Sejumlah peristiwa terjadi di Jawa Barat (Jabar) hari ini, Kamis (3/9/2026). Mulai dari remaja di Tasikmalaya tewas setelah ikut tawuran hingga JPO baru bakal segera dibangun di Jalan Soekarno-Hatta Bandung.
Berikut rangkuman Jabar hari ini:
Remaja 16 Tahun Meninggal Usai Ikut Tawuran di Tasik
Aksi kekerasan jalanan yang diduga melibatkan kelompok geng motor kembali memakan korban jiwa di Kota Tasikmalaya. Seorang remaja berinisial IMM (16) mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit usai menderita cedera kepala parah akibat bentrokan di Jalan E.Z. Muttaqin, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Insiden berdarah itu berlangsung pada Minggu (30/8/2026) dini hari sekitar pukul 02.15 WIB. Korban saat itu tengah berboncengan tiga menggunakan sepeda motor Honda Beat berknalpot brong bersama dua rekannya, ZG (18) dan RA (17).
Ketika melintasi lokasi kejadian, rombongan korban diserang sekelompok orang yang belum teridentifikasi. IMM yang berada di posisi paling depan kendaraan menjadi sasaran pemukulan hingga terkena hantaman benda tumpul di bagian kepala.
Hantaman itu membuat korban seketika hilang kesadaran di tempat. Melihat kondisi IMM yang kritis, ZG dan RA langsung melarikannya ke Rumah Sakit Hermina Tasikmalaya demi mendapatkan pertolongan medis.
Namun, setelah berjuang selama beberapa hari dalam perawatan intensif, nyawa korban tidak terselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (2/9/2026).
Aparat kepolisian dari Polres Tasikmalaya Kota kini tengah mendalami peristiwa ini. Sejumlah tindakan kepolisian telah dilakukan, mulai dari mendatangi lokasi, melakukan olah TKP, hingga mengumpulkan keterangan dari para saksi kunci. Terbaru, polisi melakukan autopsi terhadap jenazah korban.
Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya Kota AKP Januar Rangga Fardhela mengatakan, pihaknya langsung bergerak melakukan penyelidikan setelah menerima laporan mengenai kejadian tersebut.
"Kami masih melakukan penyelidikan terkait dugaan bentrok antara anggota salah satu geng motor dengan sekelompok orang tidak dikenal. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk dua rekan korban yang berada di lokasi saat kejadian," ujar Januar, Kamis (3/9/2026).
Saat ini tim penyidik masih mengumpulkan deretan barang bukti guna merangkai motif sekaligus mengidentifikasi para pelaku yang terlibat. Pihak kepolisian juga meminta partisipasi aktif dari warga yang memiliki informasi sekecil apa pun terkait peristiwa tersebut untuk segera melapor.
Peristiwa memilukan ini menambah daftar panjang kekhawatiran masyarakat terhadap maraknya aksi geng motor yang rentan memicu aksi kriminalitas di wilayah Kota Tasikmalaya.
Kepolisian menegaskan bakal mengusut tuntas kasus ini dan memproses hukum para pelaku tanpa tebang pilih. "Kami masih berusaha menyelidiki, jika masyarakat memiliki informasi bisa dilaporkan kepada kami," kata Januar.
Gempa M 2,1 Guncang Sukabumi
Gempa bumi tektonik dengan magnitudo 2,1 mengguncang wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026) sekitar pukul 11.24 WIB.
Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang Hartanto mengatakan, hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki parameter pemutakhiran dengan magnitudo M 2,3. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 6.73 LS dan 106.60 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 26 km barat daya Kota Bogor, Jawa Barat, pada kedalaman 3 km.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif," kata Hartanto dalam keterangan yang diterima detikJabar.
Berdasarkan laporan dari masyarakat, Hartanto menyebutkan jika gempa bumi ini dirasakan di wilayah Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, dengan Skala Intensitas II MMI. Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.
"Namun hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan sebagai dampak gempa bumi tersebut," ungkapnya.
"Hingga pukul 11.45 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan," tambahnya.
Pihaknya mengimbau kepada warga agar tidak terpengaruh dengan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
"Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi," pungkasnya.
JPO Baru Bakal Berdiri di Depan SMKN 9 Bandung
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) merencanakan pembangunan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. Pembangunan JPO dilakukan untuk membuat jalur itu lebih aman bagi pejalan kaki dan kalangan pelajar.
Pembangunan JPO di Jalan Soekarno-Hatta nantinya akan dilakukan oleh Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Provinsi Jawa Barat. Saat ini, persiapan untuk melakukan konstruksi pembangunan sedang dilakukan.
"Saat ini DBMPR sedang proses persiapan perencanaan teknis," ujar Kepala DBMPR Jabar, Agung Wahyudi, Kamis (3/9/2026).
Menurut Agung, untuk saat ini pihaknya hanya akan membangun satu JPO di jalan nasional tersebut. Ia menyebut pembangunan akan mulai dilakukan setelah proses perencanaan teknis tuntas.
"JPO yang akan dibangun direncanakan sebanyak 1 buah," katanya.
Ia menjelaskan, JPO yang dibangun akan diprioritaskan sebagai fasilitas umum yang menunjang aktivitas masyarakat, khususnya pelajar. Adapun lokasinya direncanakan berada di depan SMKN 9 Bandung.
"Titik Lokasi Pembangunan JPO diprioritaskan untuk fasilitas umum terutama sekolah yang berada di Jalan Soekarno Hatta, dimana direncanakan berada di depan SMK Negeri 9 Bandung," jelasnya.
Pemprov Jabar sebelumnya mengatakan, pembangunan JPO di Jalan Soekarno-Hatta harus memerlukan izin serta berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Sebab, ruas jalan itu berada dalam pengelolaan Kementerian Pekerjaan Umum.
