Hamparan sawah di Ranca, Desa Imbanagara Raya, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terlihat hijau dan segar saat pagi hari. Meski kemarau, sawah itu tak pernah kering karena dulunya adalah rawa. Para petani masih tetap bisa menanam kembali setelah panen ketika di tempat lain kekeringan.
Di antara petak-petak tanaman padi yang mulai tumbuh, tiga anak dengan baju kaus sederhana tampak asyik menyusuri pematang sambil mengamati genangan dan saluran air.
Ilham, Mamad Syarifudin, dan Dani Nuryaman yang semuanya berusia 13 tahun, sengaja menghabiskan libur akhir pekan dengan mencari ikan gabus di area persawahan tersebut, Minggu (30/8/2026) pagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan tangan yang sesekali masuk ke dalam air berlumpur, ketiganya dengan serius mencari ikan yang bersembunyi di sela-sela tanaman padi. Mereka terlihat berkonsentrasi, gerakan di dalam air diperhatikan dengan saksama, berharap ada ikan gabus yang berhasil ditangkap.
Bagi ketiganya, kegiatan sederhana itu menjadi cara menyenangkan untuk mengisi waktu libur. Alih-alih hanya bermain di rumah, mereka memilih turun langsung ke sawah dan menikmati suasana alam pedesaan.
Ikan gabus yang berhasil ditemukan nantinya tidak semuanya untuk dikonsumsi. Sebagian akan dipelihara sebagai hiasan di dalam akuarium. Sementara ikan yang ukurannya lebih besar akan dijual kepada warga yang memang membutuhkan.
"Untuk jadi hiasan di akuarium," ujar Ilham, salah seorang anak, kepada detikJabar.
Di tengah hijaunya hamparan padi, aktivitas ketiga anak itu menjadi pemandangan tersendiri. Lumpur, air sawah, dan ikan gabus justru menjadi bagian dari keseruan mereka menikmati Minggu pagi.
Bagi Ilham, Mamad Syarifudin, dan Dani Nuryaman, berburu ikan di sawah bukan sekadar mencari hasil tangkapan. Ada kesenangan tersendiri ketika mereka bisa menghabiskan waktu bersama, bermain di alam terbuka.
"Kalau hari libur saja, main ke sawah berburu ikan gabus. Memang sedang viral untuk disimpan di akuarium," ungkap Mamad, anak lainnya.
Mamad mengaku tidak mengetahui sejak kapan ikan gabus mulai banyak ditemukan di sawah Ranca. Namun, menurutnya, ikan tersebut seolah tidak pernah habis meski sudah beberapa pekan mereka buru bersama teman-temannya.
Dalam sekali berburu, Mamad dan dua temannya biasanya bisa mendapatkan hingga 10 ekor ikan gabus. Hasil tangkapan itu kemudian dibagi rata karena mereka mencarinya secara bersama-sama.
"Enggak tahu dari mana asalnya. Sudah beberapa minggu dicari, tapi ikan gabusnya masih ada terus. Kalau sekali nyari biasanya dapat sampai 10 ekor," ujar Mamad.
Kegiatan berburu ikan gabus juga tidak hanya dilakukan di area persawahan. Ketiganya terkadang mendapat kesempatan menangkap ikan gabus di kolam milik warga. Para pemilik kolam bahkan mempersilakan mereka menangkap ikan tersebut karena gabus dikenal memangsa ikan-ikan kecil yang dipelihara.
"Kadang juga cari di kolam warga. Kalau ada ikan gabus, biasanya dibolehkan ditangkap karena gabus suka makan ikan kecil," katanya.
Ikan gabus yang berukuran kecil biasanya mereka pelihara untuk mengisi akuarium. Sementara jika mendapatkan ikan berukuran besar, mereka memilih menjualnya kepada orang yang membutuhkan.
Ikan gabus berukuran besar cukup diminati karena dipercaya memiliki manfaat bagi tubuh. Salah satunya kerap dikonsumsi untuk membantu proses pemulihan setelah menjalani operasi atau setelah melahirkan.
"Kalau dapat yang besar biasanya dijual. Katanya ikan gabus banyak khasiatnya," ujarnya.
Meski begitu, mendapatkan ikan gabus berukuran besar bukan perkara mudah. Selama berburu di sawah dan kolam warga, mereka lebih sering mendapatkan ikan berukuran kecil hingga sedang.
(iqk/iqk)
