Dua pesawat Garuda Indonesia yang seharusnya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, dialihkan ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka. Pengalihan dilakukan imbas gangguan abu vulkanik dari letusan Gunung Anak Krakatau yang berdampak terhadap operasional penerbangan di Soetta.
Dua pesawat tersebut merupakan penerbangan Garuda Indonesia yang membawa jemaah umrah dari Arab Saudi. Pesawat pertama yakni GA 961 dengan rute Madinah-Jakarta menggunakan Boeing 777-300.
Pesawat tersebut dialihkan dan mendarat di BIJB Kertajati sekitar pukul 14.25 WIB. Pesawat membawa 356 penumpang yang seluruhnya merupakan jemaah umrah.
Kemudian pesawat GA 983 dengan rute Jeddah-Jakarta juga dialihkan ke Kertajati. Pesawat jenis Boeing 777-300 tersebut membawa 307 penumpang. Pesawat tersebut mendarat di BIJB Kertajati sekitar pukul 15.00 WIB.
Executive General Manager (EGM) BIJB Kertajati Nuril Huda mengatakan, pengalihan dilakukan setelah adanya koordinasi dengan pihak Garuda Indonesia dan Kementerian Perhubungan.
"Seperti kita ketahui semuanya bahwasanya beberapa hari yang lalu ada erupsi gunung anak krakatau, yang di mana menyebabkan abu vulkaniknya keluar dan mengakibatkan Bandara Soekarno-Hatta terkena imbas dari abu vulkanik tersebut sehingga tutup atau close sementara," kata Nuril kepada detikJabar, Minggu (6/9/2026).
"Untuk itu, memang beberapa ada yang cancel di Cengkareng (Soetta), tapi tadi setelah koordinasi dengan pihak Garuda, kemudian juga pihak Kementerian Perhubungan, untuk yang umrah dari Garuda Indonesia itu bisa dilandingkan di Kertajati," sambungnya.
Menurutnya, BIJB Kertajati dipilih sebagai bandara alternatif karena kondisinya dinilai aman untuk menerima penerbangan. Pihak bandara sebelumnya telah melakukan pengecekan terhadap kemungkinan adanya abu vulkanik.
"Di Bandara Kertajati setelah beberapa kali melakukan paper test atau tes terkait abu vulkanik, kita negatif. Jadi masih tergolong aman untuk dilandingkan pesawat udara," ujarnya.
Nuril mengatakan, pihaknya telah melakukan persiapan sejak dini hari setelah menerima informasi terkait penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta melalui NOTAM.
"Kita sudah prepare dari dini hari. Karena tanggal 1 pagi itu Bandara Soekarno-Hatta sudah ada NOTAM bahwa mereka close sampai 05.30 WIB untuk NOTAM pertama," jelasnya.
Persiapan tersebut meliputi fasilitas, personel, hingga pemeriksaan area bandara untuk memastikan tidak terdapat abu vulkanik yang membahayakan penerbangan.
"Paper test itu tes terkait abu yang ada di runway, di apron, kemudian juga di titik-titik yang ditentukan untuk memastikan bahwa itu bukan abu vulkanik. Karena kalau itu abu vulkanik, itu akan sangat berbahaya buat pesawat udara," ucapnya.
Nuril menambahkan, pengalihan penerbangan belum bisa dipastikan hanya terjadi pada hari ini. Hal tersebut bergantung pada kondisi dan perkembangan aktivitas vulkanik serta operasional Bandara Soekarno-Hatta.
"Alam itu kan kita juga tidak bisa memprediksi. Tapi pada prinsipnya kita siap untuk melayani alternatif dari Cengkareng," ucapnya.
Tak hanya penerbangan internasional, BIJB Kertajati juga menyatakan siap menjadi alternatif apabila diperlukan untuk penerbangan domestik. "Kalau memang diperlukan domestik, kita juga siap," pungkasnya.
(orb/orb)