Fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang di Kota Sukabumi membawa dampak kesehatan yang kontradiktif. Di saat penyakit langganan musim kemarau seperti Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), diare, dan pneumonia mulai mereda, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) justru merangkak naik di tengah cuaca panas ekstrem.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi per minggu ke-33 atau Agustus 2026 mencatat, angka ISPA turun menjadi 948 kasus dari sebelumnya 1.020 kasus pada Juli. Tren serupa terlihat pada diare yang menyusut dari 360 kasus menjadi 303 kasus. Penurunan paling drastis terjadi pada pneumonia yang kini hanya menyentuh 30 kasus, setelah sempat bertahan di angka 45-47 kasus dalam tiga bulan terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, melandainya berbagai penyakit tersebut tidak diikuti oleh DBD. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Sukabumi, Denna Yuliavina, memberikan peringatan serius mengenai anomali ini.
"Penyakit lain kalau menurun tentu kita bahagia. Tapi yang naik ini DBD justru. Masyarakat tahunya musim hujan itu DBD naik, padahal justru harus waspada di musim kemarau ini," ungkap Denna saat ditemui detikJabar, Senin (31/8/2026).
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, total akumulasi DBD di Kota Sukabumi telah mencapai 402 kasus. Grafik bulanan menunjukkan eskalasi yang konsisten yakni 49 kasus pada Mei, 61 kasus pada Juni, dan melonjak hingga 83 kasus pada Juli serta Agustus. Secara demografis, penyakit ini banyak menyerang usia produktif, mulai dari pelajar hingga pekerja. Kecamatan Citamiang menjadi titik dengan sebaran tertinggi akibat kepadatan pemukiman yang sangat rapat.
Pengaruh El Nino dan Akselerasi Daur Hidup Nyamuk
Denna menjelaskan bahwa suhu udara yang meningkat akibat El Nino mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti. Cuaca panas membuat masa inkubasi telur nyamuk menjadi jauh lebih singkat dari biasanya. Nyamuk betina dalam sekali bertelur mampu menghasilkan 300 ribu butir telur yang memiliki daya tahan hingga enam bulan di tempat kering. Telur-telur ini akan langsung menetas begitu terkena sedikit genangan air, termasuk di sela-sela paving block saat terjadi hujan sesaat.
"Ada peningkatan suhu di Kota Sukabumi akibat cuaca yang makin panas. Semakin tinggi suhunya, penetasan telur nyamuk menjadi jauh lebih cepat seperti telur ayam. Jika kondisi normal butuh waktu 6 sampai 12 hari, di suhu panas El Nino saat ini hanya butuh waktu 5 hari atau seminggu untuk menetas," jelas Dena.
Menyikapi situasi ini, Dinkes meminta warga tidak salah kaprah mengenai penggunaan fogging atau pengasapan. Denna menegaskan bahwa fogging adalah langkah terakhir (terminal phase) yang dilakukan hanya jika ditemukan kasus aktif berdasarkan Penyelidikan Epidemiologi (PE) Puskesmas, bukan sebagai tindakan pencegahan rutin.
"Masyarakat sering terkecoh iklan, menganggap fogging itu pencegahan (preventif). Padahal bukan. Fogging memakai bahan kimia tinggi yang tidak boleh asal semprot. Harus ada izin dan rekomendasi Dinkes karena bisa mencemari lingkungan serta berbahaya bagi manusia," tegasnya.
Strategi yang paling ampuh tetap bertumpu pada Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui Gerakan 3M Plus serta Gerakan 1 Rumah 1 Jentik. Mengingat daya jelajah nyamuk yang mencapai 100 meter, kebersihan lingkungan harus dilakukan secara kolektif.
"Nyamuk ini aktif menggigit pada pagi hingga siang hari saat kita beraktivitas. Karena daya jelajah nyamuk mencapai 100 meter, kebersihan tidak bisa hanya satu rumah. Semua tetangga harus ikut bersih-bersih," tambahnya.
Langkah 'Plus' lainnya yang dianjurkan meliputi penggunaan losion antinyamuk, pemasangan kelambu, memelihara ikan pemakan jentik, hingga menanam tumbuhan pengusir nyamuk seperti serai dan lavender.
Dinkes juga mengimbau warga segera mendatangi Puskesmas jika mengalami demam yang tidak turun dalam 1-2 hari. Deteksi dini sangat vital untuk menghindari Dengue Shock Syndrome (DSS) yang mematikan, terutama pada bayi dan balita. Saat ini, layanan pemeriksaan DBD tersedia secara gratis di 15 Puskesmas di seluruh Kota Sukabumi.
