Kisah Sedih Pony, Orang Utan yang Dipaksa Jadi Pekerja Seks

Kisah Sedih Pony, Orang Utan yang Dipaksa Jadi Pekerja Seks

Aisyah Kamaliah - detikJabar
Minggu, 30 Agu 2026 22:00 WIB
Kondisi Pony pada tahun 2015 (Dok. BOSF)
Foto: Kondisi Pony pada tahun 2015 (Dok. BOSF)
Jakarta -

Detikers, pernah membayangkan jika seekor orang utan betina dipaksa untuk menjadi pekerja seks komersial alias PSK? Bukan dongeng, kisah seperti itu benar-benar pernah terjadi.

Majikannya adalah seorang manusia. Yang bikin kaget, pelanggannya juga manusia. Kisah ini terjadi di Indonesia dan pernah bikin geger.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari detikINET, orang utan itu bernama Pony. Jejak pilu Pony bermula di sebuah rumah lokalisasi di Kalimantan Tengah pada tahun 2001 silam. Operasi penyelamatannya berlangsung dramatis dengan pengawalan polisi bersenjata AK-47.

Saat ditemukan, kondisi primata malang ini sungguh di luar nalar manusia normal. Pony terbaring di atas kasur dengan tangan terikat rantai besi yang dingin.

ADVERTISEMENT

Tim Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) kemudian mengevakuasinya ke Nyaru Menteng pada 13 Februari 2001. Tubuhnya sangat memprihatinkan, tanpa sehelai rambut karena dicukur habis dan penuh luka gigitan nyamuk.

Perlahan namun pasti, tim medis BOSF memberikan perawatan intensif untuk memulihkan trauma fisiknya. Pony mulai belajar bersosialisasi dan masuk ke Sekolah Hutan demi mengasah kembali insting liarnya.

Dua tahun lamanya Pony berjuang keras mempelajari cara bertahan hidup di alam bebas. Keterampilannya dinilai meningkat pesat hingga ia dianggap layak naik kelas ke tahap pra-pelepasliaran di Pulau Bangamat.

Sayangnya, bayang-bayang masa lalu seolah belum sepenuhnya lepas dari ingatan Pony. Di pulau itu, ia justru lebih banyak termenung di tanah dan enggan mencari makan sendiri secara alami.

Pony seolah kehilangan gairah hidup dan hanya menunggu jatah buah di platform pemberian pakan. Akibat dinilai gagal bertahan, ia terpaksa dikembalikan ke kompleks sosialisasi Nyaru Menteng pada Juli 2010.

Harapan baru muncul saat Pony dipindahkan ke Pulau Kaja pada 29 Juni 2013 dengan berat badan 60 kilogram. Di tempat baru ini, ia sempat menunjukkan perubahan perilaku yang sangat menggembirakan.

Pony mulai cekatan memanjat pohon, membangun sarang yang kokoh, hingga menjelajah ke sudut-sudut pulau. Ia tampak benar-benar kembali menjadi orang utan liar yang mandiri dan tangguh.

Namun, kebahagiaan itu rupanya hanya bertahan sekejap mata, tepatnya sekitar tiga bulan saja. Memasuki September 2013, kondisi kesehatan Pony mendadak merosot tajam hingga ia tampak sangat lesu.

Tim medis menemukan fakta menyedihkan berupa luka-luka baru di tubuhnya dan tanda-tanda malnutrisi kronis. Berat badannya anjlok drastis hingga kehilangan 16 kilogram dalam waktu singkat.

Pony harus kembali menjalani perawatan intensif selama sebulan dan pengawasan medis ketat selama setahun penuh. Sejak Agustus 2014 hingga detik ini, ia akhirnya menetap di kompleks sosialisasi Nyaru Menteng.

Primata yang diperkirakan lahir tahun 1996 ini sekarang telah memasuki usia kepala tiga. Meski fisiknya membaik, luka batin akibat kekejaman masa lalu mungkin tak akan pernah benar-benar sembuh.

Kisah kelam Pony adalah cermin retak bagi kemanusiaan kita semua. Kita selalu punya pilihan untuk menjadi pelindung bagi sesama makhluk ciptaan Tuhan, bukan menjadi penghancurnya.

Artikel ini telah tayang di detikINET

Halaman 2 dari 2
(ask/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads