdampak dan dibatalkan oleh otoritas bandara. Kondisi ini membuat sejumlah penumpang harus mengubah rencana perjalanan dan mencari jalur alternatif melalui bandara maupun moda transportasi lain.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan bersama Danlanud Husein Sastranegara, Marsma TNI Irman Fathurrahman, turun langsung meninjau kondisi Bandara Husein Sastranegara pada Senin.

Farhan mengatakan Pemerintah Kota Bandung bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) terus melakukan koordinasi sejak Minggu untuk memastikan dampak abu vulkanik terhadap aktivitas masyarakat, khususnya transportasi.

"Selama dua hari ini, Minggu dan Senin, kami dari Forkompinda Kota Bandung melakukan koordinasi untuk memastikan kondisi abi vulkanik yang berpengaruh terhadap Kota Bandung, khususnya untuk transportasi umum, bandara dan kereta api," kata Farhan usai meninjau bandara.

Berbeda dengan penerbangan, perjalanan kereta api masih berjalan normal. Bahkan, sejumlah jadwal ditambah untuk mengakomodasi penumpang yang terdampak pengalihan perjalanan.

"Kereta api tadi kami tinjau langsung berjalan dengan lancar karena tidak ada gangguan pandangan. Bahkan ditambah beberapa jadwal karena adanya pengalihan penumpang yang menuju ke Pulau Jawa bagian timur, itu dari Jakarta didorong ke Bandung," ucapnya.

Farhan menyebut penumpang yang sebelumnya memiliki tujuan ke sejumlah kota di Jawa bagian timur kemudian dialihkan melalui Bandung menggunakan kereta api.

"Dari Bandung naik kereta api ke arah Jogja, Semarang, Solo, Surabaya, dan Malang. Itu yang terjadi. Sementara kalau di bandara, memang masih ada no fly ya," ujarnya.

Danlanud Husein Sastranegara Marsma TNI Irman Fathurrahman menjelaskan keputusan penutupan bandara dilakukan setelah koordinasi dengan AirNav dan BMKG.

Menurut Irman, paparan abu vulkanik awalnya terdeteksi di wilayah Jakarta. Pemeriksaan kemudian dilakukan di Bandara Husein menggunakan paper test untuk memastikan keberadaan abu vulkanik.

"Jadi kita mulai dari kemarin ya, koordinasi dengan AirNav dengan BMKG. Dari mulai pagi di mana isu tersebut memang di Jakarta sudah positif, sudah ada penampakan namanya menggunakan paper test," terangnya.

Irman menjelaskan paper test merupakan metode pengecekan untuk mengetahui apakah abu vulkanik sudah berada di suatu wilayah.

"Paper test itu namanya pengecekan apakah sudah ada abu vulkanik di wilayah tersebut. Nah menggunakan paper test tersebut sampai dengan jam 10 kemarin siang masih negatif. Tetapi jam 11, abu tersebut sudah turun. Perjalanan dari arah barat ke arah timur," ungkapnya.

Setelah abu terdeteksi, koordinasi dilakukan bersama otoritas bandara dan Kementerian Perhubungan. AirNav kemudian menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) yang menjadi dasar pemberitahuan terkait pembatasan aktivitas penerbangan.

"Kemudian kita koordinasi dengan otoritas bandara, ya perwakilan dari Kementerian Perhubungan, kemudian dengan AirNav, kemudian mengeluarkan NOTAM (Notice to Airmen). Semuanya sudah mendapatkan NOTAM tersebut sampai dengan hari ini jam 18.00 NOTAM tersebut masih berlaku," katanya.

Menurut Irman, pada awalnya NOTAM diperbarui secara berkala. Namun untuk Senin, pemberlakuannya ditetapkan sejak pagi hingga sore.

"Jadi NOTAM tersebut kemarin per satu jam di-upgrade terus. Tetapi untuk hari ini, mulai tadi jam 8 pagi sampai dengan jam 6 sore, tentu NOTAM tersebut sudah berlaku," ujar Irman.

Ia kemudian menjelaskan, ada perkembangan terbaru pada Senin pagi. Pemeriksaan menggunakan paper test di area Bandara Husein Sastranegara sekitar pukul 09.30 WIB menunjukkan hasil negatif. Namun, hasil tersebut belum bisa menjadi alasan bandara langsung dibuka kembali.

"Memang untuk saat ini pukul 09.30, pengecekan menggunakan paper test di wilayah bandara (Husein) sendiri sudah negatif. Tetapi itu bukan berarti kumpulan abu vulkanik di aerodrome sudah tidak ada," ungkapnya.

Irman mengingatkan abu vulkanik tidak selalu berada di permukaan bandara. Material vulkanik masih mungkin berada di lapisan udara tertentu dan menjadi pertimbangan keselamatan penerbangan.

"Bisa saja di udara di level-level tertentu. Sampai dengan saat ini dilihat dari citra satelit, pergerakan tersebut berada di wilayah sebelah selatan," kata dia.

Karena itu, keputusan pembukaan kembali Bandara Husein Sastranegara tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan kondisi yang terlihat di permukaan bandara.

Irman mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Bandung sembari menunggu keputusan dari otoritas yang memiliki kewenangan membuka kembali aktivitas penerbangan.

"Kami juga koordinasi terus sama Pak Wali kapan dibukanya nanti, tergantung dari otoritas yang bisa mengeluarkan kapan dibukanya itu dari Kementerian Perhubungan," tutup Irman.

Halaman 2 dari 2
(wip/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads