Sebanyak 115 lapak pedagang di Terminal Cicaheum, Kota Bandung, telah dibongkar. Pembongkaran dilakukan secara mandiri oleh pedagang lantaran fasilitas tersebut rencananya akan dialihfungsikan menjadi depo Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya.
Para pedagang juga mendapat kompensasi yang bervariasi, mulai dari Rp 7 juta, Rp 9 juta, hingga Rp 14 juta. Salah satunya adalah Rudi Rudini (35), pedagang kelontong yang menerima kompensasi senilai Rp 7,6 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat berbincang dengan awak media, Rudi mengaku sudah berjualan di Terminal Cicaheum selama hampir 20 tahun. Sembari malu-malu, ia menyebut kompensasi yang diterimanya terbilang kurang.
"Keinginannya sih bisa lebih yah, kurang, cuma ya gimana lagi," kata Rudi di depan warung kelontongnya yang telah dibongkar, Senin (24/8/2026).
Setelah pembongkaran ini, Rudi berencana akan beristirahat terlebih dahulu di kampung halamannya. Selama masa itu, ia akan mencoba mencari peluang baru demi bisa melanjutkan usaha dagangnya.
"Istirahat dulu sambil nyari usaha yang lain. Saya di sini kalau lagi rame bisa dapet Rp 400 ribu. Tapi selama terminal ditutup, itu udah turun sampe 80 persenan," ucapnya.
Pedagang lainnya, Sugiarti, juga mengeluhkan nilai kompensasi yang dia terima tidak seimbang dengan modal jualan. Sebab, untuk kios yang ia tempati sejak 2019, ia harus mengeluarkan uang senilai Rp 35 juta.
"Enggak sebanding sama modal sebetulnya, kalau ibu dapetnya Rp 18 juta. Pendapatan sehari-hari Rp 260-350 ribu, sekarang harus dibongkar," pungkasnya.
Simak Video "Menemukan Uniknya Spot Gembok Cinta, Bandung"
[Gambas:Video 20detik] (ral/mso)
