Seorang warga negara Indonesia berusia 32 tahun ditangkap oleh otoritas keamanan di Bandara Changi, Singapura. Pria tersebut kedapatan menyembunyikan sebilah pisau di dalam sepatunya saat menjalani pemeriksaan keamanan di area pemeriksaan terpusat Terminal 4 bandara tersebut.
Dillansir detikTravel dari The Straits Times, Minggu (30/8/2026), Kepolisian Singapura menyatakan bahwa insiden tersebut terjadi pada hari sebelumnya. Pria itu menyembunyikan pisau sepanjang 19,5 sentimeter dengan panjang bilah 12 sentimeter di dalam kaus kakinya. Senjata tajam tersebut dibungkus dengan beberapa lapis kantong plastik dan direkatkan menggunakan selotip.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petugas keamanan penerbangan yang mengoperasikan mesin pemindai sinar-X mendeteksi keberadaan benda tajam mencurigakan di dalam sepatu kanan pria tersebut. Petugas kemudian menginstruksikan pria itu untuk melepas sepatunya sebelum melanjutkan pemeriksaan melalui jalur pemindaian.
Pria tersebut selanjutnya dibawa ke ruang pemeriksaan khusus. Di lokasi tersebut, petugas menemukan sebilah pisau beserta sarungnya yang disembunyikan secara sengaja di dalam sepatu yang bersangkutan.
Saat ini, pria tersebut tengah menjalani proses hukum setelah didakwa atas kepemilikan senjata ofensif di tempat umum. Jika terbukti bersalah, ia terancam hukuman penjara maksimal tiga tahun dan hukuman cambuk sedikitnya enam kali.
Kepolisian Singapura menegaskan bahwa pihaknya menindak serius segala bentuk upaya membawa senjata berbahaya ke ruang publik.
"Para pelancong diingatkan bahwa siapa pun yang ditemukan memiliki senjata ofensif tanpa tujuan yang sah akan ditindak tegas sesuai dengan hukum yang berlaku," kata kepolisian.
Bandara Changi Singapura merupakan salah satu bandara tersibuk dan terbaik di dunia. Berdasarkan data yang tercantum dalam laporan tersebut, Changi telah melayani 34,8 juta penumpang pada paruh pertama tahun 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 0,4 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, meskipun terdapat gangguan perjalanan akibat krisis di Timur Tengah.
Artikel ini telah tayang di detikTravel
(fem/orb)