"Karena ini kan ada beberapa komunikasi ya dengan pusat, dengan pengelola Jalan Soekarno-Hatta yang dikelola oleh Kementerian PU. Namun kami juga memastikan bahwa langkah-langkah cepat itu hari ini sudah dilakukan oleh Dishub dan Bina Marga berkolaborasi dengan jajaran Pemkot Bandung," ungkap Kepala Diskominfo Jabar, Adi Komar.
Wanti-wanti Ancaman Demam Berdarah di Bandung
Dinas Kesehatan (Dinkes) mewanti-wanti warga Kota Bandung soal potensi penyebaran penyakit demam berdarah (DBD). Meski masuk musim kemarau, penyebaran penyakit yang dibawa nyamuk Aedes aegypti bisa timbul karena faktor kebersihan di lingkungan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bandung Dadan Mulyana Kosasih mengatakan, nyamuk pembawa penyakit demam berdarah masih bisa berpotensi muncul meski masuk musim kemarau.
"Kalau lihat dari cuaca perindukan nyamuknya, mungkin karena musim kering, dia tidak terlalu banyak. Tapi nanti begitu ada hujan, nah si jentik-jentik nyamuk yang tersisa itu kena air dia bisa cepat menetas nantinya," kata Dadan, Kamis (3/9/2026).
Ia menyatakan, berdasarkan hasil penelitian, nyamuk Aedes aegypti tumbuh lebih cepat saat musim kemarau. Sehingga menurutnya, potensi sebaran DBD masih bisa terjadi meski belum masuk musim penghujan.
"Kalau dari penelitian, si periode pertumbuhan jentik nyamuk itu menjadi nyamuk kalau di musim panas dia akan lebih cepat dibanding musim hujan. Jadi makanya saya bilang, risiko demam berdarah tetap ada," ungkapnya.
Berdasarkan data Dinkes Kota Bandung, puncak kasus demam berdarah tahun lalu terjadi di bulan Agustus. Namun untuk saat ini, ia menyatakan bahwa kasusnya mengalami penurunan meski tidak merinci berapa jumlah sebarannya.
"Saya angka persisnya lupa ya, tapi kurang lebih 50 persen lah penurunannya dari tahun lalu. Ini kalau dibandingkan di periode yang sama. Jadi kalau secara kasus, kita menurun," ujarnya.
Dadan pun mengimbau kepada warga untuk menerapkan kebiasaan hidup sehat di rumah. Yang terpenting, tempat penampungan air bisa dibersihkan secara berkala untuk mencegah munculnya nyamuk pembawa demam berdarah.
"Jadi jangan sampai ada sampah-sampah yang menumpuk, kemudian penampungan air. Kalau yang suka nampung air, agar ditutup. Terus kemudian tempat penampungan air kita sikat, kita bersihkan," pungkasnya.
37 Kios Pasteur Rata dengan Tanah
Puluhan kios dan lapak pedagang di Jalan Dr. Djunjunan atau Jalan Pasteur, Kota Bandung, terdampak penertiban. Kios-kios di sana telah dibongkar untuk kebutuhan penataan trotoar.
Pantauan detikJabar, Kamis (3/9/2026), sejumlah warga masih membersihkan puing-puing kios mereka. Berdasarkan informasi, kios tersebut dibongkar tim gabungan Satpol PP Jawa Barat pada Rabu (2/9) kemarin.
Namun, pembongkaran kios dan lapak pedagang di kawasan Pasteur itu memunculkan protes dari pedagang karena mereka tidak mendapat kompensasi atas pembongkaran tersebut.
"Anak saya empat, kang. Kalau warung saya sekarang dibongkar, saya mau usaha ke mana. Kompensasi juga enggak ada sama sekali," kata Ari, salah seorang pedagang saat ditemui detikJabar.
Ia hanya bisa pasrah saat melihat warungnya dirobohkan ketika tim datang melakukan penertiban. Meski menyadari warung usahanya melanggar aturan, Ari meminta solusi dari pemerintah untuk kehidupannya ke depan.
"Kondisi ekonomi sekarang lagi kayak gini saya mau nyari usaha ke mana lagi. Ayo lah atuh, ke rakyat kecil mah jangan semena-mena gini. Minimal solusinya buat kita apa, jangan dibiarin kita mau usaha," ucapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Aji, pedagang lainnya. Masalahnya, kata dia, selain tidak ada kompensasi, pedagang di sana harus mengeluarkan biaya lagi untuk membongkar sendiri tempat jualannya.
"Kalau sosialisasi ada sih, cuma masyarakat mempertanyakan bagaimana masalah kompensasinya. Karena pembongkaran itu kan memerlukan biaya, sekarang tiba-tiba dari pihak pemerintah harus dibongkar," katanya.
"Kalau sebagai masyarakat, ya kita ikuti saja. Cuma pengertiannya, pemerintah bagaimana ini? Dari masyarakat ya seperti itu Masalah relokasi juga belum ada, pemerintah hanya menyuruh dibongkar saja," tambahnya.
Berdasarkan informasi, total ada 37 bangunan yang dibongkar. Aji pun berharap ada solusi dari pemerintah agar para pedagang bisa kembali melanjutkan usahanya.
"Kalau bagi masyarakat, memang diharapkan seperti itu. Karena kami sudah mengikuti aturan pemerintah. Apa yang diperintahkan atau diinstruksikan pemerintah, masyarakat memang mengikuti. Cuma pemerintah bagaimana solusinya kepada masyarakat," pungkasnya.
Simak Video "Video Pramono soal Wabah Super Flu: Belum Ada dan Semoga Nggak Kena"
[Gambas:Video 20detik] (bba/mso)
