Angin Segar Bagi Warga Kampung Sadang KBB, Jembatan Apung Segera Dibangun

Angin Segar Bagi Warga Kampung Sadang KBB, Jembatan Apung Segera Dibangun

Whisnu Pradana - detikJabar
Senin, 31 Agu 2026 15:25 WIB
Siswa Bandung Barat menggunakan rakit demi bisa sekolah.
Siswa Bandung Barat menggunakan rakit demi bisa sekolah (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar).
Bandung Barat -

Pembangunan jembatan apung di Kampung Sadang, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB) tampaknya tinggal menunggu waktu usai viralnya aksi bocah SD berangkat sekolah naik rakit.

Ketua RT 05 Kampung Sadang, Agus Sumpena, mengatakan ada beberapa orang yang datang untuk melakukan pengukuran dan memasang patok di lokasi tempat rakit dan perahu warga biasa bersandar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Betul, kemarin sudah ada yang datang untuk memasang patok, terus diukur katanya untuk pembangunan jembatan," kata Agus saat dikonfirmasi, Senin (31/8/2026).

Tindak lanjut tersebut menjadi angin segar bagi warga yang sejak lama menantikan keberadaan jembatan apung di kampung mereka. Jika jadi berdiri, jembatan itu akan menyambungkan Kampung Sadang dengan Kampung Gombong yang terpisah Waduk Saguling.

ADVERTISEMENT

"Memang warga sudah lama ingin ada jembatan, karena selama ini anak-anak ke sekolah naik rakit. Meskipun ada jalur darat, tapi harus memutar cukup jauh. Mudah-mudahan bisa segera terealisasi," kata Agus.

Bagi bocah Kampung Sadang, rakit menjadi moda transportasi alternatif agar bisa bersekolah. Jika menempuh perjalanan darat, rute yang mereka tapaki lebih memutar dengan waktu tempuh sekitar 30 menit berjalan kaki atau 15 menit menggunakan sepeda motor.

"Saya dan beberapa orang di sini, setiap hari mulai dari pagi dan siang hari mengantarkan anak-anak ke sekolah naik rakit. Saat ini, yang naik rakit ada 16 anak, kalau dulu lebih bisa sampai puluhan," kata Agus.

Penyeberangan menggunakan rakit demi mengantarkan bocah-bocah mengenyam pendidikan dasar itu sudah berlangsung sejak tahun 90-an, tepat setelah Waduk Saguling diresmikan pemerintah di zaman Presiden Soeharto.

Sejak saat itu, rakit menjadi andalan. Moda transportasinya berkembang dengan perahu kecil atau sampan. Ada yang digerakkan dengan dayung, namun jika pemiliknya mampu, perahu akan dilengkapi dengan mesin.

"Nah dulu itu, orangtua antar anaknya masing-masing pakai rakit terus perahu. Karena semakin banyak, akhirnya pihak sekolah membuatkan rakit berukuran agak besar yang bisa mengangkut 20 anak. Jadi sampai sekarang itu berlanjut, dikoordinir sama warga pemberangkatannya," kata Agus.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Melihat Jembatan Apung di Sidoarjo, Jadi Akses Vital Menuju Mojokerto"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads