Bencana gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores menyisakan luka mendalam bagi warga di pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di tengah guncangan gempa susulan dan cuaca ekstrem, Sri Yuliawati, S.Kep (Ners Yuli), perawat asal Puskesmas Ciemas, Kabupaten Sukabumi, rela menembus kawasan terisolasi demi menyembuhkan para penyintas yang sempat belasan hari tanpa sentuhan medis.
Mengenakan seragam merah marun DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Sukabumi, Yuli diterjunkan ke garis depan bencana bersama jejaring relawan Yayasan Jampang Peduli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Titik misinya berada di pedalaman terpencil: Kampung Nu, Desa Compang Soba, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur.
"Posisi kami berada di pedalaman pegunungan dengan akses dan medan yang sangat sulit dijangkau. Situasi sinyal sulit sehingga menyulitkan untuk komunikasi," kata Yuli dalam rekaman videonya yang diterima detikJabar, Sabtu (29/8/2026).
Kondisi warga di posko pengungsian Kampung Nu sangat memprihatinkan. Hingga hari ke-12 pascabencana gempa Flores, ratusan penyintas di perbukitan Elar ini nyaris luput dari pelayanan medis luar lantaran rusaknya akses transportasi.
Nestapa warga kian berat karena posko darurat mereka dihantam cuaca pegunungan yang sangat dingin. Angin kencang berpadu dengan suhu beku yang anjlok ke rentang 9 hingga 16 derajat Celsius merontokkan daya tahan tubuh para pengungsi.
"Setelah pasca-12 hari bencana, mereka belum tersentuh oleh pelayanan kesehatan karena sulitnya akses menuju ke sini. Kami menjemput bola untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Kampung Nu," tutur Yuli saat dihubungi detikJabar melalui aplikasi pesan.
Dari asesmen awal, keluhan kesehatan merebak luas. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia menjadi yang paling terdampak. Yuli mencatat puluhan pasien mengeluhkan ISPA, batuk-pilek, febris (demam tinggi), dispepsia (nyeri lambung), mialgia (pegal linu), dermatitis, hingga Low Back Pain (LBP) akibat tidur beralaskan tanah dingin.
"Kondisi mereka masih dalam keadaan trauma sehingga masih bertahan untuk tinggal di pengungsian," jelas Yuli.
Kesulitan pengungsi kian berlipat karena pasokan air bersih terputus. Warga dan tim relawan harus menuruni tebing terjal sejauh kurang lebih 1 kilometer menuju sumber mata air pegunungan dan sumur gali untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Dilema Rujukan Pasien di Pengungsian
Di tengah fasilitas posko yang serba darurat beralaskan terpal merah, Yuli dihadapkan pada situasi genting. Sejumlah korban gempa semestinya dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap, namun medan yang hancur membuat opsi evakuasi menjadi pertimbangan berat.
"Kesulitannya ada beberapa kasus yang harus ditindaklanjuti. Tetapi keterbatasan mereka saat dalam bencana ini menjadi pertimbangan yang cukup sulit untuk diputuskan. Dalam hal ini, kami sudah komunikasikan dengan petugas setempat untuk ditindaklanjuti," ungkapnya.
Dengan senter kepala terpasang di dahi dan kotak-kotak plastik obat darurat, Yuli bersama tim menyisir satu per satu tenda pengungsian. Berkoordinasi dengan puskesmas setempat, tim medis dari Sukabumi ini bergerak ke kantong-kantong pemukiman lain di wilayah Elar.
Menurut Yuli, sedikitnya 387 warga berhasil mendapatkan pertolongan medis langsung.
"Kp. Nu, Desa Compang Soba ada 84 jiwa, di Kp. Nao dan Kp. Toro 136 jiwa kemudian Kp. Dupa 93 jiwa dan di Kp. Reseh, Desa Sisir 74 jiwa," tuturnya merinci.
Tugas kemanusiaan di wilayah bencana bukan kali pertama bagi perawat pesisir selatan Sukabumi ini. Sebelumnya, Yuli juga aktif terjun bersama relawan Jampang Peduli ke berbagai musibah besar di tanah air, termasuk misi kemanusiaan di Aceh.
"Kesulitannya akses jalan, tapi dengan tekad kuat alhamdulillah berjalan lancar. Semoga pelayanan kami bisa memberikan manfaat dan meringankan beban masyarakat di sini," tutup Yuli.
Simak Video "Video Kemenkes: 105 Orang Meninggal Akibat Gempa NTT, 185 Ribu Jiwa Mengungsi"
[Gambas:Video 20detik] (sya/mso)
