Balai Kota Bandung menjadi salah satu bangunan bersejarah yang menyimpan jejak panjang perkembangan Kota Kembang. Gedung yang dahulu dikenal sebagai Gemeentehuis te Bandoeng ini berada di Jalan Wastukencana dan hingga kini berfungsi sebagai pusat pemerintahan sekaligus kantor Wali Kota Bandung.
Sebelum menjadi balai kota, bangunan ini merupakan milik Andries de Wilde yang membangunnya pada 1819 sebagai gudang kopi atau koffie pakhuis. Pada 1923, pemerintah Hindia Belanda mengambil alih bangunan tersebut seiring kebutuhan Bandung sebagai kota praja. Empat tahun kemudian, pemerintah merobohkan gudang kopi itu untuk membangun gedung balai kota baru.
Suasana Balai Kota Bandung. Foto: Bima Bagaskara |
Arsitek Ir Eh de Roo merancang bangunan baru tersebut dengan gaya art deco. Seiring meningkatnya kebutuhan perkantoran, pemerintah memperluas Balai Kota Bandung pada 1935 dengan menambahkan bangunan di bagian belakang yang menghadap Pieter Sijthoffpark, kini dikenal sebagai Taman Balai Kota.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bangunan karya Eh de Roo itu kemudian mendapat julukan Gedong Papak karena memiliki atap datar dan bentuk memanjang. Setelah Indonesia merdeka, gedung tersebut tetap berfungsi sebagai balai kota dan kantor Wali Kota Bandung. Pada 1980-an, pemerintah menambah dua gedung kembar di sisi kanan dan kiri untuk mendukung kebutuhan perkantoran.
Kawasan Balai Kota Bandung juga memiliki sejumlah ruang terbuka hijau, seperti Taman Dewi Sartika dan Taman Badak. Keberadaan bangunan bersejarah dan taman di sekitarnya membuat kawasan ini menjadi salah satu tempat yang merekam perjalanan panjang Kota Bandung, dari masa pemerintahan Hindia Belanda hingga sekarang.

