Bandara Husein Sastranegara Bandung masih belum melayani penerbangan hingga Senin (7/9/2026). Aktivitas penerbangan dihentikan sementara akibat paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Total 14 penerbangan terdampak dan dibatalkan oleh otoritas bandara. Kondisi ini membuat sejumlah penumpang harus mengubah rencana perjalanan dan mencari jalur alternatif melalui bandara maupun moda transportasi lain.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan bersama Danlanud Husein Sastranegara, Marsma TNI Irman Fathurrahman, turun langsung meninjau kondisi Bandara Husein Sastranegara pada Senin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Farhan mengatakan Pemerintah Kota Bandung bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) terus melakukan koordinasi sejak Minggu untuk memastikan dampak abu vulkanik terhadap aktivitas masyarakat, khususnya transportasi.
"Selama dua hari ini, Minggu dan Senin, kami dari Forkompinda Kota Bandung melakukan koordinasi untuk memastikan kondisi abi vulkanik yang berpengaruh terhadap Kota Bandung, khususnya untuk transportasi umum, bandara dan kereta api," kata Farhan usai meninjau bandara.
Berbeda dengan penerbangan, perjalanan kereta api masih berjalan normal. Bahkan, sejumlah jadwal ditambah untuk mengakomodasi penumpang yang terdampak pengalihan perjalanan.
"Kereta api tadi kami tinjau langsung berjalan dengan lancar karena tidak ada gangguan pandangan. Bahkan ditambah beberapa jadwal karena adanya pengalihan penumpang yang menuju ke Pulau Jawa bagian timur, itu dari Jakarta didorong ke Bandung," ucapnya.
Farhan menyebut penumpang yang sebelumnya memiliki tujuan ke sejumlah kota di Jawa bagian timur kemudian dialihkan melalui Bandung menggunakan kereta api.
"Dari Bandung naik kereta api ke arah Jogja, Semarang, Solo, Surabaya, dan Malang. Itu yang terjadi. Sementara kalau di bandara, memang masih ada no fly ya," ujarnya.
Abu Vulkanik Sempat Terdeteksi di Husein
Danlanud Husein Sastranegara Marsma TNI Irman Fathurrahman menjelaskan keputusan penutupan bandara dilakukan setelah koordinasi dengan AirNav dan BMKG.
Menurut Irman, paparan abu vulkanik awalnya terdeteksi di wilayah Jakarta. Pemeriksaan kemudian dilakukan di Bandara Husein menggunakan paper test untuk memastikan keberadaan abu vulkanik.
"Jadi kita mulai dari kemarin ya, koordinasi dengan AirNav dengan BMKG. Dari mulai pagi di mana isu tersebut memang di Jakarta sudah positif, sudah ada penampakan namanya menggunakan paper test," terangnya.
Irman menjelaskan paper test merupakan metode pengecekan untuk mengetahui apakah abu vulkanik sudah berada di suatu wilayah.
"Paper test itu namanya pengecekan apakah sudah ada abu vulkanik di wilayah tersebut. Nah menggunakan paper test tersebut sampai dengan jam 10 kemarin siang masih negatif. Tetapi jam 11, abu tersebut sudah turun. Perjalanan dari arah barat ke arah timur," ungkapnya.
Setelah abu terdeteksi, koordinasi dilakukan bersama otoritas bandara dan Kementerian Perhubungan. AirNav kemudian menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) yang menjadi dasar pemberitahuan terkait pembatasan aktivitas penerbangan.
"Kemudian kita koordinasi dengan otoritas bandara, ya perwakilan dari Kementerian Perhubungan, kemudian dengan AirNav, kemudian mengeluarkan NOTAM (Notice to Airmen). Semuanya sudah mendapatkan NOTAM tersebut sampai dengan hari ini jam 18.00 NOTAM tersebut masih berlaku," katanya.
Menurut Irman, pada awalnya NOTAM diperbarui secara berkala. Namun untuk Senin, pemberlakuannya ditetapkan sejak pagi hingga sore.
"Jadi NOTAM tersebut kemarin per satu jam di-upgrade terus. Tetapi untuk hari ini, mulai tadi jam 8 pagi sampai dengan jam 6 sore, tentu NOTAM tersebut sudah berlaku," ujar Irman.
Ia kemudian menjelaskan, ada perkembangan terbaru pada Senin pagi. Pemeriksaan menggunakan paper test di area Bandara Husein Sastranegara sekitar pukul 09.30 WIB menunjukkan hasil negatif. Namun, hasil tersebut belum bisa menjadi alasan bandara langsung dibuka kembali.
"Memang untuk saat ini pukul 09.30, pengecekan menggunakan paper test di wilayah bandara (Husein) sendiri sudah negatif. Tetapi itu bukan berarti kumpulan abu vulkanik di aerodrome sudah tidak ada," ungkapnya.
Irman mengingatkan abu vulkanik tidak selalu berada di permukaan bandara. Material vulkanik masih mungkin berada di lapisan udara tertentu dan menjadi pertimbangan keselamatan penerbangan.
"Bisa saja di udara di level-level tertentu. Sampai dengan saat ini dilihat dari citra satelit, pergerakan tersebut berada di wilayah sebelah selatan," kata dia.
Karena itu, keputusan pembukaan kembali Bandara Husein Sastranegara tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan kondisi yang terlihat di permukaan bandara.
Irman mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Bandung sembari menunggu keputusan dari otoritas yang memiliki kewenangan membuka kembali aktivitas penerbangan.
"Kami juga koordinasi terus sama Pak Wali kapan dibukanya nanti, tergantung dari otoritas yang bisa mengeluarkan kapan dibukanya itu dari Kementerian Perhubungan," tutup Irman.
(iqk/iqk)
