Viral Kreator Malaysia Kaget Tarif Konten Rumah Pengabdi Setan

Viral Kreator Malaysia Kaget Tarif Konten Rumah Pengabdi Setan

Yuga Hasani - detikJabar
Selasa, 01 Sep 2026 12:22 WIB
Konten kreator Malaysia saat berkunjung ke Rumah Pengabdi Setan di Kabupaten Bandung
Konten kreator Malaysia saat berkunjung ke Rumah Pengabdi Setan di Kabupaten Bandung (Foto: Repro/Yuga Hasani).
Kabupten Bandung -

Seorang konten kreator asal Malaysia, Raja Jerome, dikenakan tarif fantastis saat memasuki objek wisata rumah Pengabdi Setan di Perkebunan Kertamanah, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Video peristiwa tersebut viral di media sosial.

Dari video yang diterima detikJabar, terlihat konten kreator tersebut mendatangi objek wisata rumah yang pernah dijadikan latar film Pengabdi Setan. Sejak memasuki area pintu masuk, ia merekam perjalanannya menggunakan kamera.

Tampak konten kreator tersebut berjalan ke arah loket tiket. Ia kemudian diarahkan untuk melakukan pembayaran di area pintu masuk. Namun, konten kreator tersebut terkaget-kaget saat harga tiket masuk untuk dirinya dipatok sangat mahal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Halo bang, tiket berapa ? 15 ribu yah?," tanya Jerome kepada petugas tiket.

"Mau ngonten yah? Kalau ngonten beda (harganya). Di lihat dari followers dan subscriber nya," timpal seorang petugas tiket.

ADVERTISEMENT

Petugas tiket tersebut kemudian mempertanyakan akun yang digunakan oleh konten kreator Malaysia itu. Jerome lantas memperlihatkan akun TikTok miliknya yang memiliki pengikut sebanyak 27 ribu.

"Lihat akun nya dulu. (Follower) 27 ribu di TikTok. Oh di 600 ribu. Dari Malaysia," tanya sang penjaga tiket.

Petugas tersebut langsung menjelaskan harga tiket masuk untuk warga biasa yang tidak membuat konten. Menurutnya, terdapat perbedaan harga berdasarkan kebijakan pengelola objek wisata tersebut.

"Kalau kunjungan biasa, foto-foto, video buat story Instagram aja dengan durasi kurang dari satu menit, boleh itu tiketnya Rp15 ribu, kalau mancanegara Rp25ribu. Kalau buat ngonten, beda (harganya)," ucap penjaga tiket.

"Oh kalau gitu saya masuk biasa aja lah," balas Jerome.

Menanggapi permasalahan tersebut, Camat Pangalengan Vena Andriawan mengatakan saat ini petugas dari kecamatan telah melakukan pengecekan ke lokasi. Hal tersebut dilakukan untuk memeriksa kebenaran informasi yang beredar.

"Setelah petugas kami ngecek ke sana, didapatkan informasi bahwa memang tarif itu sudah tertera lama dan bahkan ada di akunnya gitu ya. Jadi saya lihat ini benar apa nggak gitu ya. Karena kalau tidak berdasar kan pungli," ujar Vena kepada awak media, Selasa (1/9/2026).

Pihaknya menjelaskan bahwa di lokasi objek wisata tersebut telah tertera kebijakan harga tiket masuk dengan nominal Rp600 ribu hingga Rp15 juta. Harga tersebut dikenakan untuk prewedding, konten media sosial, photoshoot produk, hingga syuting film.

"Ternyata ada dasarnya, termasuk kode prawedding segala macam, semua tertera. Jadi ketika terms and condition-nya disepakati oleh yang pengelola destinasi maupun yang melaksanakan, terjadi kesepakatan ya sudah. Tidak menjadi permasalahan ya," katanya.

Vena menduga pengunjung tersebut tidak mengetahui informasi tarif tersebut sehingga terkejut. Saat ini, pihaknya terus berupaya berkomunikasi dengan pengelola rumah Pengabdi Setan.

"Menurut mereka pengelola itu menyampaikan begini, Pak vlogger itu ataupun influencer atau siapapun ketika mereka ngonten dan kontennya disukai ya kan mereka dapat duit Pak. Masa mereka dapat duit kita enggak?. katanya pengelola," jelasnya.

"Ya saya bilang ya sah-sah saja, sepanjang memang dua-duanya saling mengerti ya, saling menguntungkan," tambahnya.

Menurutnya, setiap orang yang masuk ke sebuah tempat harus mengikuti aturan yang berlaku di wilayah tersebut. Apalagi, kata dia, pihak pengelola memerlukan biaya operasional untuk merawat objek wisata itu.

"Kalau dia nggak mau ya silakan gitu ya. Kalau mau ya silakan disepakati juga. Kalau saya lihat seperti itu," ucapnya.

Vena mengungkapkan bahwa kehadiran konten kreator di lokasi wisata sebenarnya menguntungkan destinasi tersebut karena bisa dipromosikan secara langsung di media sosial.

"Tapi di satu sisi dia juga dapat keuntungan. Jadi simbiosis mutualisme sebetulnya yang terjadi seperti itu. Cuma mungkin karena orang nggak tahu ya, karena kan nggak di publik ditaruh papan pengumumannya juga," bebernya.

Setelah melakukan pengecekan, Vena menjelaskan bahwa pengelolaan objek wisata tersebut telah berjalan sejak tahun 2020 lalu. Pengelolaan sepenuhnya dilakukan oleh koperasi yang dinaungi oleh PT Perkebunan Nusantara VIII, Kebun Kertamanah.

"Artinya kan sekarang teh yang mengelolanya teh berarti koperasi yang bekerja sama dengan PTPN," kata Vena.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Konten Kreator-Aktivis Lapor Polisi, Diteror Usai Kritik soal Sumatera"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads