Ikan 'Alien' Muncul Usai Banjir Nepal Menerjang, Warga Dilarang Makan

Ikan 'Alien' Muncul Usai Banjir Nepal Menerjang, Warga Dilarang Makan

Rachmatunnisa - detikJabar
Senin, 07 Sep 2026 22:30 WIB
Banjir di Nepal telah membawa ikan-ikan aneh ke lembah Gandak di Bihar, India Pemerintah memperingatkan warga untuk tidak memakan atau menjual ikan yang tidak dikenal karena risiko kesehatan.
Banjir di Nepal telah membawa ikan-ikan aneh ke lembah Gandak di Bihar, India Pemerintah memperingatkan warga untuk tidak memakan atau menjual ikan yang tidak dikenal karena risiko kesehatan. (Foto: Screenshot video Times of India)
India -

Banjir yang menerjang Nepal turut membawa dampak hingga ke India. Selain material berupa lumpur dan puing, derasnya aliran air juga membawa sejumlah ikan yang tergolong tidak lazim ditemukan di sungai-sungai Bihar. Beberapa ikan bahkan disebut memiliki bentuk yang aneh dan berasal dari habitat perairan dalam.

Kemunculan ikan-ikan tersebut membuat sejumlah nelayan di Bihar terkejut. Mereka mengaku memperoleh tangkapan dengan ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan ikan yang biasanya mereka dapatkan. Menyikapi kondisi itu, pemerintah Bihar mengimbau masyarakat untuk menghindari menangkap, membeli, menjual, maupun mengonsumsi ikan yang tidak mereka kenali atau memiliki bentuk tidak biasa.

Ikan-ikan tersebut diduga terbawa arus setelah air dari Sungai Trishuli di Nepal masuk ke wilayah Bihar melalui jaringan Sungai Gandak dan Kosi. Banjir dari kawasan hulu membawa berbagai material, termasuk ikan yang habitat aslinya berada jauh dari tempat ikan-ikan tersebut ditemukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kekhawatiran pemerintah bukan hanya berkaitan dengan jenis atau penampilan ikan. Selama terbawa arus banjir, ikan-ikan itu berpotensi bersentuhan dengan berbagai material pencemar. Laporan mengenai kemunculan ikan tak biasa telah muncul dari sejumlah daerah di Bihar, seperti West Champaran, East Champaran, Gopalganj, Bagaha, dan Saran.

Para nelayan juga menyebut ukuran ikan yang mereka temukan tergolong sangat besar. Vinod Nishad, nelayan asal Saharsa, mengatakan beberapa ikan yang tertangkap memiliki berat sekitar 27 hingga 38 kilogram. Bahkan, terdapat tangkapan yang bobotnya diperkirakan mencapai 40-45 kilogram.

ADVERTISEMENT

Hal serupa disampaikan Chhatu Sahani, nelayan di Mangalpur Ghat, Gopalganj. Ia mengaku ikan dengan karakteristik seperti itu hampir tidak pernah ditemukan dalam hasil tangkapan mereka.

"Kami sangat jarang melihat ikan seperti ini dalam tangkapan normal kami. Sebagian besar mati setelah ditangkap," kata Chhatu, sebagaimana dikutip The Independent.

Salah satu jenis ikan yang diduga berkaitan dengan fenomena tersebut adalah goonch catfish atau Bagarius bagarius. Ikan berkumis yang berasal dari keluarga Sisoridae itu diketahui mendiami sungai-sungai berarus deras di India, Nepal, serta beberapa kawasan Asia Tenggara.

Sameer Kumar Sinha, direktur Wildlife Trust of India, mengatakan banyak ikan yang masuk ke Sungai Gandak kemungkinan merupakan spesies tersebut. Goonch catfish dapat berukuran besar dan hidup di sungai-sungai dengan arus kuat.

Spesies ini juga berstatus terancam menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Namun, identifikasi ikan yang muncul setelah banjir tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan bentuk atau ukurannya. Pemerintah Bihar secara khusus meminta warga melaporkan ikan yang tidak dikenal kepada petugas perikanan setempat.

Hal ini penting karena banjir dapat menghilangkan batas alami antara berbagai ekosistem perairan. Ikan yang semula hidup di sungai, kolam, danau, atau waduk dapat tersapu keluar dari habitatnya ketika permukaan air naik drastis. Arus kemudian membawanya dalam jarak yang jauh.

Dengan kata lain, kemunculan ikan 'jejadian' tersebut belum tentu berarti ada spesies misterius yang tiba-tiba muncul. Banjir memang dapat menjadi kendaraan alami yang memindahkan hewan air dari satu habitat ke habitat lain.

Pemerintah Bihar menekankan bahwa masalah utamanya bukan karena ikan tersebut merupakan spesies asing atau berukuran besar. Selama banjir, ikan dapat bersentuhan dengan lumpur, limbah, saluran pembuangan, bangkai hewan, dan berbagai kontaminan lain yang ikut terbawa arus.

Departemen Dairy, Fisheries and Animal Resources Bihar menyatakan ikan yang terus-menerus terpapar lingkungan tercemar dapat terkontaminasi bakteri, virus, dan bahan berbahaya lainnya. Karena itu, ikan yang ditangkap langsung dari air banjir tidak disarankan untuk dikonsumsi sampai kondisi lingkungan kembali normal.

The Independent juga melaporkan bahwa beberapa orang disebut jatuh sakit setelah mengonsumsi ikan yang ditangkap dari perairan tersebut. Yang membuat situasinya lebih sulit, ikan yang terkontaminasi belum tentu terlihat berbeda.

Dr Saiprasad Girish Lad, konsultan gastroenterologi di Wockhardt Hospitals Mumbai Central, menjelaskan bahwa ikan yang terpapar air tercemar dapat membawa mikroorganisme yang tidak biasa terdapat di habitat normalnya.

"Kekhawatirannya bukan pada ikan sebagai makanan, tetapi pada lingkungan yang telah terpapar ikan tersebut," sebutnya.

Menurutnya, ikan yang terbawa banjir dapat bersentuhan dengan limbah, kotoran hewan, bangkai, dan polutan lain sehingga berpotensi membawa mikroorganisme berbahaya. Memasak memang dapat mengurangi risiko dari sejumlah bakteri dan parasit, tetapi tidak otomatis membuat ikan dari sumber yang tercemar menjadi aman.

Kontaminasi juga dapat terjadi ketika ikan ditangani, dibersihkan, dan disiapkan. Selain itu, beberapa kontaminan kimia tidak selalu hilang hanya karena makanan dimasak. Karena alasan itulah otoritas Bihar meminta masyarakat tidak mengonsumsi ikan yang ditangkap langsung dari air banjir atau ikan yang tidak dapat diidentifikasi dengan jelas.

Peringatan ini juga berlaku untuk aktivitas jual beli. Warga diminta tidak membeli maupun menjual ikan yang tidak dikenal dari wilayah terdampak banjir.

Artikel ini telah tayang di detikINET. Baca selengkapnya di sini.

(rns/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads